Jumat, September 11, 2009

Metode Pendidikan dalam Pandangan Tiga Ilmuan Islam

By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 09:02:00

Pendidikan merupakan faktor penting yang menentukan kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Kemajuan yang dicapai peradaban Islam di zaman kekhalifahan tak lepas dari keberhasilan dunia pendidikan. Pada zaman itu, kota-kota Islam telah menjelma menjadi pusat pendidikan dan peradaban yang sangat maju.

Di abad pertengahan, para ilmuwan dan cendekiawan Muslim telah menyusun metode pendidikan atau pembelajaran yang sangat baik. Metode itu disusun agar para siswa bisa memahami dan menyerap ilmu pengetahuan yang diajarkan di madrasah-madrasah dengan mudah.


Berikut ini adalah tiga metode pendidikan yang dicetuskan tiga intelektual Muslim terpadang di zaman kekhalifahan. Mereka adalah Ibnu Sina, Ibnu Khaldun serta Al-Ghazali. Lalu bagaimana gagasan dan pemikiran mereka tentang pendidikan yang baik dan ideal bagi dunia Islam?

Ibnu Sina (980 -1037)

Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah ibnu Sina tak hanya dikenal sebagai seorang dokter legendaris. Ibnu Sina juga mencurahkan gagasannya tentang pendidikan. Menurut Ibnu Sina, pendidikan atau pembelajaran itu menyangkut seluruh aspek pada diri manusia, mulai dari fisik, metal maupun moral.
''Pendidikan tidak boleh mengabaikan perkembangan fisik dan apapun yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan fisik seperti olahraga, makanan, minuman, tidur, dan kebersihan,'' tutur Ibnu Sina,

Dalam pandangan Ibnu Sina, pendidikan tak hanya memperhatikan aspek moral, namun juga membentuk individu yang menyeluruh termasuk, jiwa, pikiran dan karakter. Menurutnya, pendidikan sangat penting diberikan kepada anak-anak untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi masa dewasa.

Ibnu Sina mengungkapkan, seseorang harus memiliki profesi tertentu dan harus bisa berkontribusi bagi masyarakat. Ibnu Sina mengungkapkan pendidikan itu harus diberikan secara berjenjang berdasarkan usia.

Masa baru lahir hingga umur dua tahun

Dalam pandangan Ibnu Sina, pendidikan harus dilakukan sejak dini, yakni sejak seseorang terlahir ke muka bumi. Pendidikan bagi bayi yang baru lahir, kata dia, bisa diberikan melalui berbagai tahapan kegiatan mengasuh bayi seperti menidurkan, memandikan, menyusui, dan memberikan latihan-latihan ringan bagi bayi.

Menurutnya, bayi harus ditidurkan di ruang yang suhunya sejuk; tidak terlalu dingin dan terlalu panas. Ruang tidur bayi juga harus remang-remang, jangan terlalu terang. Menurut dia, sang ibu harus memandikan bayinya lebih dari satu kali dalam sehari, dia juga harus menyusui anaknya sendiri, dan menentukan takaran menyusui yang dibutuhkan bayi.

Ketika bayi sudah memiliki gigi, maka mulai diperkenalkan dengan memakan makanan baru yang lebih kuat dari pada ASI. Bayi bisa memakan roti yang dicelupkan dengan air minum, susu, maupun madu. Lalu makanan tersebut diberikan kepada bayi dalam jumlah kecil dan sedikit demi sedikit dia disapih. Sebab penghentian pemberian ASI tidak bisa dilakukan secara drastis.

Masa kanak-kanak

Menurut Ibnu Sina, masa kanak-kanak merupakan saat pembentukan fisik, mental, dan moral. Oleh karena itu terdapat tiga hal yang harus diperhatikan: Pertama, anak-anak harus dijauhkan dari pengaruh kekerasan yang bisa mempengaruhi jiwa dan moralnya. Kedua, untuk perkembangan tubuh dan gerakannya, anak-anak harus dibangunkan dari tidur.

Ketiga, anak-anak tak diperbolehkan langsung minum setelah makan, sebab makanan itu akan masuk tanpa dicerna terlebih dahulu. Keempat, perkembangan rasa dan perilaku anak-anak perlu diperhatikan.

Ibnu Sina menganggap anak-anak harus mendengarkan musik, sehingga saat berada dalam ayunan mereka tertidur dengan suara musik. Hal itu akan mempersiapkan anak mempelajari musik, selanjutnya dia akan tertarik untuk mempelajari puisi yang sederhana dan akhirnya membuatnya menghargai nilai-nilai kebenaran.

Masa Pendidikan

Pada masa ini, anak-anak sudah berusia antara 6 hingga 14 tahun. Pada masa ini, anak-anak harus mempelajari prinsip kebudayaan Islam dari Alquran, puisi-puisi Arab, kaligrafi, juga para pemimpin Islam.

Menurut Ibnu Sina, pendidikan pada masa ini harus dilakukan dalam kelompok-kelompok, bukan perseorangan. Sehingga siswa tidak merasa bosan. Selain itu, mereka bisa belajar mengenai arti persahabatan.

Masa usia 14 tahun ke atas

Pada masa remaja ini, mereka dipersiapkan untuk mempelajari tipe pelajaran tertentu supaya memiliki keahlian khusus. Selain itu, mereka harus mempelajari pelajaran yang sesuai dengan bakat mereka. Mereka juga tidak boleh dipaksa untuk mempelajari dan bekerja di bidang yang tidak mereka inginkan dan mereka pahami. Namun pelajaran dasar harus diberikan kepada mereka.

Ibnu Sina menganggap pendidikan pada anak-anak maupun remaja harus diberikan karena pendidikan itu memiliki hubungan yang erat antara pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial. Yang paling penting, setiap pelajar harus menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu yang akan mendukung pekerjaannya di masa depan.

