<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462</id><updated>2012-01-15T22:02:03.230+07:00</updated><category term='Pendidikan Agama Islam'/><category term='Psikologi'/><category term='Pendidikan'/><category term='Dakwah'/><category term='Agama'/><category term='Peradaban Islam'/><category term='Ramadhan'/><category term='My First Post'/><category term='News'/><category term='Metodologi PAI'/><category term='Sya&apos;ban'/><title type='text'>PENDIDIKAN AGAMA ISLAM</title><subtitle type='html'>Untuk hidup yang lebih bermakna</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>95</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3741749347468824702</id><published>2010-11-29T22:21:00.003+07:00</published><updated>2010-11-29T22:25:53.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Beginilah Cara Anak Jalanan Mengenyam Bangku ‎Sekolah</title><content type='html'>REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK--Orang menyebut nya anak punk: rambut jigrak, hidung dan ‎bibir penuh tindik, atau berpakaian ketat yang lusuh. Merokok, minuman keras, bahkan ‎ngedrug sudah menjadi bagian dari keseharian perempuan muda itu.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sekali waktu, Deby--remaja putri tersebut--tiba-tiba datang ke Pusat Kegiatan Belajar ‎Masyarakat Bina Insan Mandiri (PKBM BIM), lembaga yang memberikan bimbingan ‎pengajaran kepada anak jalanan di sekitar Terminal Depok. Kedatangan Deby bersamaan ‎ketika anak-anak jalanan tengah belajar membaca Alquran.&lt;br /&gt;‎&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kehadirannya membuat anakanak dan pembina di PKBM itu terkejut. Bukan semata karena ‎penampilan yang punk, tapi juga tingkah lakunya yang urakan. Bahasa tubuhnya ‎mengisyaratkan gerakan nakal. Keterkejutan itu mereda setelah Deby mengutarakan niatnya.&lt;br /&gt;‎"Waktu itu, saya cuma ngerasa capek tinggal di jalan. Lalu, saya dapat info dari teman, ‎katanya PKBM BIM buat anjal (anak jalanan) yang pengen belajar," dua mengisahkan ‎peristiwa ketika pertama datang ke PKBM ini.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Deby telah berbulat tekad untuk berubah. Tekad dan niat baik itu disambut dengan tangan ‎terbuka. Sembari belajar bersama anak-anak jalanan yang lain, ia pun mulai memperbaiki ‎penampilan. Rambutnya tidak lagi jigkrak, tindikan di tubuhnya pun dilepas. Pakaiannya tidak ‎lagi ketat, bahkan agak longgar.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sekitar dua bulan dibina di PKBM BIM, ia benar-benar ber ubah. Deby telah meninggalkan ‎perilaku buruk meski sesekali diam-diam ia masih merokok di luar lingkungan PKBM BIM. ‎Tapi, rambut jigrak-nya telah ditutupi selembar kain kerudung dan pakaian longgar menutupi ‎seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎"Saya juga tidak tahu kenapa, tiba-tiba ingin memakai kerudung. Kata teman-teman tubuh ‎saya seksi, jadi kerap digodai. Saya jadi risih. Maka itu, dikerudungi," ujarnya blak-blakan. ‎Mustami, salah seorang relawan PKBM BIM, menuturkan, saat kedatangan Deby, anak-anak ‎binaan takut. Bahkan, tidak sedikit yang menjauhi. Mereka tidak mau berteman dengannya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Dia juga mengakui adanya perubahan pada diri perempuan muda itu. Mustami mengatakan, ‎Deby sekarang berbeda dengan yang dulu. Meski tetap memperlihatkan sikap manja dan ‎merokok diam-diam, Deby telah memiliki perilakunya lebih baik.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Saat ditanya mengenai Deby yang menggunakan kerudung dan pakaian longgar, ia ‎mengatakan tidak pernah memerintahkannya. Itu kemauannya sendiri untuk menutupi ‎tubuhnya. "Hikmah dari Allah SWT memang tidak pilih-pilih orang, bisa didapatkan siapa ‎saja," tuturnya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Di PKBM BIM, menurut Mustami, anak-anak binaan memang diajarkan agama. "Kami ‎mengajarkan agama tidak dengan perintah, tetapi dengan contoh. Mereka tidak bisa diajarkan ‎dengan perintah," dia berujar. Pelajaran Bagaimana pola pengajaran yang dilakukan di PKBM ‎ini?&lt;br /&gt;Mustami mengungkapkan, setiap pagi pukul 08.00 WIB, anak-anak diberikan pelajaran ‎membaca dan menulis ayat-ayat Alquran.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;PKBM BIM juga mengadakan khitan dan nikah massal. Pasalnya, cukup banyak anak jalanan ‎yang sudah balig, tapi belum dikhitan. Tingkat seks bebas di kalangan anak-anak jalanan juga ‎cukup tinggi. Karena itu, jika ada yang hamil, pengurus PKBM menikahkannya. Tentu saja ‎setelah memperoleh izin dari orang tua.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Saat ini, terdapat 30 keluarga yang masih tinggal di asrama PKBM BIM. Puluhan keluarga ‎baru ini tetap diberikan bim bingan agar memiliki tanggung jawab dan tidak rapuh. Jika mem ‎butuhkan modal untuk usaha, PKBM akan memberikannya tanpa jaminan.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Mustami menyatakan, lembaga ini tidak pernah meminta da na kepada lembaga lain. "Jika ada ‎yang memberikan, kami sa ngat berterima kasih." Jujur saja, katanya, terkadang pemasukan ‎PKBM tidak sesuai dengan pengeluaran yang dibutuhkan. "Bangunan tempat belajar pun ‎banyak yang bocor," tuturnya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Meski dengan berbagai kekurangan, jangan menanyakan prestasi yang sudah didapatkan anak-‎anak jalanan binaan PKBM ini. Berbagai piagam dan penghargaan terpampang di ruang kantor ‎PKBM BIM yang berukuran sekitar 2 x 4 meter persegi itu. Terakhir, seorang anak jalanan ‎binaan PKBM BIM, Adam, memenangkan kejuaraan terbuka panjat tebing untuk anak-anak ‎kurang dari usia delapan tahun pada September 2010.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎"Saya suka manjat kereta untuk naik ke atap. Hanya main-main, lalu turun di Stasiun UI atau ‎Pasar Minggu untuk mengemis," ucapnya lugu. Adam tidak menyangka, kebiasaannya ‎memanjat kereta berbuah manis pada kejuaraan tersebut. Mustami menilai, banyak potensi ‎terpendam pada anak-anak jalanan. Karena itu, PKBM berupaya membina dan ‎mengembangkan potensi tersebut.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sejumlah usaha mandiri, seperti percetakan dan bengkel, telah dibangun. Bahkan, beberapa ‎anak binaan kini menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri, seperti Universitas Indonesia ‎‎(UI) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Potensi itulah agaknya yang selama ini belum banyak diperhatikan pemerintah. Hingga ‎delapan tahun berdirinya PKBM BIM, lirikan pemerintah boleh dikata tak ada. "Jika diajak ‎kerja sama, kami akan sangat terbuka. Tapi, pemerintah kerap meman dang sebelah mata ‎terhadap PKBM ini," ujarnya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Padahal, anak-anak jalanan yang dibina mulai berani berdiri tegak, menatap masa depan yang ‎lebih baik dengan optimisme. Berkat bimbingan dan pengajaran, mereka umumnya telah ‎berubah. Deby, perempuan muda yang semula berpenampilan punk, kini telah menutup rambut ‎jigrak-nya dengan kerudung.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: irf&lt;br /&gt;Rep: C23‎&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; Republika OnLine , Kamis, 25 November 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Source URL : &lt;/span&gt;http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/25/148738-beginilah-cara-anak-‎jalanan-mengenyam-bangku-sekolah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3741749347468824702?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3741749347468824702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/beginilah-cara-anak-jalanan-mengenyam.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3741749347468824702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3741749347468824702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/beginilah-cara-anak-jalanan-mengenyam.html' title='Beginilah Cara Anak Jalanan Mengenyam Bangku ‎Sekolah'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7687501993626669874</id><published>2010-11-29T22:13:00.004+07:00</published><updated>2010-11-29T22:21:20.