Tampilkan postingan dengan label Sya'ban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sya'ban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 15, 2009

Puasa Sunnah Pasca Nishfu Sya'ban

Oleh Abdul Aziz | 24 Sya'ban 1430

Puasa sunnah pada bulan Sya’ban senantiasa dilakukan Rasulullah SAW. Hari ini kita sudah berada pada akhir bulan Sya’ban dan tinggal beberapa hari lagi memasuki bulan Ramadhan , bulan saatnya kita melaksanakan puasa wajib.Tetapi ada beberapa hadits tentang puasa setelah melewati nishfu Sya’ban yang tampak seperti bertentangan satu sama lainnya. Hadits-hadits itu kelihatannya kontradiktif, antara puasa Sya’ban sebulan penuh dengan larangan puasa pasca nishfu Sya’ban.


Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan,”Rasulullah tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban, sesungguhnya beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” Sementara yang diriwayatkan Muslim, Aisyah mengatakan, “Rasulullah terus berpuasa hingga kami menyatakan bahwa beliau puasa terus menerus. Dan terkadang beliau terus berbuka (tidak puasa) hingga kami menyatakan bahwa beliau terus berbuka (tidak puasa). Dan aku tidak melihat Rasulullah berpuasa dalam satu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban. Beliau puasa pada seluruh bulan Sya’ban, dan beliau puasa bulan Sya’ban keseluruhan kecuali sedikit.”

Semetara dalam hadits lain beliau melarang puasa sunnah bila telah memasuki pertengahan bulan ( nishfu Sya’ban). Hadits riwayat Ibnu Hibban menyebutkan bahwa Abu Harirah berkata,”Rasulullah bersabda,’Tidak ada puasa (sunnah) setelah pertengahan bulan Sya’ban sampai datang bulan Ramadhan.” Tapi pada suatu hari di akhir bulan Sya’ban , seperti yang diriwayatkan Muslim, beliau pernah bertanya kepada seorang laki-laki,”Apakah kamu telah puasa di penghujung bulan Sya’ban ini?” Ia menjawab,’Tidak’. Sebelum datangnya Ramadhan, maka puasalah sehari atau dua hari.”

Selain itu ada hadits lain yang menambah bingung dalam memahami hadits-hadits tersebut di atas, yaitu hadits tentang larangan puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Hari itu lebih dikenal dengan sebutan hari yang meragukan ( yaum al-syak ) . Maksudnya adalah hari antara akhir Sya’ban dan awal Ramadhan, karena hari itu belum bisa dipastikan apakah sudah masuk Ramadahan atau belum.

Imam al-Qurthubi mencoba menjelaskan tentang hadits-hadits di atas. Menurutnya tidak ada yang kontradiktif antara hadits yang melarang puasa pasca nishfu Sya’ban dengan hadits yang menyatakan tidak boleh puasa pada hari syak dan hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah menyambung puasa bulan Sya’ban dengan bulan Ramadhan.

Larangan puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan atau pasca nishfu Sya’ban itu bagi orang-orang yang tidak biasa berpuasa. Karena hal itu dikhawatirkan akan mengganggu kondisi fisiknya saat memasuki Ramadhan, sehingga puasa wajibnya pada bulan Ramadhan akan terganggu. Tapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan puasa sunnah, maka puasa pasca nishfu Sya’ban atau menjelang awal Ramadhan tidak dilarang.

Pendapatnya ini didasarkan pada hadits berikut. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,”Sungguh, janganlah kamu mendahului Ramadhan dengan puasa sunnah sehari atau dua hari, kecuali bila sudah terbiasa puasa sunnah, maka silahkan saja puasa pada hari-hari tersebut.” ( HR> Bukhari ).

Yang dikhawatirkan Rasulullah tentang puasa menjelang Ramadhan ini akan mengganggu puasa wajibnya, bisa kita saksikan di sebagian masyarakat Muslim kita. Pada bulan Dzulhijjah banyak yang berpuasa sunnah sejak tanggal satu, tetapi ketika sampai pada hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) mereka kelelahan, dan mereka tidak bisa berpuasa pada hari itu, padahal puasa Arafah ini merupakan sunnah Nabi.