Ibnu Khaldun (1332/732H, -- 1406/808H)

Ibnu Khaldun dikenal sebagai seorang sejarawan terkemuka. Lewat Kitab Almuqadimmah yang ditulisnya, Ibnu Khaldun menjadi salah seorang intelektual Muslim legendaris sepanjang masa. Selain berkontribusi pada bidang sejarah, politik dan ekonomi, Ibnu Khaldun pun mencurahkan pikirannya dalam bidang pendidikan.

Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.

Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan yang berasal dari pemikiran yang alami.

Sedangkan pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau seseorang yang berkuasa.

Menurut dia, ketika seorang anak baru dilahirkan, maka sang bayi belum memiliki ilmu. ''Bayi itu seumpama sebuah bahan mentah yang harus diberi isi yang baik supaya menjadi orang dewasa yang berguna kelak,'' tutur Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun mengungkapkan, setiap orang mendapatkan ilmu pengetahuan melalui organ-organ tubuh yang diberikan oleh Tuhan. ''Kita belajar menggunakan mata, telinga, mulut, kaki, dan tangan. Semua organ tubuh itu mendukung kita dalam proses pembelajaran demi mendapat ilmu pengetahuan,'' ungkapnya.

Ibnu Khaldun juga membagi ilmu pengetahuan berdasarkan tingkat pemikiran yaitu: Pengetahuan praktis yang merupakan hasil dari memahami intelijen. Sehingga membuat kita mampu melakukan apapun di dunia dalam sebuah tatanan.

Pengetahuan tentang apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus tidak kita lakukan. Hal ini berkaitan dengan apa yang baik dan apa yang buruk. Nilai-nilai tentang kebaikan dan keburukan bisa diperoleh dari intelijen empirik dan dapat diterapkan untuk menuntun kita saat berhubungan dengan orang lain.

Menurut dia, mengajarkan ilmu pengetahuan itu sangat penting, karena ilmu pengetahuan akan lebih mudah diperoleh manusia dengan bantuan dan ajaran gurunya.


Metode Pendidikan Ala Al-Ghazali

Al Ghazali memberi perhatian yang sangat besar untuk menempatkan pemikiran Islam dalam pendidikan. Menurutnya, seluruh metode pendidikan harus berpegang teguh pada syariat Islam.

Menurutnya, tujuan manusia adalah mencapai kebahagian dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan kata lain, berbagai macam tujuan manusia untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan sosial, ilmu pengetahuan, hanyalah sebuah ilusi jika semua itu hanya berhubungan dan ditujukan untuk pencapaian dunia fana.

Menurut dia, bayi lahir dalam keadaan jernih, lalu tumbuh menjadi anak-anak yang membutuhkan kepribadian, karakter, dan tingkah laku saat hidup dan berinteraksi dengan lingkungan. Keluarga mengajarkan anak-anak tentang bahasa, adat-istiadat, tradisi agama, dan semua pengaruh dari ajaran tersebut tidak mungkin lenyap hingga mereka dewasa.

Oleh karena itu, yang paling bertanggung jawab terhadap buruk atau baiknya pendidikan seorang anak adalah orangtua mereka. Orang tua merupakan mitra dalam mendidik anak-anak dan mereka harus membaginya dengan para guru anak-anak tersebut.

Al-Ghazali menekankan pentingnya pembentukan karakter. Dengan memberikan pendidikan karakter yang baik maka orang tua sudah membantu anak-anaknya untuk hidup sesuai jalan yang lurus. Namun, pendidikan yang buruk akan membuat karakter anak-anak menjadi tidak baik dan berpikiran sempit sehingga sulit membawa mereka menuju jalan yang benar kembali.

Oleh karena itu, anak-anak harus belajar di sekolah dasar sehingga pengetahuan yang diperoleh sejak masih kecil akan melekat kuat bagai ukiran di atas batu. Selain itu, anak-anak juga harus diyakinkan bahwa mereka harus selalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya.

Anak-anak terus berkembang, pada usia remaja mereka akan merasa tertarik dengan lawan jenis, lalu pada usia 20 tahun, mereka merindukan menjadi pemimpin, dan pada usia 40 tahun orang membutuhkan kedekatan dan kesenangan terhadap pengetahuan akan Tuhannya.

Pada masa anak-anak, orang tua harus mengajari mereka ilmu Alquran dan hadis. Selain itu, mereka harus dijaga dari puisi-puisi cinta. Sebab hal itu, kata dia, bisa menjadi bibit yang buruk bagi jiwa seorang anak laki-laki.

Mereka juga harus diajari mematuhi nasehat orang tua, gurun, serta orang-orang yang lebih tua. Selain itu mereka juga harus diajarkan menjadi orang yang jujur, sederhana, dermawan, dan beradab. Selain itu, anak-anak sebaiknya memiliki teman yang bermoral baik, berkarakter baik, pandai, serta jujur. dya/taq

Sumber :http://republika.co.id/berita/74895/Metode_Pendidikan_dalam_Pandangan_Tiga_Ilmuwan_Islam







Lanjut membaca “Metode Pendidikan dalam Pandangan Tiga Ilmuan Islam”  »»

Jumat, Agustus 28, 2009

Faulks Minta Maaf kepada Umat Islam

By Republika Newsroom
Selasa, 25 Agustus 2009 pukul 11:34:00


LONDON--Novelis terkenal asal Inggris, Sebastian Faulks, Senin (24/8), kemarin, meminta maaf secara terbuka terkait pernyataannya tentang Alquran yang telah menyulut kemarahan umat Islam. Faulks mengaku pernyataanya telah dikutip secara salah.


"Saya minta maaf tanpa syarat kepada siapa pun yang merasa tersinggung karena komentar saya yang ditelanjangi dari konteks," kata Faulks kepada The Guardian.

"Saya minta maaf pada siapa pun, teman-teman Muslim saya dan para pembaca atas segala sesuatu yang terdengar kasar dan tidak toleran,""

Permintaan maaf ini dia lontarkan sehari setelah wawancaranya dengan Sunday Times yang mengudang kontroversi di mana Faulks menggambarkan Alquran sebagai "buku yang menyedihkan".

"Itu hanya ocehan orang gila," kata Faulks dalam wawancara tersebut.