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kemdiknas Tata Ulang Sistem Perbukuan Nasional</title><content type='html'>REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Kementerian Pendidikan Nasional akan melaksanakan ‎reformasi sistem perbukuan nasional melalui penataan sistem bahan baku, sumber daya ‎intelektual, teknologi, dan distribusi. Untuk itu, Mendiknas Mohammad Nuh meminta Ikatan ‎Penerbit Indonesia sebagai mitra Kementerian Pendidikan Nasional agar memetakan dengan ‎baik tentang sistem perbukuan itu. "Reformasi dilakukan mulai dari sistem bahan baku, sumber ‎daya intelektual, teknologi hingga distribusinya harus ditata ulang," kata Mendiknas saat ‎membuka Kongres Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) ke-17 di Jakarta, Rabu.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres yang berlangsung mulai 24-26 November 2010 ini mengambil tema Buku ‎Mempercepat Kemandirian Bangsa. Mendiknas menyampaikan selain pentingnya ketersediaan ‎dan kualitas bahan baku, yang harus ditumbuhkan adalah sumber daya intelektual‎&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan buku, kata Mendiknas, terletak pada sumber daya intelektualnya. "Oleh karena itu, ‎harus ditradisikan agar pikiran yang ada di dalam benak sang intelektual bisa dituangkan ‎dalam bentuk tulisan-tulisan," katanya. Mendiknas mengharapkan kongres dapat menghasilkan ‎rumusan yang baik dan jelas sehingga bisa membantu pemerintah yang sedang melakukan ‎reformasi dalam sistem perbukuan di Indonesia.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menekankan bahwa perbukuan bukan menjadi bagian dari kegiatan bisnis kelompok ‎tertentu, tetapi semua orang dapat ambil bagian dari usaha bisnis maupun usaha mencerdaskan ‎anak bangsa. Menurut Mendiknas, meskipun bahan bakunya bagus, kandungan intelektualnya ‎menggunakan teknologi khusus, sehingga bukunya bagus dari perspektif akademik, tetapi ‎kalau sistem bisnis yang berlaku ada faktor ketidakadilan maka buku yang bagus tadi tidak ‎akan menjadi oksigen dalam volume yang besar. "Oleh karena itu, ranah bisnis juga harus ‎ditata. Kita tidak ingin urusan oksigen itu dimonopoli oleh perusahaan X, Y, atau Z," ujarnya.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, sumbatan ada di mana-mana dan salah satu keruwetan yang dihadapi dalam ‎dunia perbukuan adalah menyangkut kebijakan yang tidak ada hubungannya langsung dengan ‎dunia buku. Namun kebijakan ini jelas sangat berpengaruh dalam pengadaan buku, seperti ‎kebijakan dalam pengadaan bahan baku kertas.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal ini, menurut Menteri, sebagai pengguna bahan baku yang mutlak dalam hal ini ‎kertas, salah satu pilihan adalah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan atau ‎affirmative dengan pihak terkait lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‎"Jadi, jelas bahwa buku adalah domain publik sehingga siapa saja bisa memproduksinya. ‎Apalagi buku tidak lagi sebagai suplemen tetapi sudah merupakan kebutuhan untuk hidup ‎dalam masyarakat sehingga harus diberikan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkannya," ‎ujarnya.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua Umum IKAPI Setia Dharma Madjid menyarankan agar buku diberikan ‎gratis ke siswa. Pemerintah, kata dia, membeli buku lalu dibagikan ke seluruh Indonesia. Dia menjelaskan, ‎kebijakan buku pelajaran dapat dihitung antara APBN dan APBD Provinsi/Kabupaten/Kota. ‎‎"Satu anak satu buku," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan, saat ini terdapat 50 juta siswa, jika dalam satu tahun kebutuhan belanja buku ‎per siswa Rp300 ribu maka dibutuhkan dana Rp15 triliun.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‎"Buku pelajaran tersebut berlaku selama lima tahun. Dana buku untuk mencerdaskan anak ‎bangsa itu tidak besar sehingga guru-guru tidak usah menagih ke orang tua untuk membeli ‎buku. Kalau buku masih diperdagangkan di sekolah akan timbul hal-hal negatif," katanya.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Krisman Purwoko&lt;br /&gt;Sumber: ant&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; Republika OnLine, Rabu, 24 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Source URL : &lt;/span&gt;http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/24/148759-kemdiknas-tata-ulang-‎sistem-perbukuan-nasional&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7687501993626669874?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7687501993626669874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/kemdiknas-tata-ulang-sistem-perbukuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7687501993626669874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7687501993626669874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/kemdiknas-tata-ulang-sistem-perbukuan.html' title='Kemdiknas Tata Ulang Sistem Perbukuan Nasional'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3706248755805079059</id><published>2010-11-29T22:09:00.002+07:00</published><updated>2010-11-29T22:12:39.317+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Inilah Tiga Skenario Rekrutmen Guru Baru Kemendiknas</title><content type='html'>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Pendidikan Nasional mulai 2011 ‎menyiapkan tiga skenario rekrutmen guru baru masing-masing untuk jangka pendek, ‎menengah, dan panjang yang ditujukan memenuhi kebutuhan guru yang pensiun, guru bidang ‎studi baru, dan kebutuhan daerah baru. "Untuk mengatasi kebutuhan guru jangka pendek ‎dengan merekrut lulusan S1/D4 yang berminat menjadi guru," kata Mendiknas Mohammad ‎Nuh usai membuka Seminar Guru Nasional 2010 di Kemdiknas, Jakarta, Selasa.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Hadir pada seminar Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Direktur Jenderal ‎Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdiknas Baedhowi, Direktur ‎Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiknas Djoko Santoso, Direktur Jenderal Pendidikan ‎Nonformal dan Informal Kemdiknas Hamid Muhammad, dan Ketua Umum Pengurus Besar ‎PGRI Sulistiyo.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengajar, kata Mendiknas, mereka terlebih dahulu mengikuti pendidikan profesi ‎selama dua semester atau satu tahun. "Kebutuhan guru selalu ada tiap tahun. Oleh karena itu, ‎tidak mungkin mengandalkan dari awal, sehingga kita siapkan yang baru lulus," katanya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Guu-guru yang baru ini, kata Mendiknas, kalau tidak disiapkan pendidikan profesinya akan ‎menjadi beban. "Oleh karena itu, mulai tahun 2011 Kemdiknas akan merintis pendidikan ‎profesi bekerja sama dengan Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK)," katanya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Adapun untuk mengatasi kebutuhan guru pada jangka menengah, pemerintah akan ‎memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang duduk di semester 5 atau 6. Mereka yang ‎berminat menjadi guru ditawarkan untuk pindah jalur, sehingga begitu lulus sudah tidak perlu ‎lagi mengikuti pendidikan profesi satu tahun. "Jadi pendidikan profesi embedded, sudah ‎melekat di situ," katanya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sementara, lanjut Mendiknas, untuk mengatasi kebutuhan guru pada jangka panjang melalui ‎pendidikan sarjana. Pendidikan ini disiapkan bagi lulusan sekolah menengah atas, sekolah ‎menengah kejuruan, atau madrasah aliyah selama empat atau lima tahun.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Layaknya seperti pendidikan kedokteran, kata Mendiknas, mereka yang masuk di fakultas ‎kedokteran, 99 persen ingin menjadi dokter. "Guru nanti juga begitu. Masuk di LPTK ‎‎(Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan) atau jurusan lain memang mau menjadi guru," ‎katanya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Mendiknas menyampaikan mulai 2011 akan merintis delapan LPTK di perguruan tinggi untuk ‎menyiapkan pendidikan bagi calon guru. Pada tahap awal, direncanakan merekrut 1.000 ‎lulusan SMA/SMK/MA untuk dididik selama 4-5 tahun. Selama mengikuti pendidikan, ‎mereka akan diasramakan. "Sekarang kita lengkapi asramanya khusus bagi calon guru," ‎ujarnya.