Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 31, 2010

Ajaran Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan

Selasa, 27 Juli 2010, 21:13 WIB

Sejak bulan Sya'ban, Rasulullah menganjurkan ummatnya agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan 'tamu mulia' bernama Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum sunah. Hal ini sebagai persiapan mental sekaligus fisik untuk menghadapi bulan yang disucikan itu.

Saat-saat menanti Ramadhan, para sahabat tak bedanya seperti calon pengantin yang merindukan hari-hari pernikahannya. Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat membara.


Merupakan tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya'ban para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Kebiasaan Rasulullah dan para sahabatnya ini, perlu dihidupkan lagi tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini. Biarlah Hari Raya Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. Tahniah, saling mengucapkan 'selamat' adalah kebiasaan baik yang ditadisikan Rasulullah.

Dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang tua untuk mengucapkan tahniah, memohon maaf, dan meminta nasihat menjelang Ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu sampai ke tujuan. Adalah baik jika kebiasaan itu dikemas secara kreatif, misalnya dengan mengirimkan kartu Ramadhan.

Adapun tentang ceramah yang diselenggarakan khusus untuk menyambut Ramadhan, Rasulullah telah memberikan contohnya. Pada saat itu sangat tepat jika disampaikan tentang segala hal yang berkait langsung dengan Ramadhan. Mulai dari janji-janji Allah terhadap mereka yang bersungguh-sungguh menjalani ibadah Ramadhan, amalan-amalan yang harus dan sunnah dikerjakan selama Ramadhan, sampai tentang tata cara menjalankan seluruh rangkaian ibadah tersebut.

Salah satu penggalan khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan yang menggetarkan itu adalah, "Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam di mana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari...."

Red: irf
Rep: Emmy Hamidiyah, Sekretaris Umum Baznas

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/27/127061-ajaran-rasulullah-saw-menyambut-ramadhan

Lanjut membaca “Ajaran Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan”  »»

Jumat, Agustus 21, 2009

Puasa Ramadhan

Oleh Abdul Aziz | 30 Sya’ban 1430

Puasa Ramadhan sudah begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Muslim kita. Sejak di Taman Kanak-kanak puasa sudah diperkenalkan. Pada setiap tingkat pendidikan yang lebih tinggi puasa selalu dipelajari karena selalu dimasukkan ke dalam kurikulum . Dan Pendidikan Agama Islam sejak awal republik ini berdiri menjadi pelajaran wajib.

Puasa di dalam Al Quran disebut shiyam . Kata itu disebut delapan kali dalam Al-Quran. Semuanya berarti puasa menurut pengertian hukum syariat. Al-Quran juga menggunakan kata shaum , tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak berbicara. Hal ini dilakukan oleh Maryam ketika ia banyak ditanya oleh orang-orang tentang kelahiran anaknya (Isa a.s. ).


Pengertian Puasa

Kata shiyam atau shaum berasal dari akar kata yang sama, yaitu sha-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak” . Menurut istilah, berarti menahan diri dari segala yang membatalkan puasa pada waktu tertentu dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan syarat-syarat tertentu.

Ayat-ayat Al Quran tentang puasa Ramadhan, terdapat dalam surah Al-Baqarah (2) : 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena surah Al-Baqarah ini diturunkan di Madinah. Kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ini ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah. Tapi sebelum ayat ini turun tidak berarti bahwa mereka tidak pernah berpuasa. Ketika baru tiba di Madinah, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa 3 hari dalam sebulan. Di samping mereka melaksanakan puasa Asyura (10 Muharram) sebagaimana yang dialukan oleh orang-orang Yahudi di Madinah ketika itu.

Setelah turunnya kewajiban berpuasa Ramadhan, maka yang diwajibkan atas orang-orang beriman hanyalah puasa Ramadhan, sedangkan puasa-puasa yang lain yang sebelumnya dilaksanakan oleh kaum Muslimin menjadi puasa sunat.

Tujuan Puasa

Tujuan puasa secara jelas dinyatakan dalam Al Quran adalah untuk mencapai ketakwaan ( la’allakum tattaqun ). Ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa.

Takwa bermakna menjaga diri dari siksa Allah. Menghindari siksa atau hukuman Allah, dilakukan dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt. setiap saat, “ bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadarai bahwa Allah melihatnya”.

Esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan dan pengendalian diri itulah esensi puasa.

Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, untuk kepentingan pribadi atau masyarakat. Tidak heran jika puasa telah dikenal oleh umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana diinformasikan oleh Al Quran.