"Ini sangat satu dimensi, dan orang-orang berbicara tentang keindahan bahasa Arab dan sebagainya, namun terjemahan bahasa Inggris yang saya baca, dari sudut pandang sastra, sangat mengecewakan."

Faulks juga mengatakan Alquran "tidak punya dimensi etik" seperti Perjanjian Baru dan "tidak ada rencana baru dalam hidup."

Namun Faulks mengklaim pernyataanya sudah dikutip di luar konteks oleh Sunday Times untuk menimbulkan skandal baru yang memalukan dirinya.

Faulks juga mengaku, setelah membaca Alquran dan beberapa sejarah tentang Islam dalam penelitiannya, dia memberikan penghargaan yang besar pada Islam. Menurutnya, ajaran Islam lebih mempunyai nilai-nilai spiritual dibandingkan ajaran Yahudi dan Kristen. taq/iol

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/71672/Faulks_Minta_Maaf_ kepada_Umat_Islam




Lanjut membaca “Faulks Minta Maaf kepada Umat Islam”  »»

Senin, Agustus 24, 2009

Penulis Inggris Lecehkan Al-Quran

By Republika Newsroom
Senin, 24 Agustus 2009 pukul 12:07:00


LONDON--Sebastian Faulks, penulis novel-novel best seller, memancing kemarahan umat Islam karena mengklaim Alquran tidak memiliki "dimensi etika" dan menyebutnya sebagai ocehan orang gila.

"Kitab suci umat Islam itu adalah sebuah buku dengan satu dimensi yang memiliki nilai sastra rendah. Jika dibandingkan dengan Injil, maka pesan-pesannya terkesan "gersang", ujar dia dalam wawancara dengan majalah The Sunday Times yang dilansir Telegraph, Ahad (23/8).


Faulks mengaku telah membaca Alquran dalam terjemahan bahasa Inggris untuk membantunya dalam penulisan novel terbarunya, A Week in December, yang rencananya akan dipublikasikan bulan September mendatang.

Karya terbarunya ini dibuat dengan latar belakang London modern dengan karakter cerita seorang istri anggota parlemen Inggris termuda, seorang supir Tube, seorang manajer keuangan, dan seorang perekrut teroris Islam kelahiran Glasgow bernama Hassan Al Rashid.

Dalam penelitian untuk karakter Al Rashid inilah, Faulks mengaku mulai menyelami Alquran, Kitab suci pegangan umat Islam sebagai firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril.

“Benar-benar buku yang menekan. Hanya ocehan dari orang gila. Bersifat hanya satu dimensi, dan orang-orang berbicara mengenai keindahan bahasa Arab, namun terjemahan bahasa Inggris yang saya baca, dari sudut pandang sastra, sangat mengecewakan,” kata Faulks.

Menurutnya, Alquran tidak menawarkan kisah yang menarik dibandingkan dengan Bibel. Alquran hanya memberitahu pembacanya untuk percaya pada Tuhan atau “terbakar selamanya”.

“Pesan-pesannya juga terasa kering. Maksud saya, ada beberapa bagian yang menyinggung soal diet, Anda tahu, mirip dengan Perjanjian Lama (Taurat), yang juga gila. Namun, kehebatan dari Perjanjian lama adalah adanya kisah-kisah yang menakjubkan. Dari 100 kisah yang diceritakan, sekitar 99-nya kemungkinan ada di dalam Perjanjian Lama dan sisanya di dalam Homer,” ujar dia.

“Alquran tidak memiliki kisah-kisah semacam itu. Alquran juga tidak memiliki dimensi etika seperti Perjanjian Baru (Injil), dan tidak ada rencana baru untuk kehidupan.”

Faulks juga mempertanyakan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan membandingkannya dengan Yesus.

“Yesus, tidak seperti Muhammad, memiliki hal-hal menarik untuk dikatakan. Ia menyodorkan sebuah metode revolusioner dalam melihat dunia: cintai tetanggamu, cintai musuhmu, bersikap baik pada orang lain, orang yang sabar akan mewarisi bumi. Muhammad tidak memiliki hal lain untuk dikatakan pada dunia, kecuali, “Jika engkau tidak percaya pada Tuhan, engkau akan terbakar selamanya,” kata dia.

Sementara itu, Ajmal Masroor, seorang imam dan juru bicara Masyarakat Islam untuk Inggris, menyatakan dia tidak menganggap deskripsi Faulks tentang Alquran.

“Saya dapat menyusun daftar ribuan cendekiawan, politikus, dan akademisi yang tidak mengatakan apa pun selain pujian terhadap Alquran, dan saya berbicara mengenai mereka yang non-Muslim. Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Bill Clinton adalah beberapa di antaranya” ujar dia.

“Menurut saya, komentarnya itu menggelikan, bukan menyerang. Terdengar seperti celotehan orang yang sedikit benci dan tidak obyektif. Saya berharap dapat mendiskusikan Alquran dengannya,” imbuh Masroor.

Masroor juga menambahkan bahwa pernyataan Faulks itu berisiko memicu kebencian agama atas umat Islam.

“Serangan terhadap Islam bukan hal yang baru, namun bahayanya hal ini akan menimbulkan efek yang 'menetes'. Orang-orang sepertinya tidak memahami konsekuensi dari mengucapkan hal-hal seperti ini bisa sangat buruk. Sejarah memberitahu kita bahwa ejekan bisa memicu kebencian.”

Dalam kesempatan terpisaha, Inayat Bunglawala dari Dewan Muslim Inggris mengomentari sudut pandang Faulks mengenai Alquran sebagai penilian yang cenderung “tertutup”.

“Nabi Muhammad seringkali direndahkan oleh banyak orang, baik di zaman beliau maupun setelah beliau yang menyebutnya sebagai ‘orang gila’ atau ‘kesurupan roh jahat’ sebagai sebuah upaya untuk menyingkirkan pesan-pesannya yang indah,” tambah dia.