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Siwi Tri Puji B&lt;br /&gt;Sumber: Ant&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; Republika OnLine, &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; Selasa, 23 November 2010&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Source URL : &lt;/span&gt;http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/23/148403-inilah-tiga-skenario-‎rekrutmen-guru-baru-kemendiknas&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3706248755805079059?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3706248755805079059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/inilah-tiga-skenario-rekrutmen-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3706248755805079059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3706248755805079059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/inilah-tiga-skenario-rekrutmen-guru.html' title='Inilah Tiga Skenario Rekrutmen Guru Baru Kemendiknas'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1936210362990649329</id><published>2010-11-29T22:00:00.003+07:00</published><updated>2010-11-29T22:04:01.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Guru PAUD dan Guru SD Ujung Tombak Pembentukan ‎Karakter Bangsa</title><content type='html'>REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG--Guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dan guru ‎SD menjadi ujung tombak pembentukan karakter bangsa sejak dini. Hal ini, kata Menteri ‎Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof Dr Armida S Alisjahbana MA, ‎karena merekalah yang berhadapan langsung dengan anak-anak pada saat proses pembelajaran ‎berlangsung.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎“Peran guru SD dan PAUD menjadi sangat penting dan strategis sebagai pembangun karakter ‎bangsa pada anak-anak,” ujar Armida didampingi Rektor UT Prof Ir Tian Belawati Med, PhD ‎usai memberikan pemaparan pada seminar membangun 'Intelecctual Curiostity untuk ‎Meningkatkan Daya Kreasi dan Inovasi di Universitas Terbuka (UT), Pondok Cabe, ‎Tangerang Selatan, Senin (22/11).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Armida, pendidikan kebangsaan yang ditanamkan terhadap anak-anak sejak dini, ‎akan mempengaruhi perilaku anak-anak di masa yang akan datang. Termasuk sikap dan ‎perilaku kesehariannya baik di tengah masyarakat maupun sikapnya sebagai bagian dari anak ‎bangsa.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Armida mengakui untuk membangun karakter bangsa pada anak-anak, guru tidak bisa berjalan ‎sendiri. Proses tersebut harus dilakukan secara bersama-sama dengan keluarga, PKK, ‎organisasi masyarakat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Senada dengan itu, Rektor UT Tian Belawati mengatakan bahwa sesungguhnya Indonesia ‎sudah memiliki modal dasar untuk membangun karakter bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, ‎Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Jika empat komponen tersebut disinergikan, Tian yakin ‎persoalan membangun karakter bangsa tidak akan menjadi masalah besar.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Untuk membantu pemerintah dalam hal pembentukan karakter bangsa, UT sendiri memiliki 37 ‎cabang di wilayah Indonesia dan 650 ribu mahasiswa yang sebagian besar adalah guru. Fakta ‎tersebut sangat mendukung bagi upaya-ipaya pembentukan karakter bangsa. ''Setidaknya ‎aspek pemerataan dan percepatan lebih cepat dilakukan,'' tandas Tian.‎&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Endro Yuwanto&lt;br /&gt;Sumber: ut.ac.id&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunber : &lt;/span&gt;Republika OnLine, Senin, 22 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Source URL : &lt;/span&gt;http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/22/148169-guru-paud-dan-guru-sd-‎ujung-tombak-pembentukan-karakter-bangsa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1936210362990649329?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1936210362990649329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/guru-paud-dan-guru-sd-ujung-tombak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1936210362990649329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1936210362990649329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/guru-paud-dan-guru-sd-ujung-tombak.html' title='Guru PAUD dan Guru SD Ujung Tombak Pembentukan ‎Karakter Bangsa'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-9033992801314399928</id><published>2010-11-29T21:50:00.006+07:00</published><updated>2010-11-29T22:08:07.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kemampuan Berpidato Harus Dikuasai Pelajar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Erlangga English Speech Contest 2010‎&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Tanpa disadari kemampuan seni berorasi atau pidato, ‎terutama dalam bahasa Inggris sudah dijalankan para siswa ketika menjalani proses ‎pembelajaran di sekolah. Hanya saja, kemampuan itu perlu diasah melalui medium kompetisi. ‎Dengan demikian diharapkan para pelajar mampu menjadi calon orator-orator yang ulung.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto mengatakan pihaknya ‎berupaya mendorong para belajar meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris melalui ‎berbagai kegiatan seperti lomba atau kompetisi berpidato. Dia berpandangan membiasakan ‎pelajar menggunakan bahasa Inggris dalam seni berorasi atau keperluan lain dapat bermanfaat ‎bagi para siswa.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Keterampilan berpidato bahasa Inggris juga sangat penting dan memiliki manfaat jangka ‎panjang," kata dia saat membuka acara Erlangga English Speech Contest 2010 yang ‎berlangsung di Auditorium Utama, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa (16/17).Karena ‎itu, dia menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Erlangga English Speech Contest ‎‎2010.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Dia mengharapkan melalui ajang berpidato seperti Erlangga English Speech Contest 2010, ‎para pelajar mampu menunjukan kebolehannya menyampaikan pidato berbahasa Inggris. ‎‎"Dengan berbekal bahasa Inggris yang memadai pelajar sekolah menengah mendapatkan ‎kesempatan yang luas yang lebih luas dalam pengguasaan materi pembelajaran," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua MGMP Bahasa Inggris, DKI Jakarta, Kadim menilai penguasaan ‎kemampuan berpidato, terutama bahasa Inggris menjadi awal yang baik sebelum nantinya para ‎pelajar bersaing dalam kancah global. "Mereka umumnya sudah mempunyai dasar yang kuat. ‎Tinggal menerapkan dalam kompetisi yang memungkinkan mereka mengukur ‎kemampuannya," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Dia menyadari, penggunaan kemampuan berpidato, terutama dalam bahasa Inggris belumlah ‎optimal. Dia pun mengharapkan pelajar untuk dapat memanfaatkan ajang-ajang kompetisi ‎semisal Erlangga English Contest 2010 guna mengasah kemampuan pelajar dalam berpidato ‎bahasa Inggris."Kelak mereka akan mendapatkan manfaatnya," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMAN 78 Jakarta, Asril Azim mengatakan secara ‎umum, kemampuan berpidato, terutama pidato berbahasa Inggris  merupakan keahlian yang ‎sulit untuk dipelajari. Pasalnya, kurikulum pendidikan nasional tidak menunjang para pelajar ‎untuk mengembangkan kemampuan itu. "Bayangkan, materi pidato hanyalah terdapat di ‎pelajaran Bahasa Indonesia. Itupun tidaklah menjadi materi tersendiri," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Selain itu, para siswa biasanya cenderung malu untuk mengutarakan pendapatnya. Belum lagi, ‎para pelejar juga malu dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. "Persoalan makin rumit ketika ‎dominasi guru terhadap pelajar dalam kelas kian menyudutkan keinginan pelajar untuk ‎mengutarakan pendapatnya atau bahkan berpidato," ujarnya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Padahal menurut dia, kemampuan macam itu memungkinkan pelajar mengutarakan pendapat ‎dan mempengaruhi orang lain untuk mempertunjukan gagasanya. "Dua hal ini yang akan ‎dihadapi pelajar ketika kembali ke masyarakat," paparnya.