Allah menggunakan bentuk kalimat pasif dalam menetapkan kewajiban puasa, Kutiba ‘alaikumush shiyama ( diwajibkan atas kamu berpuasa ), tidak menyebut siapa yang mewajibkannya. Tapi sebenarnya di sini cukup jelas bahwa yang mewajibkannya adalah Allah Swt. Walaupun demikian hal ini mengisyaratkan bahwa seandainya pun bukan Allah yang merwajibkan puasa, maka manusia yang menyadari manfaat puasa, akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Terbukti motivasi berpuasa ( tidak makan atau mengendalikan diri ) yang selama ini dilakukan manusia, bukan semata-mata atas dorongan ajaran agama. Misalnya demi kesehatan, atau kecantikan tubuh, dan bukanlah pula kepentingan pengendalian diri disadari oleh setiap makhluk yang berakal.


Hikmah Puasa

Banyak hikmah yang dapat diperoleh dari berpuasa. Ada hikmah yang berdampak secara individual dan ada hikmah yang berdampak secara sosiologis.

Dampak secara individual adalah :

1. Untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Untuk meningkatkan ketakwaan.
3. Untuk meningkatkan kesabaran.
4. Untuk mengendalikan hawa nafsu.
5. Untuk menumbuhkan sifat amanah dan keikhlasan beramal.
6. Untuk mendidik jiwa, menyucikan hati dan menyembuhkan penyakit hati.
7. Untuk mendapatkan pengampunan.


Dampak secara sosiologis adalah:

1. Untuk meningkatkan pengawasan nurani terhadap segala tindakannya.
2. Untuk menumbuhkan solidaritas kemanusiaan.
3. Untuk membiasakan diri berbuat baik kepada orang lain.
4. Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang , kepedulian dan semangat berbagi dengan sesama.
5. Untuk mengikis kesombongan , iri hati dan dengki.
6. Untuk membiasakan diri jauh dari perbuatan-perbuatan maksiat.


Syarat Wajib dan Rukun Puasa

Syarat wajib Puasa : Islam; balig; berakal; mampu berpuasa; mengetahui wajibnya puasa; sehat; muqim ( tidak musafir).

Rukun puasa adalah : niat; menahan diri dari segala yang membatalkan puasa; berpuasa pada waktunya ( bulan Ramadhan ).

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Berpuasa

1. Yang perlu dilakukan, adalah :
a. Berniat puasa pada malam harinya.
b. Berimsak ( menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa ).
c. Melakukan hal-hal yang disunatkan dalam berpuasa.
d. Segera berbuka apabila sudah waktunya.
e. Baca doa sebelum berbuka.
f. Makan sahur.
g. Yang berhadas besar disunatkan mandi sebelum Subuh.
h. Memperbanyak sadaqah.
i. Memberi makanan untuk berbuka.
j. Memperbanyak membaca Al Quran dan berzikir.
k. Melakukan qiyamullail ( tarawih ).
l. Melakukan i’tikaf di masjid.

2. Yang perlu dihindari, adalah :
a. Menceritakan keaiban atau kejelekan orang lain.
b. Mencela, mengumpat, mencaci, memaki.
c. Berbuat atau mengucapkan hal-hal yang dapat merugikan orang lain.
d. Berbohong.
e. Menjadi saksi palsu.

Hal-hal yang mewajibkan Berbuka

Hal-hal yang mewajibkan seseorang berbuka puasa ( tidak berpuasa ) adalah : haid; nifas. Mereka diwajibkan mengqada.

Hal-hal yang Membolehkan Berbuka

1. Safar ( bepergian ).
2. Sakit
3. Tidak mampu
4. Jihad ( dalam arti berperang untuk menegakkan agama ).
5. Hamil
6. Menyusui.


Hal-hal yang Menggugurkan Kewajiban Puasa

1. Lanjut usia.
2. Sakit yang tidak dapat disembuhkan.
3. Tidak mampu berpuasa karena pekerjaan yang sangat berat.
4. Orang gila.

DAFTAR RUJUKAN

Shihab, M. Quraish. 1997. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung : Penerbit Mizan

Raya, Ahmad Thib dan Mulia, Siti Musdah. 2003. Menyelami Seluk-Beluk Ibadah dalam Islam. Bogor : Kencana


Lanjut membaca “Puasa Ramadhan”  »»

Moment-moment Penting di Bulan Ramadhan

Oleh Abdul Aziz | 30 Sya’ban 1430

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang agung dan penuh berkah. Satu-satunya nama bulan yang tercantum dalam Al-Quran ( Al-Baqarah, 2 : 185 ). Kemuliaan, keagungan dan keberkahannya berkaitan erat dengan keutamaan amal dan nilai-nilai yang terkandung di dalam bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dalam pidatonya pada hari terakhir di bulan Sya’ban menyatakan bahwa kita dalam naungan bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya ada satu malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan diwajibkannya puasa dan malamnya disunnahkan shalat (tarawih) . Ramadhan adalah bulan kesabaran, bulan untuk berbagi, bulan penuh kasih dan ampunan.