Oleh karena itu bagi yang hendak berpuasa pada bulan Sya’ban lalu diteruskan dengan puasa Ramadhan, jika mampu untuk melaksanakannya boleh-boleh saja. Jadi, berpuasa setelah nishfu Sya’ban atau sebelum Ramadhan, kalau sudah terbiasa puasa sunnah Senin-Kamis misalnya, maka diperbolehkan melaksanakannya. Yang penting jangan sampai puasa sunnah itu mengganggu puasa wajib pada bulan Ramadhan.

Apalagi bagi orang yang belum sempat membayar hutang puasa Ramadhan tahun lalu, maka hendaklah ia membayar hutang puasanya itu sebelum Ramadahn tiba, walaupun sudah melewati pertengahan bulan Sya’ban.

Barangkali Anda punya pendapat lain, ditunggu komentarnya.

Lanjut membaca “Puasa Sunnah Pasca Nishfu Sya'ban”  »»

Selasa, Agustus 04, 2009

Shalat Malam Nishfu Sya’ban, Adakah ?

Oleh Abdul Aziz | 13 Sya'ban 1430

Imam al-Ghazali dalam bukunya yang terkenal, Ihya’ ‘Ulumiddin menyebutkan bahwa pada malam nishfu Sya’ban ada shalat khusus. Ia menyatakan,”Pada malam lima belas bulan Sya’ban, ada shalat 100 rakaat. Setiap dua rakaat membaca salam. Setiap rakaat membaca surah al-Fatihah, dilanjutkan dengan surah al-Ikhlash 11 kali. Atau bisa juga shalat 10 rakaat. Setiap rakaat membaca surah al-Fatihah lalu membaca al-Ikhlas 100 kali.” Benarkah ada shalat nishfu Sya’ban?


Al-Ghazali mengatakan hal itu berdasarkan riwayat dari al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Al-Hasan berkata,”Aku telah diberitahu 30 orang shahabat Rasulullah SAW, bahwa barangsiapa melakukan shalat malam nishfu Sya’ban, maka Allah akan memandangnya 70 kali, dan dari setiap pandangan dikabulkan 70 hajatnya, dan hajat yang paling rendah adalah pengampunan dosanya.”

Syekh Sayyid Imran menguji validitas hadits-hadits yang ada dalam buku Ihya’ Ulumiddin. Menurutnya,”Dalil yang dipakai al-Ghazali itu bathil. Dan di sana ada riwayat lain yang menyebutkan adanya perintah dari Rasulullah tentang shalat pada malam nishfu Sya’ban yang diriwayatkan Ibnu Majah, tapi hadits tersebut dinyatakan oleh para ulama hadits sebagai hadits dhoif (lemah)”.

Di negeri kita ada juga bentuk lain dari shalat malam nishfu Sya’ban yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat Muslim. Mereka melakukan shalat sunnah dua rakaat seusai shalat maghrib di malam nishfu Sya’ban. Sesudah shalat, membaca surah Yasin 3 kali. Pertama, untuk memohon panjang umur. Kedua, memohon rizki. Ketiga, memohon tetap iman dan khusnul khatimah. Lalu berdoa dengan doa khusus.

Ada juga hadits yang lain tentang disyariatkannya shalat pada malam nishfu Sya’ban, yang tentunya palsu, yaitu :
“Barangsiapa yang menghidupkan malam dua hari raya (Fithri dan Adhha) dan malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati saat hati-hati lainnya mati.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam bukunya Al-Ilal . Dan ia menyatakan hadits tersebut palsu, karena pada sanadnya terdapat perawi yang banyak memiliki catatan kurang baik.

Imam al-Qari, penulis buku Al-Umdah (penjelasan Buku Shahih al-Bukhari) mengatakan,”Kalau ada hadits yang menyeru shalat 100 rakaat pada malam nishfu Sya’ban dengan membaca surah al-Ikhlash 10 kali dalam setiap rakaat adalah palsu.”