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Dia menilai ajang lomba berpidato sejatinya dapat memberikan sedikit ruang bagi siswa untuk ‎mengeluarkan kemampuannya yang selama ini terpendam dalam kelas."Menang kalah biasa, ‎paling tidak mereka sudah menujukan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kontes Berpidato &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Semenjak pendaftaran ajang Erlangga English Contest 2010 ditutup 30 Oktober lalu, telah ‎terjaring 317 peserta yang berasal dari sekolah menengah dan sederajat se-Jabodetabek. Dari ‎‎317 perserta segera tersaring 30 peserta yang mengikuti fase Grand Final yang berlangsung ‎Senin, 16 November 2010. Kordinator Acara Erlangga English Speech COntest 2010, ‎MOchammad Ridwan mengatakan secara kuantitas dan kualitas penyelenggaraan Erlangga ‎Specch COntest tahun 2010 mengalami peningkatan. Sebelumnya, Erlangga hanya mampu ‎menjaring kurang dari 100 peserta. "Kini peserta mencapai 317, secara kualitas tingkat ‎persaingan semakin ketat," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Proses Grand Final berjalan sangat menarik dan ketat. Masing-masing peserta tak mau kalah ‎menunjukan kemampuannya sebagai seorang finalis. Kebanyakan dari mereka membawakan ‎tema  How does social networking change your life. Naomi Padan Junita, pelajar SMAN 8 ‎Jakarta sengaja memilih tema tersebut sebagai materi pidatonya. Dia mengaku ide ‎membawakan tema tersebut berawal dari kegundahnya terhadap tren jejaring sosial di ‎kalangan pelajar.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎"Saya boleh dibilang penggila jejaring sosial. Masalah muncul ketika orang tua ‎mempertanyakan kegemaran saya itu. Saya pun juga sulit untuk mengajari orang tua tentang ‎jejaring sosial. Tapi saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa jejaring sosial tidaklah ‎selamanya negatif," paparnya. Berkat pemaparannya itu, Naomi diganjar juara Harapan I. "Ya, ‎maunya sih, juara pertama. Tidak apa-apa, intinya kan pengalaman,"&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Sementara itu, Erick Tjitra, pelajar SMAK 5 Penabur, Jakarta mengatakan dirinya lebih ‎memilih tema "Should sex education be made a secondary school subject" sebagai materi ‎pidato dikarenakan dirinya merasa penting untuk menyuarakan perlunya pendidikan seks ‎dikalangan pelajar. Menurut Erick, pendidikan itu sangat berguna untuk membentengi pelajar ‎dari prilaku seks yang menyimpang dari ajaran agama. "Saya rasa pendidikan seks sangat ‎penting,". Pemaparan Erick rupanya memincut para juri guna mendaulatnya sebagai pemenang ‎pertama Erlangga English Speech Contest 2010.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;Ketua MGMP Bahasa Inggris, Kadim, menilai pada umumnya peserta memiliki kemampuan ‎yang sangat baik dari berbagai sisi seperti penyajian materi, tata bahasa dan gaya bahasa ‎tubuh. "Saya sempat sulit untuk menentukan mana yang terbaik. karena mereka begitu ‎pandai," kata dia.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berikut para pemenang Erlangga English Speech Contest 2010 : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎1. Juara Pertama, Erick Tjandra, SMAK 5 Penabur, Jakarta&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;a. Uang tunai Rp. 5 juta&lt;br /&gt;b. Dua tiket perjalanan ke Singapore&lt;br /&gt;c. Erlangga English Speech Cup dan medali emas&lt;br /&gt;d. Hadiah sponsor&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎2. Juara Kedua,Indira Zahra Aridati, SMA Plus YPHD Bogor,&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;a. Uang tunai Rp. 3 juta&lt;br /&gt;b. Erlangga English Speech Cup dan medali perak&lt;br /&gt;c. Hadiah dari sponsor&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎3. Juara Ketiga, Ivana Utami Putri, SMA Bogor Raya&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;a. uang tunai Rp. 2 juta&lt;br /&gt;b. Erlangga English Speech Cup dan medali perunggu&lt;br /&gt;c. Hadiah dari sponsor&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎4. Juara Harapan I, Naomi Padan Junita, SMA Negeri 8 Jakarta&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;a. uang tunai Rp. 1 juta&lt;br /&gt;b. Hadiah sponsor&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;‎5. Juara Harapan II, Yoskha D. Adrianto, SMA Budhi Warman 2 Jakarta&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;a. uang tunai  Rp. 750 ribu&lt;br /&gt;b. Hadiah Sponsor.&lt;br /&gt;‎&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Mohamad Afif&lt;br /&gt;Rep: Agung Sasongko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Republika OnLine&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/kanal/pendidikan"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:black;"&gt; Selasa, 16 November 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/kanal/pendidikan"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/kanal/pendidikan/berita"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Source URL : &lt;/span&gt;http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/16/147042-kemampuan-berpidato-‎harus-dikuasai-pelajar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-9033992801314399928?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/9033992801314399928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/kemampuan-berpidato-harus-dikuasai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/9033992801314399928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/9033992801314399928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/11/kemampuan-berpidato-harus-dikuasai.html' title='Kemampuan Berpidato Harus Dikuasai Pelajar'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7921623408044214660</id><published>2010-10-31T22:22:00.004+07:00</published><updated>2010-10-31T22:25:44.682+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Pemerintah Diminta Lebih Perhatikan Nasib Dai dan Mubaligh</title><content type='html'>REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR--Majelis Ulama Indonesia dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib para guru agama Islam non formal  seperti ustad dan mubalihg di seluruh Indonesia. Menurut Ketua MUI, KH Umar Shihab, pemberian insentif  yang layak kepada para guru tersebut guna merangsang mereka lebih mendedikasikan pengajarannya kepada masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dengan adanya insentif yang diberikan kepada para dai dan mubaligh seperti apa yang dilakukan pemerintah propinsi Sulawesi Selatan ini membuat mereka akan lebih giat dan berkonsentrasi dalam mensiarkan segala ajaran yang terkandung di Alquran. Ini perlu dicontoh oleh daerah lain,'' cetusnya seusai pertemuan dengan seluruh ormas islam dan pemerintah propinsi Sulsel di Makasar.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ajaran islam yang menyeluruh dan mendalam di masyarakat dapat meminimalisir dan menghilangkan praktek radikalisme yang sering terjadi saat ini. ''Pemahaman Agama Islam yang setengah-setengah menyebabkan timbulnya radikalime disebagian besar negara yang berpenduduk Muslim bahkan tidak terkecuali di Indonesia,'' tegas Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Umar mengatakan, banyaknya praktek radikalisme di Indonesia ditengarai adanya beberapa faktor antara lain kurangnya perhatian dan pembinaan pemerintah terhadap kelompok-kelompok yang merasa termajinalkan. Akibatnya, kelompok ini selalu menggunakan ajaran agama tertentu sebagai pembenaran. ''Ini jelas tidak bisa dibiarkan, MUI dan ormas Islam tidak bisa berkerja sendiri tanpa adanya dukungan dan perhatian pemerintah baik di pusat atau di daerah bahkan hingga ke pedesaan kalau perlu membantu mereka (ustad dan mubaligh),'' lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempat yang sama, Ketua Umum LDII, KH Abdullah Syam, mengatakan pembinaan terhadap para guru agama non formal ini tidak bisa dibebankan kepada MUI saja melainkan tanggung jawab seluruh ormas Islam di Indonesia dan peran serta pemerintah. ''Tugas MUI adalah menjaga Ukhuwah Islamiyah atau persatuan dan perdamaian umat di Indonesia. Nah, tugas ormas Islam dan pemerintah baik pusat atau daerah adalah berusaha untuk memperhatikan nasib para dai di daerahnya masing-masing,'' imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LDII berharap Kementrian Agama dan kementrian Pendidikan Nasional bisa mempunyai program yang sinergi dalam memberantas buta aksara Alquran seperti halnya pendidikan dasar 9 tahun yang telah dilaksanakan saat ini. ''Kita dan MUI berharap adanya program yang komperhensif dari pemerintah untuk menangani masih banyaknya umat Islam di Indonesia yang masih belum bisa membaca dan memahami makna yang terkandung didalam Alquran,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Red:&lt;/span&gt; Budi Raharjo&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rep:&lt;/span&gt; Antara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Republika OnLine,&lt;/span&gt; Senin, 25 Oktober 2010, 13:06 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Source URL :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/10/25/142255-pemerintah-diminta-lebih-perhatikan-nasib-dai-dan-mubaligh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7921623408044214660?