Rabu, Maret 31, 2010

Gerakan Moral Menyikapi Ujian Nasional

Oleh Dra. Hj. Elly Nurlaely Kurniasari

Gerakan moral antimenyontek dari beberapa sekolah di Kota Bandung membuktikan bahwa generasi penerus bangsa masih memiliki kejujuran, sehingga ujian dan nilai bukanlah segalanya.

Dalam era globalisasi yang semakin kompetitif dan penuh tantangan ini, kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya alam, teknologi, dan sumber daya manusia andal yang juga memiliki keunggulan daya saing tinggi sehingga menjadi aset, bahkan human capital investment bangsanya untuk bersaing dengan negara lain.
Sadar akan hal itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional tetap melaksanakan ujian nasional (UN) pada tahun ini, terlepas dari adanya sikap pro dan kontra masyarakat karena UN masih dianggap perlu sebagai barometer standar pendidikan secara nasional.


Dengan adanya kebijakan tersebut, diperlukan kesiapan dari semua pemangku kepentingan dunia pendidikan agar UN bisa terlaksana dengan sukses dan lancar tanpa adanya kecurangan sehingga siswa dapat lulus dengan bangga .

Terdapat hal yang menarik dari UN tahun ini, yaitu solusi bagi mereka yang gagal untuk mengikuti ujian ulangan serta tema UN 2010 yang Jujur, Berprestasi, dan Akuntabel (Pikiran Rakyat, 19/3). Hal itu menuntut kita untuk semakin semangat dan optimistis melaksanakan UN yang lebih baik dengan kejujuran dan penuh rasa tanggung jawab tanpa berbagai kesalahan dalam proses pelaksanaannya, baik siswa, guru, maupun semua pihak yang terkait sehingga UN bukan lagi hanya sekedar prestise tetapi juga prestasi dunia pendidikan Indonesia.

Kita perlu merasa bangga serta memberikan dukungan dan apresiasi yang tinggi untuk para siswa di beberapa SMA Kota Bandung, di antaranya SMAN 3, SMAN 5, SMAN 12, dan SMAN 22 (Pikiran Rakyat, 24/3) yang memiliki komitmen untuk menjaga suara hatinya dengan mengadakan suatu gerakan moral antimenyontek guna membuktikan bahwa mereka masih memiliki kejujuran sehingga ujian dan nilai bukanlah segalanya. Baban S. dalam bukunya Ampuh, Cerdas tanpa Batas menyebutkan, ada beberapa kiat yang disebut "SAMBUt" untuk menjadikan ujian menyenangkan sehingga prestasi dapat diraih, yaitu:

1. Semangat. Siswa harus selalu semangat dan optimistis bahwa belajar memiliki banyak manfaat, terutama dengan sungguh-sungguh karena hati akan tenang dan dapat berkonsentrasi ketika menjawab soal.

2. Atur waktu. Siswa harus menggunakan waktu seefektif mungkin agar dapat belajar dengan baik.

3. Membuat ringkasan. Ringkasan akan memudahkan siswa untuk mengulang kembali pelajaran. Ringkasan dapat dibuat dalam bentuk peta konsep, mind map, dan lain-lain.

4. Belajar berkelompok. Ketika siswa belajar sendiri dan mengalami kesulitan, maka belajar berkelompok adalah solusinya.

5. Utamakan keseimbangan antara proses dan hasil. Ingin mendapatkan nilai bagus tentunya harus belajar ekstrakeras, bukan sebaliknya. Ingin mendapatkan nilai bagus tetapi tidak mau belajar menyebabkan menyontek menjadi solusinya.

Selain dengan kiat "SAMBUt", latihlah siswa untuk bersikap rileks, percaya diri, dan tidak gugup saat menghadapi soal. Biasakan siswa datang ke sekolah lebih awal agar tidak kesiangan dan berdoa terlebih dulu agar diberikan yang terbaik.
Semoga apa yang sudah dan akan dilakukan dalam UN ini menjadi sebuah kebaikan dan amalan saleh yang insya Allah akan dibalas oleh Allah SWT. Semoga dunia pendidikan Indonesia semakin maju. Amin.***

Penulis, guru pendidikan kewarganegaraan SMA Negeri 18 Bandung.

•Pikiran Rakyat Cetak ( Forum Guru ) , Selasa, 30 Maret 2010

Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id= 134709

Tidak ada komentar:

Posting Komentar