Sedangkan Ali bin Ibrahim menyatakan shalat malam nishfu Sya’ban itu bid’ah.Tidak ada satu pun hadits atau atsar yang menjelaskan hal itu, kecuali hadits lemah sekali atau palsu.

Kebanyakan ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, para ahli fiqih Madinah dan murid-murid Malik menolak shalat nishfu Sya’ban, dan mereka mengatakan,”Semua itu bid’ah”.

Sedangkan Imam an-Nawawi, seorang ulama terkenal dalam mazhab Syafi’i menegaskan,”Shalat Rajab dan shalat Sya’ban adalah dua bid’ah yang mungkar dan buruk. Jangan terpedaya dengan apa yang tertulis dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya ‘Ulumiddin, atau hadits yang menjelaskan adanya dua shalat tersebut, karena semuanya bathil.”

Memang kita mengetahui keutamaan bulan Sya’ban ini, tapi kita tidak boleh melakukan hal-hal yang melewati batas-batas yang telah ditentukan Rasulullah SAW. Beliau yang paling mengetahui keistimewaan bulan Sya’ban, karena sebagai rasul ia diutus Allah untuk menjelaskan kepada umatnya.

Kita juga mengetahui, ketika Rasulullah SAW masih hidup, bulan Sya’ban itu sudah ada. Sehingga kalau ada shalat sunnah pada malam nishfu Sya’ban itu, tentunya beliau akan mengajarkannya kepada para shahabatnya. Dan tentunya akan banyak dalil atau hadits yang shahih tentang hal itu.

Tapi justru sebaliknya para ulama hadits menyatakan bahwa tidak ada perintah Rasulullah untuk melaksanakan shalat malam nishfu Sya’ban. Para ulama itu juga menyatakan bahwa shalat nishfu Sya’ban itu bid’ah.

Sebenarnya shalat sunnah itu cukup banyak, tentunya dengan dalil-dalil yang shahih. Shalat sunnah yang bisa dikerjakan siang hari, malam hari atau kapan pun banyak dicontohkan Nabi SAW. Bisa dilakukan pada malam nishfu Sya’ban, atau pada nishfu bulan lainnya.

Hal lain yang sering dilakukan pada malam nishfu Sya’ban adalah membaca surah Yasin secara khusus. Tentang ini , KH. Dr. Ahmad Luthfi Fathullah, MA, seorang ulama pakar ilmu hadits, menegaskan,”Tidak ada ajaran yang mengharuskan kita membaca surah Yasin, dua atau tiga kali. Haditsnya palsu. Tetapi kalau ada orang yang ingin membaca surah Yasin, maka boleh-boleh saja. Tidak hanya di pertengahan Sya’ban saja, di sepertiga atau seperempat malamnya juga boleh. Cuma jangan mengatakan bahwa membaca surah Yasin pada malam pertengahan Sya’ban karena ada sumber haditsnya. Ada 10.000 hadits yang menjelaskan tentang fadhilah al-Quran.Dan kita disunnahkan untuk membaca al-Quran kapan saja. Tetapi jangan menyandarkan amalan kita pada hadits yang palsu. Pakai saja hadits yang shahih”.

Uraian singkat ini tentu tidak lengkap, tentunya Anda diharapkan sekali untuk melengkapi melalui komentar-komentarnya.

Sumber Rujukan :

Majalah Ghoib, Edisi 71 Th. 4, 17 Ramadhan 1427 / 7 Oktober 2006


Lanjut membaca “Shalat Malam Nishfu Sya’ban, Adakah ?”  »»

Puasa Sunnah Sya'ban

Oleh Abdul Aziz | 13 Sya'ban 1430

Puasa sunnah pada bulan Sya’ban tidak begitu akrab bagi masyarakat Muslim kita. Sebagian besar hanya mengenal puasa sunnah hari Senin dan Kamis, hari Arafah, dan hari Asyura. Sebaliknya mereka lebih mengenal dan sering melakukan puasa sunnah bulan Rabiul Awal dan Rajab mulai dari tanggal satu, bahkan banyak yang sampai satu minggu. Padahal puasa pada bulan Sya’ban ini selalu dilakukan Rasulullah SAW.