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7921623408044214660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/10/pemerintah-diminta-lebih-perhatikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7921623408044214660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7921623408044214660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/10/pemerintah-diminta-lebih-perhatikan.html' title='Pemerintah Diminta Lebih Perhatikan Nasib Dai dan Mubaligh'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6241606325306697071</id><published>2010-10-31T22:16:00.003+07:00</published><updated>2010-10-31T22:22:11.853+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Lembaga Pendidikan Islam tak bisa Menutup Diri</title><content type='html'>YOGYAKARTA--Lembaga Pendidikan Islam pada era teknologi ini bukan lagi perlu membuka diri terhadap perkembangan kemajuan zaman. Justru, menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogjakarta, Prof Dr Amien Abdullah, tidak bisa menolak perkembangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dan kemajuan tehnologi dikatakan tak mungkin bisa dihambat. Sehingga, meski anakl-anak itu berdomisili di desa, bukan berarti ketinggalan teknologi. ‘’Akal mereka cepat sekali. Bahkan, akal mereka itu sudah akal teknologi,’’ jelas Amien Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makannya, dia mengingatkan agar tidak under estimate terhadap anak-anak di desa. Apalagi pada siswa-siswi madrasah yang selama ini dinilai masih banyak yang ketinggalan dalam mengikuti perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, ‘’virus’’ untuk selalu dekat dengan information communication technology (ICT) berjalan dengan sendirinya. Kendati di madrasah-madrasah yang ada di deda masih belum dilengkapi dengan fasilitas tehnologi, anak-anak madrasah desa itu diyakini bakal berjalan sendiri untuk mencari peralatan modern yang selama ini penuh dengan kontroversial tersebut. Sebab, nilai yang dikandung selalu berekses, baik itu negatif maupun positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, para pemegang kebijakan, termasuk pendidik dan pihak-pihak yang peduli terhadap anak-anak madrasah itu diharapkan tidak hanya bisa membelikan atau menyediakan fasilitas ICT tersebut.  Namun, bisa mengarahkan dan mendidikan mereka untuk menyeleksi sendiri mana yang sampah dan mana yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan tersebut, kata dia, harus dilakukan para ulama dan penulis kontemporer. Baik itu penulis di bidang pendidikan, maupun nonkependidikan. Mereka diharapkan bisa memberikan informasi yang lengkap tentang manfaat ICT secara lengkap dan detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, anak-anak jaman sekarang tidak bisa hanya diberi penjelasan secara normatif. ‘’Ini boleh, itu tidak boleh tanpa ada alasan yang rasional dan bisa dimengerti mereka,’’ tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, terang dia, tidak perlu filter dalam mengatasi ekses negatif perkembangan ICT tersebut. Namun,tegas dia, bagaimana caranya mencerdaskan anak dengan urai-uraian yang logis, jernih  mudah dimengerti,’’ tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kata dia, cara mendidik anak dalam menyikapi dan menerima perkembangan kemajuan ICT itu harus berubah, tidak hanya normatif. Namun, bisa membuat anak didik kreatif. ‘’Tidak malah membunuh kreativitas anak didik,’’ papar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perlunya pendidikan agama, kata dia, yang bisa menyentuh media. Sehingga, tidak sedikit-sedikit keluar fatwa pengharaman seperti pada facebook. Untuk itu dia mengimbau agar para ahli memasuki wilayah media tehnologi. Sebab, pendidikan Islam memang tidak mungkin untuk menutup diri dari perkembangan tehnologi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dirjen Pendis Depag, Prof Dr Moh Ali, mengatakan bahwa lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Departemen Agama (Depag) sudah membuka diri terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai indikatornya dia menyebut pemanfaatan ICT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bukan lagi hampir semua, tapi 100 persen lembaga pendidikan Islam yang ada di bawah binaan Depag sudah membuka diri seluas-luasnya terhadap perkembangan science dan tecnology. Bahkan, pemanfaatan ICT itu sudah lama diterapkan,'' kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai indikator, dia tunjukkan pemanfaatan fasilitas tehnologi informasi yang selama ini sudah dipakai di madrasah negeri dan beberapa madrasah swasta.  Misalnya, laboratorium komputer, internet dan lain sebagainya yang menggunakan produk s Iptek. Itupun, tidak hanya pendidikan islam pada level perguruan tingginya. Namun, mulai dari madrasah ibtidaiyah hingga tasnawiyah dan aliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pendidikan tinggi Islam seperti UIN Jakarta sudah menjain kerja sama dengan Kementrian Menkominfo dalam pemanfaatan ICT. Makanya, dia merasa heran jika ada yang menyarankan perlunya pendidikan Islam membuka diri terhadap perkembangan. Sebab, pendidikan Islam dikatakan sudah lama membuka diri pada perkembangan dan kemajuan Iptek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dia mengakui dan menyadari bila kebijakan membuka diri seluas-luasnya pada perkembangan itu bakal ada eksesnya. ''Ya, soal dampak pasti ada dari pemanfaatan ICT itu. Tapi, kami sudah mengantisipasi dengan memproteksi lewat agama. Sehingga bisa ditangkal dengan sendirinya oleh  masing-masing anak,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengantisipasi ekses itu lewat agama, kata dia, juga menggunakan alat penyaring. Alat ICT yang dipakai di madrasah-madrasah itu sudah dilengkapi dengan   alat proteksi dari hard ware. Sehingga, kalau ada anak atau siswa yang membuka situs-situs tidak bermanfaat, maka komputer yang digunakan akan langsung mati dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, diakui dia, bila sampai saat ini masih belum semua madrasah memanfaatkan perkembangan ICT. Sebab, pemanfaatan ICT di madrasah swasta sangat tergantung pada kemampuan intitusi pendidikan yang bersangkutan. ‘’''Tapi, untuk madrasah negeri 100 persen sudah memanfaatkan ICT. Itu artinya mereka sudah membuka diri terhadap perkembangan Iptek,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan swasta memang masih banyak. Sebab, jumlah sekolah negeri itu hanya sekitar 8 persen dari total madrasah di Indonesia yang mencapai sekitar 40 ribuan. Sementara 92 persennya atau sekitar 36 ribu merupakan madrasah swasta. Karena itu, dia berharap ada ke[pedulian dari semua kalangan agar anak-anak madrasah yang ada di desa-desa itu bisa memanfaatkan fasilitas ICT itu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perlunya pendidikan madrasah membuka diri terhadap perkembangan Iptek itu, juga diakui pakar pendidikan, Prof Dr Arief Rahman. Dia mengatakan bila pendidikan di Indonesia akan baik jika membuka diri terhadap perkembangan ICT itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kalau madrasah menurut saya sudah membuka diri, meski masih belum terlalu terbuka menerima perkembangan. Itu karena madrasah ada sejarahnya, yakni untuk memperkuat pengetahuan dan agama,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena itu, kata dia, untuk saat ini memang madrasah masih menata diri bahkan sedang membuka diri menerima perkembangan kemajuan Ict. Soal ekses negatifnya, diyakini dia, sudah ada saringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan pesantren, dikatakan sangat tergantung pada pengelolanya. Alasan dia, pesantren itu merupakan pendidikan nonformal. Sehingga, pemerintah hanya bisa menghimbau agar membuka diri untuk menerima perkembangan dan kemajuan jaman.  