Kemuliaan dan keagungan bulan Ramadhan ditunjukkan dengan nama-nama tertentu yang dilekatkan pada bulan ini. Nama-nama tersebut merefleksikan moment-moment penting pada bulan Ramadhan, di antaranya adalah :
1. Syahr Allah (Bulan Allah), karena Allah memberikan pahala yang besar bagi orang yang berbuat baik di bulan ini. Ibadah puasa pun pahalanya langsung diberikan Allah sendiri.
2. Syahr al-Quran ( bulan diturunkannya Al-Quran / Nuzul al-Quran ).
3. Syahr al-tilawah ( bulan membaca Al-Quran ).
4. Syahr al-shabr ( bulan pelatihan untuk bersabar).
5. Syahr al-rahmah ( bulan kasih sayang, bulan waktu Allah melimpahkan rahmat-Nya ).
6. Syahr al-Shiyam ( bulan dilaksanakannya ibadah puasa ).
7. Syahr al-jud ( bulan untuk berbagi ).


Ramadhan bagi umat Muslim memiliki makna tersendiri, karena berbagai peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam terjadi pada bulan ini. Peristiwa-peristiwa penting itu di antaranya :

1. Turunnya wahyu pertama al-Quran, yaitu surah al-Alaq (96) : 1 – 5 (Nuzul al-Quran ) dan pengangkatan Muhammad sebagi Rasul Allah ketika sedang berkhalwat di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan.
2. Tahun duka cita ( ‘Amm al-Hazn ) , yaitu meninggalnya Abu Thalib, paman Nabi Muhammad, dan Khadijah binti Khuwailid, istrinya, pada tahun ke-10 kerasulan. Kedua orang inilah yang selalu memberikan support dalam berdakwah. Selama Abu Thalib hidup tak seorang pun berani mengganggu Nabi secara terang-terangan. Khadijah pun membantu dengan hartanya untuk berdakwah.
3. Pada bulan Sya’ban tahun 2 H Allah mewajibkan berpuasa Ramadhan dan mengeluarkan zakat fitrah kepada kaum Muslim.
4. Kemenangan besar Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin dalam Perang Badr al-Kubra (besar) tanggal 17 Ramadhan 2 H. Sebuah kemenangan yang dapat membangkitkan semangat juang kaum Muslimin.
5. Fath Makkah, kemenangan kaum Muslimin atas kota Makkah dan pemusnahan berhala-berhala sesembahan kaum kafir di sekitar Ka’bah pada tanggal 21 Ramadhan 8 H.
6. Pada bulan Ramadhan 9 H penduduk Taif mendatangi
Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Dan pada tahun yang sama utusan kerajaan Hummir memberitahukan keislaman mereka.
7. Pada tahun berikutnya, 10 H, kabilah Hamadan di Yaman menyatakan masuk Islam.
8. Fatimah az-Zahra meninggal pada tanggal 13 Ramadhan 14 H.
9. Ali ibn Abi Thalib wafat pada hari Jumat, 15 Ramadhan 40 H.
10. Pada bulan Ramadhan 53 H, kaum Muslimin menaklukkan Pulau Rhodes di Laut Tengah.
11. Aisyah, istri Nabi, meninggal pada tahun 78 H.
12. Pada bulan Ramadhan 91 H, kaum Muslimin mendarat di pantai selatan Andalusia (Spanyol). Setahun kemudian , 92 H, Thariq ibn Ziyad menaklukkan Spanyol.
13. Ramadhan 361 H Universitas Al-Azhar dibuka di Kairo.
14. Shalahuddin al-Ayyubi , Ramadhan 584 H, mencapai kemenangan gemilang dengan memukul mundur pasukan Salib dan membebaskan beberapa daerah yang diduduki tentara Salib.
15. Negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memproklamasikan kemerdekaannya pada hari Jumat, 10 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945.

Selamat berpuasa !