Sebenarnya puasa sunnah Sya’ban ini sudah diperkenalkan kepada anak-anak melalui materi pelajaran PAI di Sekolah Dasar, tapi kebiasaan masyarakat lebih berpengaruh kepada keberagamaan kita.

Rasulullah menyambut keutamaan bulan Sya’ban dengan melakukan puasa. Puasanya sebagaimana puasa bulan Ramadhan, hanya hukumnya sunnah. Tidak ada cara-cara tertentu atau hal-hal yang khusus dan tujuan tertentu dalam puasanya itu, seperti untuk pesugihan atau kedigdayaan.

Puasa sunnah Sya’ban ini senantiasa dilakukan Nabi SAW. Mengenai berapa lama beliau berpuasa, para ulama berbeda pendapat, karena beragam riwayat yang menjelaskan puasa Rasulullah SAW di bulan Sya’ban.

Pendapat para ulama tentang berapa hari puasa itu dilakukan Nabi SAW cukup beragam :

1. Puasa Sya’ban sebulan penuh

Beberapa riwayat menjelaskan bahwa pada bulan Sya’ban beliau berpuasa sebulan penuh, sehingga menyambung puasanya itu dengan puasa Ramadhan. Riwayat yang menjelaskan hal ini di antaranya adalah :
Dari Abu Salamah , bahwa Aisyah telah memberitahunya,”Rasulullah tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban, sesungguhnya beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh...” (HR Bukhari ).

2. Puasa sebanyak mungkin, tapi kurang dari sebulan

Rasulullah SAW diriwatkan tidak puasa sebulan penuh, tapi kurang beberapa hari. Hal ini dijelaskan dalam riwayat shahih berikut:

Abu Salamah berkata,”Aku telah bertanya kepada Aisyah tentang puasa Rasulullah. Ia menjawab,’Rasulullah terus berpuasa hingga kami menyatakan bahwa beliau puasa terus menerus. Dan terkadang beliau terus berbuka (tidak puasa) hingga kami menyatakan bahwa beliau terus berbuka (tidak puasa). Dan aku tidak melihat Rasulullah berpuasa dalam suatu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban. Beliau puasa pada seluruh bulan Sya’ban, dan beliau puasa bulan Sya’ban keseluruhan kecuali sedikit.” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa beliau terus berpuasa dan di akhir hadits itu dinyatakan tidak sepenuhnya selama sebulan. Entah kurang sehari, dua atau tiga hari. Tapi jelas tidak sebulan penuh.

3. Puasa sampai pertengahan bulan

Di samping hadits-hadits di atas ada juga riwayat yang menyatakan bahwa beliau melarang puasa sunnah bila telah memasuki petengahan bulan.
Abu Hurairah berkata,”Rasulullah bersabda,’Tidak ada puasa (sunnah) setelah pertengahan bulan Sya’ban sampai datang bulan Ramadhan.’” (HR Ibnu Hibban ).

4. Puasa satu atau dua hari saja

Imran bin Hushain berkata,”Rasulullah pernah bertanya kepada seorang laki-laki,’Apakah kamu telah puasa di penghujung bulan Sya’ban ini?’ Ia menjawab,’Tidak’. Sebelum datangnya Ramadhan, maka puasalah sehari atau dua hari.” (HR Muslim).

Hadits tersebut , kata Imam al-Qurthubi, merupakan pembiasaan kebaikan dari Rasulullah agar tidak terputus. Dan itu merupakan anjuran untuk orang yang mukallaf agar tidak melewatkan puasa sunnah Sya’ban begitu saja. Ketika ada shahabatnya yang tidak puasa, beliau menganjurkan puasa barang sehari atau dua hari. Karena hal itu tidak terlepas dari keutamaan puasa bulan Sya’ban yang begitu besar, sayang kalau dilewatkan.