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;aji/bur/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Red:&lt;/span&gt; Republika Newsroom&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Republika OnLine,&lt;/span&gt; Senin, 05 Oktober 2009, 19:13 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Source URL :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/09/10/05/80241-lembaga-pendidikan-islam-tak-bisa-menutup-diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6241606325306697071?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6241606325306697071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/10/lembaga-pendidikan-islam-tak-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6241606325306697071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6241606325306697071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/10/lembaga-pendidikan-islam-tak-bisa.html' title='Lembaga Pendidikan Islam tak bisa Menutup Diri'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4868592849208891631</id><published>2010-10-31T22:06:00.003+07:00</published><updated>2010-10-31T22:15:24.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Pendidikan Islam Harus Bangun Karakter</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisa diwujudkan melalui penggabungan nilai agama dan kemanusiaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGERANG - Pendidikan Islam harus mampu membangun karakter yang berdasarkan nilai spiritualitas, semangat cinta bangsa, dan kemanusiaan. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat, menuturkan, ketiga hal itu merupakan inti dan tujuan penyelenggaraan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Komaruddin mengungkapkan, pendidikan Islam belum berhasil menggarap pembangunan karakter. "Mestinya, pendidikan bukan hanya menitikberatkan pada materi pelajaran," katanya saat membuka Konferensi Internasional Fethullah Gulen dengan tema The Gulen Model of Education di Ciputat, Tangerang Selasatan, Rabu (20/10).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agar pendidikan Islam meningkat mutunya dan berhasil membangun karakter, perlu pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Ia yakin dengan bermodalkan hal itu kontribusi umat Islam bagi kelangsungan hidup manusia akan semakin diperhitungkan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menyiapkan para pendidik yang kompeten dan berkualitas menjadi hal penting lainnya yang ia tekankan. Tenaga-tenaga pengajar di lembaga pendidikan Islam mesti lulusan terbaik dari kampus-kampus yang ada sehingga akan menghasilkan alumni yang mampu bersaing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, terlepas dari sejumlah kekurangan yang ada, ia menilai bahwa secara umum pendidikan Islam, termasuk di Indonesia, mengalami kemajuan. Buktinya, sekolah-sekolah Islam unggulan banyak bermunculan. "Kondisi tersebut didukung meningkatnya kajian Islam," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Amin Abdullah, mengemukakan bahwa pendidikan Islam harus mampu menggabungkan tiga hal penting, yaitu peningkatan kemampuan, pengembangan wawasan dan ilmu pengetahuan, serta pembentukan  karakter. "Pendidikan butuh orientasi jelas," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak, lembaga pendidikan Islam sulit mencetak kader agama yang memberikan konstribusi bagi umat manusia. Ia melontarkan kritik terhadap pendidikan Islam di Indonesia, yang dinilainya belum mengakomodasikan ilmu pengetahuan modern. Juga belum memperhatikan kepekaan anak didik terhadap masalah sosial, budaya, dan kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, generasi-generasi muda tidak memiliki kepedulian sosial dan rasa tanggungjawab dalam memberikan solusi pemikiran dan karya nyata terhadap persoalan umat. Meski terdapat pondok pesantren, ujar Amin, namun pelaksanaan nilai luhur agama di lembaga dengan konsep boarding school itu belum maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, semestinya kesempatan menginap tersebut digunakan sebagai ajang penempaan disiplin dan eksplorasi keilmuan Islam dari berbagai disiplin. Amin mengatakan, berbeda dengan sekolah Gulen, Turki, misalnya, yang tidak hanya fokus pada pembelajaran agama, tetapi juga menekankan ilmu pengetahuan, budaya, sosial, dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teladan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar Studi Agama dan Teologi Universitas Monash, Australia, Salih Yucel, memaparkan, dalam konsep Islam, pendidikan melibatkan tiga elemen yang disebut sebagai segi tiga pendidikan, yaitu orang tua, murid, dan guru. Segi tiga ini mempunyai peran dan keterkaitannys masing-masing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antarketiga elemen ini sangat penting. Di samping memang, keberhasilan pendidikan terletak pada guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik sekaligus. Guru dituntut menjadi teladan yang baik bagi peserta didik. "Nilai agama turut menyumbang keberhasilan pendidikan Islam," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang melatarbelakangi pentingnya role model tentang konsep ideal pendidikan Islam. Penerapan nilai keislaman seperti yang diajarkan Nabi Muhammad merupakan visi pendidikan Islam. Yang meliputi kecerdasan, kepercayaan, keteladanan, kejujuran, dan ketaatan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;cr1 ed: ferry kisihandi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber : Republika, Kamis, 21 Oktober 2010 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4868592849208891631?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4868592849208891631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/10/pendidikan-islam-harus-bangun-karakter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4868592849208891631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4868592849208891631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/10/pendidikan-islam-harus-bangun-karakter.html' title='Pendidikan Islam Harus Bangun Karakter'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6917452635297953017</id><published>2010-09-30T23:22:00.009+07:00</published><updated>2010-10-01T08:15:49.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><title type='text'>Kultur yang 'Pingsan' Picu Adiksi Pornografi Anak</title><content type='html'>Kamis, 30 September 2010, 14:39 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kultur yang abai atau kultur 'pingsan' atau disebut absentism mendorong adiksi pornografi pada anak. Apalagi, orang tua saat ini banyak abai terhadap pola pengasuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kemajuan teknologi yang ada saat ini selain memberi dampak positif juga memberi dampak negatif. Orang tua terlalu berprasangka baik terhadap kemajuan teknologi. Mereka tidak sadar akan dampak negatif kemajuan teknologi yang menyebarkan pornografi pada anak dengan mudahnya,'' ujar Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, saat seminar nasional 'Mengenali dan Mengatasi Adiksi Pornografi pada Anak dan Remaja',Kamis (30/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; Elly juga prihatin pada orang tua yang sengaja memberi gadget pada anak-anaknya tanpa memikirkan dampaknya.''Banyak orang tua beralasan takut anaknya minder, ketinggalan jaman atau tidak bisa mengikuti perkembangan di masa depan. Tanpa berpikir dampak negatifnya,'' tutur dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua, kata Elly, harus mulai sadar akibat fatal dari adiksi pornografi. Dijelaskannya adiksi pornografi merusak lima bagian otak.''Lebih parah dari narkoba yang merusak tiga bagian otak,'' jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang tua tidak segera sadar, kata Elly, jangan berharap anak bisa berpikir menggunakan otaknya secara optimal. ''Kita benar-benar berada di pinggir kehancuran dua generasi,'' tegasnya.