Senin, Agustus 10, 2009

Pendekatan dalam Pembelajaran PAI

Oleh Abdul Aziz | 19 Sya'ban 1430

Pembelajaran dan bimbingan guru dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. ”HM. Chatib Thaha, mendefinisikan pendekatan adalah cara pemrosesan subjek atas objek untuk mencapai tujuan. Pendekatan juga bisa berarti cara pandang terhadap sebuah objek persoalan, di mana cara pandang itu adalah cara pandang dalam konteks yang lebih luas” ( Ramayulis, 2005 : 127).


Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan pendidik untuk kegiatan pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam :

a. Pendekatan Pengalaman

Pendekatan ini merupakan pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan baik secara individual maupun kelompok.

Dalam pembelajaran ibadah misalnya, guru atau pendidik akan menemui kesulitan yang besar apabila mengabaikan pendekatan ini. Peserta didik harus mengalami sendiri ibadah itu dengan bimbingan gurunya. Belajar dari pengalaman jauh lebih baik dari pada hanya sekedar bicara, tidak pernah berbuat sama sekali. Pengalaman yang dimaksud di sini tentunya pengalaman yang bersifat mendidik. Memberikan pengalaman yang edukatif kepada peserta didik diarahkan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

b. Pendekatan Pembiasaan

Pendekatan ini dimaksudkan agar seseorang memiliki kebiasaan berbuat hal-hal yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Edi Suardi dalam bukunya, Pedagogik 2, menjelaskan bahwa ”kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi” ( Edi Suardi, tt : 123 ). Pembiasaan memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari.

c. Pendekatan Emosional

Emosi merupakan gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi tersebut berhubungan dengan masalah perasaan. Karena itu pendekatan emosional merupakan ”usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk ” ( Ramayulis, 2005 : 129 ).

Emosi berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang, oleh karena itu pendekatan emosional merupakan salah satu pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam. Metode pembelajaran dalam pendekatan emosional ini yang digunakan adalah metode ceramah, sosio drama atau bercerita.

d. Pendekatan Rasional

Pendekatan rasional merupakan sutu pendekatan yang mempergunakan rasio ( akal ) dalam memahami dan menerima suatu ajaran agama. Dengan mempergunakan akalnya seseorang bisa membedakan mana yang baik, mana yang lebih baik, atau mana yang tidak baik. Pembelajaran dengan melalui metode tanya jawab atau kerja kelompok, misalnya seorang guru bisa melakukan pendekatan rasional dengan memberikan peran akal dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran atau tuntunan agama.

e. Pendekatan Fungsional

Pendekatan ini merupakan upaya memberikan materi pembelajaran dengan menekankan kepada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dan bimbingan untuk melakukan shalat misalnya, diharapkan berguna bagi kehidupan seseorang, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan sosial. Melalui pendekatan fungsional ini berarti peserta didik dapat memanfaatkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini antara lain metode latihan, demonstrasi, dan pemberian tugas.

f. Pendekatan Keteladanan

Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan atau memberikan contoh yang baik. Guru yang senantiasa bersikap baik kepada setiap orang misalnya, secara langsung memberikan keteladanan bagi anak didiknya. Keteladanan pendidik terhadap anak didiknya merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena guru akan menjadi tokoh identifikasi dalam pandangan anak yang akan dijadikannya sebagai teladan dalam mengidentifikasikan diri dalam kehidupannya.

Kecenderungan anak untuk belajar melalui peniruan menyebabkan pendekatan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran. Bahkan manusia pada umumnya senantiasa cenderung meniru yang lainnya. Rasulullah SAW merupakan teladan yang baik bagi umat Islam, sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 21 :

لَقَدْ كَََا نَ لََكُمْ فِيْ رَسُوْ لِ اللّهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” .

Barangkali masih banyak pendekatan lainnya, Anda dapat menambahkannya atau mungkin mengomentarinya.

DAFTAR RUJUKAN

Ramayulis . 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam . Jakarta : Kalam Mulia

Suardi, Edi . tt . Pedagogik 2 . Cetakan ke- 2 . Bandung : Angkasa.

1 komentar:

  1. ini yang selanjutnya
    g. Pendekatan Terpadu
    Ialah pendekatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran dengan memadukan secara serentak beberapa pendekatan. Pendekatan terpadu dalam PAI meliputi : a). keimanan memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkanpemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan mahluk sejagat ini; b). Pengalaman, memberkan kesempatan kepada peserta didik untuk memperaktikan dan merasakan hasil-hasil pengamatan ibadah dan ahlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan; c). pembiasab, membiasakan sikap dan perilaku baik yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan; d). rasional, usaha memberikan usaha pada rasio (akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam materi pokok serta kaitannya dengan perilaku yang baik dengan perilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi; e). Emosional, upaya menggugah perasaan peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa; f). Fungsional, menyajikan semua bentuk materi pokok (Al-Qur’an, Aqidah, Syariah Ahlak, dan Tarikh), dan segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas; dan g). Keteladanan, menjdikan fitur guru agama dan non agama serta petugas sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik, sebagai cermin kepribadian manusia agama.

    BalasHapus