Lanjut membaca “Moment-moment Penting di Bulan Ramadhan”  »»

Ramadhan yang Panas, Ramadhan yang Nyaman

Oleh Abdul Aziz | 30 Sya’ban 1430

Insya Allah, besok kita memasuki bulan Ramadhan . Bulan kesembilan dalam kalender bangsa Arab dan juga dalam kalender Islam atau Hijriah. Ramadhan yang berarti “yang sangat panas”, merupakan penggambaran yang berasal dari sistem kalender matahari bangsa Arab pra-Islam. Menurut bahasa, Ramadhan berasal dari kata Ramdha’ yang berarti panasnya terik matahari, atau cuaca yang sangat panas. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa dari pengertian itu ada dua pendapat yang saling berkaitan. Pertama, ketika awal diwajibkannya puasa itu kepada umat Islam cuaca sedang panas sekali. Kedua, Ramadhan ini berfungsi untuk membakar dosa, karena pada bulan ini kesempatan untuk memohon ampunan Allah terbuka lebar.


Nama Ramadhan ini diberikan oleh orang-orang Arab pada bulan kesembilan itu, karena pada bulan tersebut padang pasir sangat panas oleh terik matahari. Kebiasaan mereka dalam menyerap istilah asing dengan memberikan suatu istilah yang sesuai dengan keadan pada waktu itu. Maka bulan yang terasa cuacanya sangat panas ini mereka sebut Ramadhan.

Diwajibkannya pertama kali pada musim panas ini memberikan arti tersendiri bagi umat Muslim sekarang, sebab tidak ada alasan untuk menolak kewajiban puasa itu. Pada awal diberlakukannya kewajiban puasa, Rasul dan para shahabat berpuasa dalam cuaca yang tidak ramah sama sekali , padahal sedang menahan lapar dan haus. Di negeri kita yang beriklim tropis, kelelahan itu tidak begitu terasa, berbeda dengan mereka yang tinggal di Timur Tengah.

Puasa juga terasa sangat berbeda apabila bulan Ramadhan itu jatuh pada musim dingin atau musim panas di negeri-negeri yang memiliki kedua musim tersebut. Menurut Danielle Robinson, dari Universitas Branford, melakukan puasa pada dua musim itu terasa sangat berat.

Sifat Maha Rahman dan Maha Rahim Allah sekilas terlihat bertentangan dengan perintahnya yang wajib dilakukan dalam kondisi yang sangat panas. Berpuasa pada siang hari yang panas, haus dan lapar akan terasa sangat melelahkan. Tapi Allah berfirman :

لاَ يُكَلِفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.” ( QS Al-Baqarah, 2 : 286 ). Allah Mahatahu tentang kondisi manusia, sehingga puasa dalam cuaca yang panas pun masih tetap bisa dilakukan dengan baik. Apalagi bila puasanya dilakukan dengan penuh keikhlasan akan terasa nyaman.

Ketentuan hukum, bila ditinjau dari berat ringannya, terbagi menjadi dua, yaitu (1) Azimah dan (2) Rukhshah. Azimah adalah hukum syara yang pokok dan berlaku secara umum bagi seluruh mukallaf ( yang dibebani hukum ) dan dalam setiap keadaan dan waktu, seperti shalat fardlu, misalnya.

Sedangkan Rukhshah adalah peraturan tambahan yang dijalankan sehubungan dengan adanya hal-hal yang memberatkan, sebagai pengecualian dari hukum-hukum yang pokok. Dengan kata lain rukhshah merupakan keringanan dalam menjalankan suatu ketentuan. Misalnya boleh shalat sambil duduk bila tidak mampu berdiri, atau boleh berbuka puasa bagi seorang musafir.

Dalam puasa Ramadhan terdapat keringanan , bagi musafir misalnya. Ia boleh berpuasa atau berbuka. Mengenai hal tersebut para ulama berbeda pendapat. Imam Malik dan Imam Syafi’i menilai bahwa berpuasa lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu, tetapi sebagian besar ulama bermazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa hal ini sebaiknya diserahkan kepada yang bersangkutan. Apa pun pilihannya, itulah yang lebih baik bagi dirinya.Tetapi ada ulama yang menilai bahwa berbuka lebih baik dengan alasan, ini adalah kemudahan dari Allah. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering meminta dispensasi, ini malah ditolak. Tidak baik menolak kemudahan yang telah diberikan Allah kepada kita.

يُرِيْدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ


”Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesulitan”. (QS Al- Baqarah, 2 : 185 ).

Selain itu, kalangan ulama Zhahiriyah dan Syi’ah bahkan mewajibkan berbuka bagi musafir dan orang yang sakit, dan wajib pula menggantinya ( qadha ) pada hari-hari yang lain.

Welcome O Ramadhan. Ramadhan mubarak 4 all ummah.


Lanjut membaca “Ramadhan yang Panas, Ramadhan yang Nyaman”  »»