“Sebastian Faulks mungkin perlu menarik pelajaran bahwa mereka yang melecehkan Nabi saat ini semuanya telah lama dilupakan, sedangkan Nabi masih diingat dengan rasa cinta dan kekaguman". tlg/taq

Foto :
Sebastian Faulks - TELEGRAPH.CO.ID
Sumber : http://republika.co.id/berita/71382/Penulis_Inggris_
Lecehkan_Alquran


Lanjut membaca “Penulis Inggris Lecehkan Al-Quran”  »»

Muslim Rusia Sambut Ramadhan di Masjid Moskow

By Republika Newsroom
Sabtu, 22 Agustus 2009 pukul 22:00:00


MOSKOW--Ratusan warga Muslim di ibu kota Rusia, Moskow, memenuhi Masjid Pusat Moskow, pada Jumat (21/8) malam untuk menyambut bulan suci Ramadhan 1430 Hijriyah yang jatuh pada Sabtu (22/8).Seperti umat Muslim di negara lainnya, warga Muslim di Moskow juga mengisi Ramadhan dengan membaca Al-Quran, berzikir, bersedekah dan ibadah sosial lainnya.


Imam Masjid Pusat Moskow, Marat Arshabayev, mengatakan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu setiap Muslim, termasuk Muslim di Rusia.Selain Muslim Rusia, para warga Muslim yang datang dari Kazakhstan, Saudi Arabia, Indonesia dan Malaysia juga bergabung untuk shalat tarawih di masjid tersebut.

Melaksanakan ajaran Nabi Muhammad dalam bulan ini bak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya, oleh karena itu umat Muslim berlomba untuk berbuat kebaikan selama Ramadhan ini, kata Imam Marat Arshabayev.

Dalam pertengahan bulan Ramadhan, akan dibangun "tenda Ramadhan" di kompleks masjid yang terletak di pusat kota Moskow itu untuk menyediakan buka puasa bersama.Hidangan buka puasa itu berupa kue-kue hangat dan disediakan pula masakan khas Turki dan Iran. ant/khabar-OANA/kpo

Sumber : http://republika.co.id/berita/71166/Muslim_Rusia_ Sambut_Ramadhan_di_Masjid_Moskow

Lanjut membaca “Muslim Rusia Sambut Ramadhan di Masjid Moskow”  »»

Jumat, Agustus 21, 2009

Puasa Ramadhan

Oleh Abdul Aziz | 30 Sya’ban 1430

Puasa Ramadhan sudah begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Muslim kita. Sejak di Taman Kanak-kanak puasa sudah diperkenalkan. Pada setiap tingkat pendidikan yang lebih tinggi puasa selalu dipelajari karena selalu dimasukkan ke dalam kurikulum . Dan Pendidikan Agama Islam sejak awal republik ini berdiri menjadi pelajaran wajib.

Puasa di dalam Al Quran disebut shiyam . Kata itu disebut delapan kali dalam Al-Quran. Semuanya berarti puasa menurut pengertian hukum syariat. Al-Quran juga menggunakan kata shaum , tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara. Hal ini dilakukan oleh Maryam ketika ia banyak ditanya oleh orang-orang tentang kelahiran anaknya (Isa a.s. ).


Pengertian Puasa

Kata shiyam atau shaum berasal dari akar kata yang sama, yaitu sha-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak” . Menurut istilah, berarti menahan diri dari segala yang membatalkan puasa pada waktu tertentu dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan syarat-syarat tertentu.

Ayat-ayat Al Quran tentang puasa Ramadhan, terdapat dalam surah Al-Baqarah (2) : 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena surah Al-Baqarah ini diturunkan di Madinah. Kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ini ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah. Tapi sebelum ayat ini turun tidak berarti bahwa mereka tidak pernah berpuasa. Ketika baru tiba di Madinah, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa 3 hari dalam sebulan. Di samping mereka melaksanakan puasa Asyura (10 Muharram) sebagaimana yang dialukan oleh orang-orang Yahudi di Madinah ketika itu.

Setelah turunnya kewajiban berpuasa Ramadhan, maka yang diwajibkan atas orang-orang beriman hanyalah puasa Ramadhan, sedangkan puasa-puasa yang lain yang sebelumnya dilaksanakan oleh kaum Muslimin menjadi puasa sunat.

Tujuan Puasa

Tujuan puasa secara jelas dinyatakan dalam Al Quran adalah untuk mencapai ketakwaan ( la’allakum tattaqun ). Ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa.

Takwa bermakna menjaga diri dari siksa Allah. Menghindari siksa atau hukuman Allah, dilakukan dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt. setiap saat, “ bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadarai bahwa Allah melihatnya”.

Esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan dan pengendalian diri itulah esensi puasa.

Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, untuk kepentingan pribadi atau masyarakat. Tidak heran jika puasa telah dikenal oleh umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana diinformasikan oleh Al Quran.

Allah menggunakan bentuk kalimat pasif dalam menetapkan kewajiban puasa, Kutiba ‘alaikumush shiyama ( diwajibkan atas kamu berpuasa ), tidak menyebut siapa yang mewajibkannya. Tapi sebenarnya di sini cukup jelas bahwa yang mewajibkannya adalah Allah Swt. Walaupun demikian hal ini mengisyaratkan bahwa seandainya pun bukan Allah yang merwajibkan puasa, maka manusia yang menyadari manfaat puasa, akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Terbukti motivasi berpuasa ( tidak makan atau mengendalikan diri ) yang selama ini dilakukan manusia, bukan semata-mata atas dorongan ajaran agama. Misalnya demi kesehatan, atau kecantikan tubuh, dan bukanlah pula kepentingan pengendalian diri disadari oleh setiap makhluk yang berakal.


Hikmah Puasa

Banyak hikmah yang dapat diperoleh dari berpuasa. Ada hikmah yang berdampak secara individual dan ada hikmah yang berdampak secara sosiologis.

Dampak secara individual adalah :

1. Untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Untuk meningkatkan ketakwaan.
3. Untuk meningkatkan kesabaran.
4. Untuk mengendalikan hawa nafsu.
5. Untuk menumbuhkan sifat amanah dan keikhlasan beramal.
6. Untuk mendidik jiwa, menyucikan hati dan menyembuhkan penyakit hati.
7. Untuk mendapatkan pengampunan.