Kalau kita perhatikan hadits-hadits di atas, bisa disimpulkan bahwa puasa di bulan Sya’ban ini hukumnya sunnah. Apabila kita mau mengikuti sunnah Rasulullah untuk berpuasa pada bulan ini, maka puasalah sebulan penuh, sebulan kurang, atau puasa beberapa hari saja.

Mungkin Anda punya pendapat lain tentang puasa Sya’ban ini , saya tunggu komentar Anda .

Sumber Rujukan :

Majalah Ghoib, Edisi 71 Th. 4, 17 Ramadhan 1427 / 7 Oktober 2006

Lanjut membaca “Puasa Sunnah Sya'ban”  »»

Keutamaan Bulan Sya'ban

Oleh Abdul Aziz | 13 Sya'ban 1430

Materi pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah tidak banyak mengulas tentang bulan Sya’ban. Paling-paling hanya sekedar menyebutkan puasa sunnah diantaranya puasa di bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban ini termasuk bulan yang disukai Rasulullah SAW, karena menurut beliau pada bulan ini diangkatnya amal-amal kepada Rabbul ’alamin, Allah SWT.


Kalender hijriyah memiliki dua belas bulan sebagaimana kalender masehi. Hanya tahun hijriyah ini dihitung berdasarkan peredaran bulan, sedangkan tahun masehi berdasarkan peredaran matahari. Satu tahun hijriyah yang terdiri dua belas bulan ini disebutkan di dalam Al Quran. ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,...” ( QS. At-Taubah, 9 : 36 ).

Hari-hari pada penanggalan hijriyah yang dimulai bulan Muharram ini bisa terdiri dari 29 atau 30 hari. Berbeda dengan penanggalan masehi yang bisa berjumlah 28 sampai 31 hari dalam satu bulan. Sehingga setiap tahun terjadi pergeseran sekitar sebelah hari dalam penanggalan masehi. Sebagai contoh, misalnya tahun baru hijriyah 1 Muharram 1427 bertepatan dengan tanggal 31 Januari 2006, tahun baru 1428 pada tanggal 20 Januari 2007, tahun baru 1429 pada tanggal 10 Januari 2008. Sedangkan 1 Muharram 1430 masih di tahun 2008, tepatnya tanggal 29 Desember. Sedangkan tahun baru hijriyyah yang akan datang, tahun 1431, bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009.

Kata Sya’ban, menurut Ensiklopedi Islam, berasal dari kata syi’ab (jalan di atas gunung ). Dikatakan Sya’ban karena pada bulan itu ditemui berbagai jalan untuk mencapai kebaikan. Menurut Syekh ‘Alamuddin as-Sakhawi, kata Sya’ban berasal dari kalimat ‘Tasya’ubil Qabail’ artinya berpecahnya kabilah-kabilah atau berpisah-pisahnya (bercabang-cabang) mereka. Sedangkan Cyril Glasse mengartikan kata Sya’ban sebagai ‘bulan pembagian’.

Bulan Sya’ban yang hari ini memasuki tanggal 13 tahun 1430 memiliki keutamaan. Masyarakat Muslim banyak yang tidak mengetahui bahwa Sya’ban ini termasuk bulan yang disukai Rasulullah SAW. Beliau banyak melakukan puasa pada bulan tersebut, bahkan menurut beberapa riwayat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh.

Pada bulan Sya’ban ini, amalan-amalan kita dilaporkan kepada Allah SWT oleh malaikat-malaikat pencatat amal, apakah itu amal kebaikan atau amal keburukan. Oleh karena itu Rasulullah SAW banyak melakukan puasa pada bulan ini.

Rasulullah SAW ketika ditanya oleh beberapa orang shahabat tentang latar belakang puasanya di bulan Sya’ban itu, beliau menjawab, “Bulan diangkatnya amal-amal kepada Robbul ‘alamin. Maka aku ingin diangkat amalku dan aku sedang puasa” ( HR. Nasa’i ).