&lt;br /&gt;Lantaran internet sudah dikenal sejak tahun 1990-an akhir. Penelitian 2008-2010 oleh Yayasan Kita dan Buah Hati menyebutkan 67 persen anak sudah mengakses situs pornografi sejak duduk di kelas 4,5 dan 6 sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Endro Yuwanto&lt;br /&gt;Rep: Prima Restri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.republika.co.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6917452635297953017?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6917452635297953017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/09/kultur-yang-pingsan-picu-adiksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6917452635297953017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6917452635297953017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/09/kultur-yang-pingsan-picu-adiksi.html' title='Kultur yang &apos;Pingsan&apos; Picu Adiksi Pornografi Anak'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3944844945553629115</id><published>2010-09-30T23:09:00.009+07:00</published><updated>2010-10-01T08:14:49.536+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><title type='text'>Duh, Adiksi Pornografi Mulai Menyerang Anak SD</title><content type='html'>Kamis, 30 September 2010, 11:14 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sejenis adiksi baru bernama pornografi telah menyerang anak-anak di Indonesia. Adiksi itu memberi dampak lebih parah dari jenis adiksi lainnya seperti narkoba atau rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kebanyakan dari kita tidak tahu ada adiksi baru yang melanda Indonesia. Saat ini kecanduan pornografi sudah melanda Indonesia,'' ujar Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, saat seminar nasional Mengenali &amp;amp; Mengatasi Adiksi Pornografi pada Anak dan Remaja di Jakarta, Kamis (30/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Penelitian yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati oleh konselor remaja periode Januari 2008 hingga Februari 2010 memaparkan fakta bahwa banyak anak sudah terpapar pornografi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dari responden berjumlah 2.818 anak kelas 4,5 dan 6 SD,67 persen sudah pernah akses situs pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elly menjelaskan dari seluruh responden fakta yang juga menyedihkan adalah 24 persen dari anak-anak itu merasa biasa saja melihat pornografi. ''Jadi bisa ditanyakan sejak usia berapa anak-anak itu mulai melihat pornografi,'' tutur dia. Dan responden mengatakan, paling banyak sebesar 21 persen melihat pornografi karena iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di mana anak-anak itu melihat pornografi? Sekitar 48 persen mengatakan mereka lihat di rumah. Yang berasal dari komik sebanyak 24 persen dan 22 persen dari internet. ''Anak-anak terkepung oleh pornografi. Ini sangat berbahaya,'' keluh Elly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Endro Yuwanto&lt;br /&gt;Rep: Prima Restri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.republika.co.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3944844945553629115?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3944844945553629115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/09/duh-adiksi-pornografi-mulai-menyerang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3944844945553629115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3944844945553629115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/09/duh-adiksi-pornografi-mulai-menyerang.html' title='Duh, Adiksi Pornografi Mulai Menyerang Anak SD'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6133895049253711334</id><published>2010-08-30T20:45:00.005+07:00</published><updated>2010-10-01T08:08:13.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Meneladani Sifat Rasul dalam Pembelajaran Jurnalistik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh&lt;/span&gt; Nana Jiwayana, SPd&lt;br /&gt;(Guru dan Pembina UKS Jurnalistik SD Islam Terpadu Attaqwim, Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia jurnalisme saat ini yang banyak menampilkan acara infotainment sedikit banyak berpengaruh pada perkembangan siswa. Laporan infotainment yang cenderung berupa laporan nonfaktual-lebih identik dengan kesan gosipnya-telah memberikan masukan buruk bagi siswa-siswa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diperburuk dengan materi laporannya yang banyak menggunjing tingkah laku buruk dari selebritas yang tidak menutup kemungkinan malah dicontoh siswa-siswa kita.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal tersebut, sudah seharusnya sebagai pendidik kita memberikan teladan/model yang baik, khususnya dalam mengajarkan prinsip-prinsip jurnalisme sehingga siswa tidak terjebak pada arus jurnalisme yang tidak memberikan manfaat dan pendidikan bagi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak model jurnalistik yang bisa kita jadikan contoh, tetapi model terbaik yang patut kita jadikan contoh tentunya terdapat pada sosok Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjadikan sosok Nabi Muhammad sebagai teladan dalam pembelajaran jurnalistik? Nabi Muhammad memang tidak melakukan aktivitas jurnalistik sebagaimana kita pahami tentang jurnalistik modern seperti saat ini. Namun, dari sifat mulia yang beliau miliki, kita bisa belajar menjadi seorang jurnalis sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat sifat utama yang dimiliki nabi. Keempat sifat itu adalah siddiq, fathanah, amanah, dan tabligh. Keempat sifat inilah yang bisa kita jadikan teladan dalam membentuk siswa agar menjadi seorang jurnalis yang andal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat pertama yang harus ditanamkan pada siswa sebagai pembelajar atau calon jurnalis adalah siddiq, sifat benar dan komitmen untuk memberitakan kebenaran. Kita harus senantiasa mengajari siswa agar mampu menebarkan berita-berita yang benar atau sesuai fakta, bukan sebaliknya malah memberitakan berita-berita gosip dan kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat nabi kedua yang dapat kita teladani adalah fathanah yang artinya cerdas. Dari sifat ini, kita dapat mengambil pelajaran agar selalu menanamkan kecerdasan kepada siswa, baik dalam mencari, mengolah, maupun dalam menyampaikan informasi. Dari sifat fathanah ini, kita juga harus bisa mendidik siswa agar cerdas memilih informasi agar bisa mencerdaskan para pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat nabi berikutnya adalah amanah, yang artinya dapat dipercaya atau bertanggung jawab. Seorang jurnalis haruslah merupakan sosok yang bertanggung jawab terhadap tulisan yang dibuatnya.&lt;br /&gt;Sebagai pendidik, kita harus bisa mengajari siswa-siswa menjadi seorang jurnalis yang bertanggung jawab dengan mengarahkan agar tulisan yang dibuatnya tidak memberikan dampak buruk bagi pembacanya. Tulisan siswa harus diarahkan menjadi tulisan yang memberikan manfaat bagi kehidupan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat nabi terakhir adalah tabligh, yang artinya menyampaikan. Pembelajaran dari sifat ini adalah kita harus mengarahkan siswa agar memiliki sikap menyampaikan informasi seutuhnya sebagaimana nabi yang selalu menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada manusia tanpa dikurangi atau ditambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan model pembelajaran jurnalistik berdasarkan sifat nabi ini, mudah-mudahan kita mampu membentuk siswa jurnalis sejati dengan sifatnya yang jujur, cerdas, bertanggung jawab, dan menyampaikan secara benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; Republika, Rabu, 25 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6133895049253711334?