Dampak secara sosiologis adalah:

1. Untuk meningkatkan pengawasan nurani terhadap segala tindakannya.
2. Untuk menumbuhkan solidaritas kemanusiaan.
3. Untuk membiasakan diri berbuat baik kepada orang lain.
4. Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang , kepedulian dan semangat berbagi dengan sesama.
5. Untuk mengikis kesombongan , iri hati dan dengki.
6. Untuk membiasakan diri jauh dari perbuatan-perbuatan maksiat.


Syarat Wajib dan Rukun Puasa

Syarat wajib Puasa : Islam; balig; berakal; mampu berpuasa; mengetahui wajibnya puasa; sehat; muqim ( tidak musafir).

Rukun puasa adalah : niat; menahan diri dari segala yang membatalkan puasa; berpuasa pada waktunya ( bulan Ramadhan ).

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Berpuasa

1. Yang perlu dilakukan, adalah :
a. Berniat puasa pada malam harinya.
b. Berimsak ( menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa ).
c. Melakukan hal-hal yang disunatkan dalam berpuasa.
d. Segera berbuka apabila sudah waktunya.
e. Baca doa sebelum berbuka.
f. Makan sahur.
g. Yang berhadas besar disunatkan mandi sebelum Subuh.
h. Memperbanyak sadaqah.
i. Memberi makanan untuk berbuka.
j. Memperbanyak membaca Al Quran dan berzikir.
k. Melakukan qiyamullail ( tarawih ).
l. Melakukan i’tikaf di masjid.

2. Yang perlu dihindari, adalah :
a. Menceritakan keaiban atau kejelekan orang lain.
b. Mencela, mengumpat, mencaci, memaki.
c. Berbuat atau mengucapkan hal-hal yang dapat merugikan orang lain.
d. Berbohong.
e. Menjadi saksi palsu.

Hal-hal yang mewajibkan Berbuka

Hal-hal yang mewajibkan seseorang berbuka puasa ( tidak berpuasa ) adalah : haid; nifas. Mereka diwajibkan mengqada.

Hal-hal yang Membolehkan Berbuka

1. Safar ( bepergian ).
2. Sakit
3. Tidak mampu
4. Jihad ( dalam arti berperang untuk menegakkan agama ).
5. Hamil
6. Menyusui.


Hal-hal yang Menggugurkan Kewajiban Puasa

1. Lanjut usia.
2. Sakit yang tidak dapat disembuhkan.
3. Tidak mampu berpuasa karena pekerjaan yang sangat berat.
4. Orang gila.

DAFTAR RUJUKAN

Shihab, M. Quraish. 1997. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung : Penerbit Mizan

Raya, Ahmad Thib dan Mulia, Siti Musdah. 2003. Menyelami Seluk-Beluk Ibadah dalam Islam. Bogor : Kencana


Lanjut membaca “Puasa Ramadhan”  »»

Moment-moment Penting di Bulan Ramadhan

Oleh Abdul Aziz | 30 Sya’ban 1430

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang agung dan penuh berkah. Satu-satunya nama bulan yang tercantum dalam Al-Quran ( Al-Baqarah, 2 : 185 ). Kemuliaan, keagungan dan keberkahannya berkaitan erat dengan keutamaan amal dan nilai-nilai yang terkandung di dalam bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dalam pidatonya pada hari terakhir di bulan Sya’ban menyatakan bahwa kita dalam naungan bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya ada satu malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan diwajibkannya puasa dan malamnya disunnahkan shalat (tarawih) . Ramadhan adalah bulan kesabaran, bulan untuk berbagi, bulan penuh kasih dan ampunan.


Kemuliaan dan keagungan bulan Ramadhan ditunjukkan dengan nama-nama tertentu yang dilekatkan pada bulan ini. Nama-nama tersebut merefleksikan moment-moment penting pada bulan Ramadhan, di antaranya adalah :
1. Syahr Allah (Bulan Allah), karena Allah memberikan pahala yang besar bagi orang yang berbuat baik di bulan ini. Ibadah puasa pun pahalanya langsung diberikan Allah sendiri.
2. Syahr al-Quran ( bulan diturunkannya Al-Quran / Nuzul al-Quran ).
3. Syahr al-tilawah ( bulan membaca Al-Quran ).
4. Syahr al-shabr ( bulan pelatihan untuk bersabar).
5. Syahr al-rahmah ( bulan kasih sayang, bulan waktu Allah melimpahkan rahmat-Nya ).
6. Syahr al-Shiyam ( bulan dilaksanakannya ibadah puasa ).
7. Syahr al-jud ( bulan untuk berbagi ).


Ramadhan bagi umat Muslim memiliki makna tersendiri, karena berbagai peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam terjadi pada bulan ini. Peristiwa-peristiwa penting itu di antaranya :