Ada beberapa riwayat hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sangat mencintai bulan Sya’ban. Kecintaannya itu ditunjukkan melalui sikap dan perbuatannya yang mencerminkan bahwa bulan Sya’ban ini memilki nilai keutamaan tersendiri.

Keutamaan Sya’ban ini disampaikan Rasulullah SAW, yang menurut penilaian para ahli hadits termasuk hadits yang shahih.
Abdullah bin Abi Qais telah mendengar Aisyah berkata, ”Termasuk bulan yang paling disukai Rasulullah untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya’ban, lalu beliau menyambungnya dengan bulan Ramadhan (HR. Ahmad, Abu Daud, dan al-Hakim).

Dalam riwayat lain, Usamah bin Zaid berkata,”Aku telah bertanya,’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau puasa di bulan=bulan lainnya seperti puasa engkau di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah bulan yang dilupakan banyak manusia, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Itu adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Penguasa alam semesta (Allah), dan aku sangat suka jika amalku diangkat dan aku sedang berpuasa.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Di samping hadits-hadits shahih seperti tersebut di atas, ada beberapa buku yang ditulis berbicara tentang keutamaan bulan Sya’ban. Tapi ada beberapa dalil yang dibuat-buat, bahkan dipalsukan. Sehingga tidak layak untuk dijadikan sebagai landasan akan keutamaan bulan Sya’ban itu sendiri.

Beberapa dalil yang dinyatakan oleh para ulama pakar ilmu hadits sebagai hadits palsu (maudhu’) berbicara tentang keutamaan bulan Sya’ban. Dalil-dalil itu terdapat dalam buku Durratun Nashihin, buku yang banyak dijadikan referensi oleh sebagian masyarakat Muslim di negeri kita.

Riwayat itu di antaranya,”Keutamaan bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya seperti keutamaanku dibanding seluruh para nabi. Dan keutamaan bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya seperti keutamaan Allah dibanding para hamba-Nya.”

Imam Ibnu Hajar mengatakan,”hadits tersebut palsu (maudhu’). Karena as-Saqthi salah seorang perawinya terkenal sebagai pemalsu hadits dan sanad. Dan perawi-perawi lainnya dalam hadits itu sama sekali tidak pernah meriwayatkan hadits ini. Dengan demikian, jelas sekali bahwa hadits itu buatan as-Saqthi sendiri”.

Walaupun kita mengetahui keutamaan bulan Sya’ban ini, namun kita tidak boleh melakukan sesuatu dengan cara-cara yang tidak dicontohkan Rasulullah SAW. Hadits-hadits shahih di atas menjelaskan kepada kita, bahwa untuk memperoleh keutamaan dari bulan Sya’ban ini dengan melakukan puasa.

Barangkali karena keutamaan itulah yang menjadikan sebagian masyarakat Muslim kita melakukan ibadah dan ritual-ritual tertentu pada pertengahan bulan ini ( nishfu Sya’ban ). Mereka melakukan shalat khusus dan membaca Surah Yasin beberapa kali dengan cara tersendiri. Amalan-amalan itu mereka yakini bisa menambah rizki, memanjangkan umur dan menolak bala. Membaca Surah Yasin tentu sangat baik, tetapi menjadi tidak tepat bila hal itu dilakukan khusus untuk menyambut nishfu Sya’ban dan menganggap bahwa itu ada sumber haditsnya. Dan itu semua tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Bagaimana pendapat Anda ? Komentar Anda sangat diharapkan.

DAFTAR RUJUKAN

Azra, Azyumardi (Pemred). 2001. Ensiklopedi Islam. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve

Glasee, Cyril. 2002. Ensiklopedi Islam (Ringkas), Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

Majalah Ghoib, Edisi 71 Th. 4, 17 Ramadhan 1427 / 7 Oktober 2006


Lanjut membaca “Keutamaan Bulan Sya'ban”  »»