1. Turunnya wahyu pertama al-Quran, yaitu surah al-Alaq (96) : 1 – 5 (Nuzul al-Quran ) dan pengangkatan Muhammad sebagi Rasul Allah ketika sedang berkhalwat di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan.
2. Tahun duka cita ( ‘Amm al-Hazn ) , yaitu meninggalnya Abu Thalib, paman Nabi Muhammad, dan Khadijah binti Khuwailid, istrinya, pada tahun ke-10 kerasulan. Kedua orang inilah yang selalu memberikan support dalam berdakwah. Selama Abu Thalib hidup tak seorang pun berani mengganggu Nabi secara terang-terangan. Khadijah pun membantu dengan hartanya untuk berdakwah.
3. Pada bulan Sya’ban tahun 2 H Allah mewajibkan berpuasa Ramadhan dan mengeluarkan zakat fitrah kepada kaum Muslim.
4. Kemenangan besar Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin dalam Perang Badr al-Kubra (besar) tanggal 17 Ramadhan 2 H. Sebuah kemenangan yang dapat membangkitkan semangat juang kaum Muslimin.
5. Fath Makkah, kemenangan kaum Muslimin atas kota Makkah dan pemusnahan berhala-berhala sesembahan kaum kafir di sekitar Ka’bah pada tanggal 21 Ramadhan 8 H.
6. Pada bulan Ramadhan 9 H penduduk Taif mendatangi
Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Dan pada tahun yang sama utusan kerajaan Hummir memberitahukan keislaman mereka.
7. Pada tahun berikutnya, 10 H, kabilah Hamadan di Yaman menyatakan masuk Islam.
8. Fatimah az-Zahra meninggal pada tanggal 13 Ramadhan 14 H.
9. Ali ibn Abi Thalib wafat pada hari Jumat, 15 Ramadhan 40 H.
10. Pada bulan Ramadhan 53 H, kaum Muslimin menaklukkan Pulau Rhodes di Laut Tengah.
11. Aisyah, istri Nabi, meninggal pada tahun 78 H.
12. Pada bulan Ramadhan 91 H, kaum Muslimin mendarat di pantai selatan Andalusia (Spanyol). Setahun kemudian , 92 H, Thariq ibn Ziyad menaklukkan Spanyol.
13. Ramadhan 361 H Universitas Al-Azhar dibuka di Kairo.
14. Shalahuddin al-Ayyubi , Ramadhan 584 H, mencapai kemenangan gemilang dengan memukul mundur pasukan Salib dan membebaskan beberapa daerah yang diduduki tentara Salib.
15. Negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memproklamasikan kemerdekaannya pada hari Jumat, 10 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945.

Selamat berpuasa !





Lanjut membaca “Moment-moment Penting di Bulan Ramadhan”  »»

Ramadhan yang Panas, Ramadhan yang Nyaman

Oleh Abdul Aziz | 30 Sya’ban 1430

Insya Allah, besok kita memasuki bulan Ramadhan . Bulan kesembilan dalam kalender bangsa Arab dan juga dalam kalender Islam atau Hijriah. Ramadhan yang berarti “yang sangat panas”, merupakan penggambaran yang berasal dari sistem kalender matahari bangsa Arab pra-Islam. Menurut bahasa, Ramadhan berasal dari kata Ramdha’ yang berarti panasnya terik matahari, atau cuaca yang sangat panas. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa dari pengertian itu ada dua pendapat yang saling berkaitan. Pertama, ketika awal diwajibkannya puasa itu kepada umat Islam cuaca sedang panas sekali. Kedua, Ramadhan ini berfungsi untuk membakar dosa, karena pada bulan ini kesempatan untuk memohon ampunan Allah terbuka lebar.


Nama Ramadhan ini diberikan oleh orang-orang Arab pada bulan kesembilan itu, karena pada bulan tersebut padang pasir sangat panas oleh terik matahari. Kebiasaan mereka dalam menyerap istilah asing dengan memberikan suatu istilah yang sesuai dengan keadan pada waktu itu. Maka bulan yang terasa cuacanya sangat panas ini mereka sebut Ramadhan.

Diwajibkannya pertama kali pada musim panas ini memberikan arti tersendiri bagi umat Muslim sekarang, sebab tidak ada alasan untuk menolak kewajiban puasa itu. Pada awal diberlakukannya kewajiban puasa, Rasul dan para shahabat berpuasa dalam cuaca yang tidak ramah sama sekali , padahal sedang menahan lapar dan haus. Di negeri kita yang beriklim tropis, kelelahan itu tidak begitu terasa, berbeda dengan mereka yang tinggal di Timur Tengah.

Puasa juga terasa sangat berbeda apabila bulan Ramadhan itu jatuh pada musim dingin atau musim panas di negeri-negeri yang memiliki kedua musim tersebut. Menurut Danielle Robinson, dari Universitas Branford, melakukan puasa pada dua musim itu terasa sangat berat.

Sifat Maha Rahman dan Maha Rahim Allah sekilas terlihat bertentangan dengan perintahnya yang wajib dilakukan dalam kondisi yang sangat panas. Berpuasa pada siang hari yang panas, haus dan lapar akan terasa sangat melelahkan. Tapi Allah berfirman :

لاَ يُكَلِفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.” ( QS Al-Baqarah, 2 : 286 ). Allah Mahatahu tentang kondisi manusia, sehingga puasa dalam cuaca yang panas pun masih tetap bisa dilakukan dengan baik. Apalagi bila puasanya dilakukan dengan penuh keikhlasan akan terasa nyaman.

Ketentuan hukum, bila ditinjau dari berat ringannya, terbagi menjadi dua, yaitu (1) Azimah dan (2) Rukhshah. Azimah adalah hukum syara yang pokok dan berlaku secara umum bagi seluruh mukallaf ( yang dibebani hukum ) dan dalam setiap keadaan dan waktu, seperti shalat fardlu, misalnya.

Sedangkan Rukhshah adalah peraturan tambahan yang dijalankan sehubungan dengan adanya hal-hal yang memberatkan, sebagai pengecualian dari hukum-hukum yang pokok. Dengan kata lain rukhshah merupakan keringanan dalam menjalankan suatu ketentuan. Misalnya boleh shalat sambil duduk bila tidak mampu berdiri, atau boleh berbuka puasa bagi seorang musafir.

Dalam puasa Ramadhan terdapat keringanan , bagi musafir misalnya. Ia boleh berpuasa atau berbuka. Mengenai hal tersebut para ulama berbeda pendapat. Imam Malik dan Imam Syafi’i menilai bahwa berpuasa lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu, tetapi sebagian besar ulama bermazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa hal ini sebaiknya diserahkan kepada yang bersangkutan. Apa pun pilihannya, itulah yang lebih baik bagi dirinya.Tetapi ada ulama yang menilai bahwa berbuka lebih baik dengan alasan, ini adalah kemudahan dari Allah. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering meminta dispensasi, ini malah ditolak. Tidak baik menolak kemudahan yang telah diberikan Allah kepada kita.

يُرِيْدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ


”Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesulitan”. (QS Al- Baqarah, 2 : 185 ).

Selain itu, kalangan ulama Zhahiriyah dan Syi’ah bahkan mewajibkan berbuka bagi musafir dan orang yang sakit, dan wajib pula menggantinya ( qadha ) pada hari-hari yang lain.

Welcome O Ramadhan. Ramadhan mubarak 4 all ummah.


Lanjut membaca “Ramadhan yang Panas, Ramadhan yang Nyaman”  »»

Sabtu, Agustus 15, 2009

Puasa Sunnah Pasca Nishfu Sya'ban

Oleh Abdul Aziz | 24 Sya'ban 1430

Puasa sunnah pada bulan Sya’ban senantiasa dilakukan Rasulullah SAW. Hari ini kita sudah berada pada akhir bulan Sya’ban dan tinggal beberapa hari lagi memasuki bulan Ramadhan , bulan saatnya kita melaksanakan puasa wajib.Tetapi ada beberapa hadits tentang puasa setelah melewati nishfu Sya’ban yang tampak seperti bertentangan satu sama lainnya. Hadits-hadits itu kelihatannya kontradiktif, antara puasa Sya’ban sebulan penuh dengan larangan puasa pasca nishfu Sya’ban.


Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan,”Rasulullah tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban, sesungguhnya beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” Sementara yang diriwayatkan Muslim, Aisyah mengatakan, “Rasulullah terus berpuasa hingga kami menyatakan bahwa beliau puasa terus menerus. Dan terkadang beliau terus berbuka (tidak puasa) hingga kami menyatakan bahwa beliau terus berbuka (tidak puasa). Dan aku tidak melihat Rasulullah berpuasa dalam satu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban. Beliau puasa pada seluruh bulan Sya’ban, dan beliau puasa bulan Sya’ban keseluruhan kecuali sedikit.”

Semetara dalam hadits lain beliau melarang puasa sunnah bila telah memasuki pertengahan bulan ( nishfu Sya’ban). Hadits riwayat Ibnu Hibban menyebutkan bahwa Abu Harirah berkata,”Rasulullah bersabda,’Tidak ada puasa (sunnah) setelah pertengahan bulan Sya’ban sampai datang bulan Ramadhan.” Tapi pada suatu hari di akhir bulan Sya’ban , seperti yang diriwayatkan Muslim, beliau pernah bertanya kepada seorang laki-laki,”Apakah kamu telah puasa di penghujung bulan Sya’ban ini?” Ia menjawab,’Tidak’. Sebelum datangnya Ramadhan, maka puasalah sehari atau dua hari.”

Selain itu ada hadits lain yang menambah bingung dalam memahami hadits-hadits tersebut di atas, yaitu hadits tentang larangan puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Hari itu lebih dikenal dengan sebutan hari yang meragukan ( yaum al-syak ) . Maksudnya adalah hari antara akhir Sya’ban dan awal Ramadhan, karena hari itu belum bisa dipastikan apakah sudah masuk Ramadahan atau belum.

Imam al-Qurthubi mencoba menjelaskan tentang hadits-hadits di atas. Menurutnya tidak ada yang kontradiktif antara hadits yang melarang puasa pasca nishfu Sya’ban dengan hadits yang menyatakan tidak boleh puasa pada hari syak dan hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah menyambung puasa bulan Sya’ban dengan bulan Ramadhan.

Larangan puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan atau pasca nishfu Sya’ban itu bagi orang-orang yang tidak biasa berpuasa. Karena hal itu dikhawatirkan akan mengganggu kondisi fisiknya saat memasuki Ramadhan, sehingga puasa wajibnya pada bulan Ramadhan akan terganggu. Tapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan puasa sunnah, maka puasa pasca nishfu Sya’ban atau menjelang awal Ramadhan tidak dilarang.

Pendapatnya ini didasarkan pada hadits berikut. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,”Sungguh, janganlah kamu mendahului Ramadhan dengan puasa sunnah sehari atau dua hari, kecuali bila sudah terbiasa puasa sunnah, maka silahkan saja puasa pada hari-hari tersebut.” ( HR> Bukhari ).

Yang dikhawatirkan Rasulullah tentang puasa menjelang Ramadhan ini akan mengganggu puasa wajibnya, bisa kita saksikan di sebagian masyarakat Muslim kita. Pada bulan Dzulhijjah banyak yang berpuasa sunnah sejak tanggal satu, tetapi ketika sampai pada hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) mereka kelelahan, dan mereka tidak bisa berpuasa pada hari itu, padahal puasa Arafah ini merupakan sunnah Nabi.

Oleh karena itu bagi yang hendak berpuasa pada bulan Sya’ban lalu diteruskan dengan puasa Ramadhan, jika mampu untuk melaksanakannya boleh-boleh saja. Jadi, berpuasa setelah nishfu Sya’ban atau sebelum Ramadhan, kalau sudah terbiasa puasa sunnah Senin-Kamis misalnya, maka diperbolehkan melaksanakannya. Yang penting jangan sampai puasa sunnah itu mengganggu puasa wajib pada bulan Ramadhan.

Apalagi bagi orang yang belum sempat membayar hutang puasa Ramadhan tahun lalu, maka hendaklah ia membayar hutang puasanya itu sebelum Ramadahn tiba, walaupun sudah melewati pertengahan bulan Sya’ban.

Barangkali Anda punya pendapat lain, ditunggu komentarnya.

Lanjut membaca “Puasa Sunnah Pasca Nishfu Sya'ban”  »»

Senin, Agustus 10, 2009

Keteladanan dan Pembiasaan dalam PAI

Oleh Abdul Aziz | 19 Sya'ban 1430

Konsep dan persepsi keagamaan pada anak dipengaruhi oleh unsur dari luar diri mereka. Hal ini terjadi karena sejak usia dini telah melihat, mempelajari hal-hal yang berada di luar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu. ”Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki” ( Ramayulis, 2005 : 81).


Dalam kehidupan sehari-hari perilaku keagamaan yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru. Shalat berjamaah misalnya mereka lakukan merupakan hasil melihat perbuatan itu di lingkungannya, baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran khusus yang intensif. Sehinggga sifat meniru yang dimiliki anak ini merupakan modal yang positif dan potensial dalam pendidikan keagamaan pada anak.

Sejak fase-fase awal kehidupan, seorang anak banyak sekali belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya, khususnya dari kedua orang tuanya.

Kecenderungan anak meniru dan belajar melalui peniruan, menyebabkan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran. Firman
Allah SWT dalam surah Al Ahzab ayat 21 :

َ لَقَدْ كََا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْ لِ اللّهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...”.

Agar peserta didik meniru sesuatu yang positif dari gurunya, maka guru harus menjadikan dirinya sebagi uswatun hasanah dengan menampilkan diri sebagai sumber norma, budi yang luhur, dan perilaku yang mulia.

Dengan demikian ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka, yang dipelajari dari orang tua maupun guru. Bagi anak sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa walaupun ajaran itu belum mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut.

Berawal dari peniruan dan selanjutnya dilakukan pembiasaan di bawah bimbingan guru, peserta didik akan semakin terbiasa. Bila sudah menjadi kebiasaan yang tertanam jauh di dalam hatinya, peserta didik itu kelak akan sulit untuk berubah dari kebiasaannya itu. Ia, misalnya, akan melakukan shalat berjamaah bila waktu shalat tiba, tidak akan berpikir panjang apakah shalat dulu atau melakukan hal lain, apakah berjamaah atau nanti saja shalat sendirian. Hal ini disebabkan karena kebiasaan itu merupakan perilaku yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan terlebih dahulu, berlangsung begitu saja tanpa dipikirkan lagi.

Dengan demikian seseorang dalam keberagamaannya haruslah senatiasa meniru , meneladani yang dicontohkan Rasulullah SAW. , kemudian membiasakannya. Bagaimana dengan Anda ?

RUJUKAN

Ramayulis . 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam . Jakarta : Kalam Mulia

Lanjut membaca “Keteladanan dan Pembiasaan dalam PAI”  »»

Pendekatan dalam Pembelajaran PAI

Oleh Abdul Aziz | 19 Sya'ban 1430

Pembelajaran dan bimbingan guru dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. ”HM. Chatib Thaha, mendefinisikan pendekatan adalah cara pemrosesan subjek atas objek untuk mencapai tujuan. Pendekatan juga bisa berarti cara pandang terhadap sebuah objek persoalan, di mana cara pandang itu adalah cara pandang dalam konteks yang lebih luas” ( Ramayulis, 2005 : 127).


Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan pendidik untuk kegiatan pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam :

a. Pendekatan Pengalaman

Pendekatan ini merupakan pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan baik secara individual maupun kelompok.

Dalam pembelajaran ibadah misalnya, guru atau pendidik akan menemui kesulitan yang besar apabila mengabaikan pendekatan ini. Peserta didik harus mengalami sendiri ibadah itu dengan bimbingan gurunya. Belajar dari pengalaman jauh lebih baik dari pada hanya sekedar bicara, tidak pernah berbuat sama sekali. Pengalaman yang dimaksud di sini tentunya pengalaman yang bersifat mendidik. Memberikan pengalaman yang edukatif kepada peserta didik diarahkan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

b. Pendekatan Pembiasaan

Pendekatan ini dimaksudkan agar seseorang memiliki kebiasaan berbuat hal-hal yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Edi Suardi dalam bukunya, Pedagogik 2, menjelaskan bahwa ”kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi” ( Edi Suardi, tt : 123 ). Pembiasaan memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari.

c. Pendekatan Emosional

Emosi merupakan gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi tersebut berhubungan dengan masalah perasaan. Karena itu pendekatan emosional merupakan ”usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk ” ( Ramayulis, 2005 : 129 ).

Emosi berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang, oleh karena itu pendekatan emosional merupakan salah satu pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam. Metode pembelajaran dalam pendekatan emosional ini yang digunakan adalah metode ceramah, sosio drama atau bercerita.

d. Pendekatan Rasional

Pendekatan rasional merupakan sutu pendekatan yang mempergunakan rasio ( akal ) dalam memahami dan menerima suatu ajaran agama. Dengan mempergunakan akalnya seseorang bisa membedakan mana yang baik, mana yang lebih baik, atau mana yang tidak baik. Pembelajaran dengan melalui metode tanya jawab atau kerja kelompok, misalnya seorang guru bisa melakukan pendekatan rasional dengan memberikan peran akal dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran atau tuntunan agama.

e. Pendekatan Fungsional

Pendekatan ini merupakan upaya memberikan materi pembelajaran dengan menekankan kepada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dan bimbingan untuk melakukan shalat misalnya, diharapkan berguna bagi kehidupan seseorang, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan sosial. Melalui pendekatan fungsional ini berarti peserta didik dapat memanfaatkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini antara lain metode latihan, demonstrasi, dan pemberian tugas.

f. Pendekatan Keteladanan

Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan atau memberikan contoh yang baik. Guru yang senantiasa bersikap baik kepada setiap orang misalnya, secara langsung memberikan keteladanan bagi anak didiknya. Keteladanan pendidik terhadap anak didiknya merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena guru akan menjadi tokoh identifikasi dalam pandangan anak yang akan dijadikannya sebagai teladan dalam mengidentifikasikan diri dalam kehidupannya.

Kecenderungan anak untuk belajar melalui peniruan menyebabkan pendekatan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran. Bahkan manusia pada umumnya senantiasa cenderung meniru yang lainnya. Rasulullah SAW merupakan teladan yang baik bagi umat Islam, sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 21 :

لَقَدْ كَََا نَ لََكُمْ فِيْ رَسُوْ لِ اللّهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” .

Barangkali masih banyak pendekatan lainnya, Anda dapat menambahkannya atau mungkin mengomentarinya.

DAFTAR RUJUKAN

Ramayulis . 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam . Jakarta : Kalam Mulia

Suardi, Edi . tt . Pedagogik 2 . Cetakan ke- 2 . Bandung : Angkasa.

Lanjut membaca “Pendekatan dalam Pembelajaran PAI”  »»