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6133895049253711334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/08/meneladani-sifat-rasul-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6133895049253711334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6133895049253711334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/08/meneladani-sifat-rasul-dalam.html' title='Meneladani Sifat Rasul dalam Pembelajaran Jurnalistik'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5942080416644783696</id><published>2010-08-30T20:39:00.004+07:00</published><updated>2010-08-30T20:45:00.094+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Pendidikan Karakter dari Guru Berkarakter</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendidikan akhlak dan karakter harus dilakukan dengan kebiasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dering telepon berbunyi di rumah-rumah siswa SD Al-Hikmah Surabaya sesaat setelah azan Subuh berkumandang. Itu merupakan tugas tiap wali kelas mengawali kegiatan rutin sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu jam masuk kelas akan tiba; kepala sekolah, wali kelas, dan guru sudah berdiri di depan sekolah menyambut siswa-siswanya dengan mengucap salam. Para siswa juga menyapa satu sama lain dan mengucap salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas kemudian dilanjutkan di ruang kelas. Seorang anak memimpin doa untuk mengawali kegiatan di dalam kelas. Sebelum mulai aktivitas belajar mengajar, guru membangun diskusi ringan dengan siswa, dilanjutkan dengan berinfak (memberikan sumbangan sukarela untuk orang tidak mampu). Tiap siswa memasukkan uang infak ke dalam kotak amal yang ada di tiap kelas.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sampai waktu istirahat siang hari, seluruh siswa dengan spontan berhamburan ke masjid di lingkungan sekolah untuk shalat Zuhur berjamaah. Setelah itu, siswa dengan tertib masuk ke ruang makan. Setiap hari, sekolah memang menyediakan makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain belajar, para siswa di sekolah ini juga melakukan kegiatan di luar kelas, antara lain olahraga, merawat tanaman, dan merawat binatang. Ada juga kegiatan yang terprogram (ekstrakulikuler), antara lain business day, cooking class, pameran lukisan, dan berbagi infak dengan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Percontohan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al-Hikmah Surabaya, Abdul Kadir Baraja, mengatakan, yayasan yang dipimpinnya bertujuan mengedepankan lahirnya generasi berakhlakul karimah dan berprestasi akademis optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, Al-Hikmah Surabaya adalah sekolah Islam berbasis pendidikan karakter. Hingga kini, keberadaan sekolah ini menjadi percontohan bagi penerapan pendidikan karakter di Surabaya. “Saya senang karena sekolah Islam menjadi panutan dalam pendidikan karakter,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki paruh baya itu menyadari betapa pentingnya akhlak dan karakter yang baik perlu ditanamkan sejak dini. Karena itu, nilai-nilai akhlak dan karakter harus ditanamkan melalui kegiatan rutin harian. “Pendidikan akhlak dan karakter harus dilakukan dengan kebiasaan,” ujar Abdul Kadir di Surabaya, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abdul Kadir, akhlak dan karakter sudah tertanam pada diri siswa bila sudah mempunyai kesadaran berperilaku baik dan bertanggung jawab pada diri sendiri. Dia mengatakan, terkadang siswa curhat kepada guru bahwa mereka yang selalu menasihati orang tua untuk shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu karena di sekolah sudah ditanamkan akhlak dan karakter melalui pembiasaan dan kegiatan rutin. “Kalau anak sudah shalat tanpa disuruh, itu karakter,” kata pria berwajah Arab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesadaran berakhlak dan berkarakter baik, siswa memiliki tanggung jawab untuk menuntut ilmu dengan serius. Tak mengherankan, kata Abdul Kadir, sebagian besar lulusan siswa Al-Hikmah dapat masuk ke sekolah negeri favorit. “Kunci terpenting ada pada guru yang berkompeten,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Kadir mengungkapkan, biaya termahal dalam pengelolaan sekolah di Al-Hikmah Surabaya adalah pelatihan guru. Hal itu dianggap penting dilakukan untuk mendidik guru yang  berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muchlas Samani, berpandangan senada. Menurut Muchlas, pendidikan karakter di sekolah harus dimulai dari guru yang berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muchlas mengungkapkan, pendidikan karakter di Indonesia sudah sangat mendesak, mengingat serentetan persoalan moral yang kerap terjadi di kalangan pelajar. Contohnya, tawuran, plonco, tidak sopan kepada guru, dan pergaulan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pendidikan karakter dapat menjadi kunci perbaikan persoalan tersebut. “Pendidikan karakter bukan barang baru. Implementasinya saja belum maksimal,” ujar Muchlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan (SKL-SP) Dasar dan Menengah, ditegaskan bahwa SKL-SP dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, kata Muchlas, lulusan satuan pendidikan dasar yang meliputi SD/SMP (sederajat) dan pendidikan menengah meliputi SMA/SMK (sederajat) bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, dan akhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), jelas Muchlas, memberikan pendidikan karakter kepada para pendidik untuk mewujudkan agenda nasional tersebut. Setiap tahun, sebanyak 70 ribu guru akan diasramakan di perguruan tinggi negeri (PTN) guna mendalami pendidikan karakter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam pola baru yang diterapkan tahun ini, para calon guru yang sudah lulus S1 harus mengikuti pendidikan profesi guru selama satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muchlas mengatakan, pemberian materi pendidikan karakter tidak bisa ditransfer seperti umumnya kuliah. Melalui sistem asrama, teori pendidikan karakter dapat secara langsung dipraktikkan secara terus-menerus. “Jadi, setahun penuh tinggal di asrama. Berbagai kebiasaan perilaku baik ditumbuhkan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu penggagas pendidikan karakter, Muchlas mengatakan, PTN yang akan menampung 70 ribu guru adalah perguruan tinggi yang mengadakan program pendidikan guru, seperti Unesa dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sampai saat ini, ada 324 perguruan tinggi yang mengadakan program pendidikan karakter guru.&lt;br /&gt;Program asrama, jelas Muchlas, diberikan melalui program beasiswa. “Setelah diasramakan, ada ikatan dinas sehingga guru dapat disebar di daerah yang kurang guru,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jumlah guru yang akan diasramakan hanya 70 ribu guru atau 2,5 persen dari jumlah guru sebesar 2,6 juta orang, diharapkan secara bertahap hal itu akan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan karakter. Nantinya, dalam 10 tahun, akan ada 10 guru yang menjadi agen pendidikan karekter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pendidikan karakter di tingkat perguruan tinggi ditumbuhkan dengan budaya kampus. Memang, kata Muchlas, karakter itu harus ditumbuhkan melalui kebiasaan dan dibudidayakan, sebagaimana diterapkan di SD Al-Hikmah Surabaya.       &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;n c06, ed: burhanuddin bella&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; Republika , Rabu, 25 Agustus 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5942080416644783696?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5942080416644783696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/08/pendidikan-karakter-dari-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5942080416644783696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5942080416644783696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/08/pendidikan-karakter-dari-guru.html' title='Pendidikan Karakter dari Guru Berkarakter'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3902227313005439574</id><published>2010-08-30T20:33:00.003+07:00</published><updated>2010-08-30T20:38:14.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Lima Karakteristik Kerja Guru</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tata Tambi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Guru Bahasa Indonesia MAS Ibnu Taimiyah, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu indikator perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan adalah realisasi anggaran 20 persen dari APBN. Hal itu dilengkapi program sertifikasi guru dan dosen yang diharapkan dapat mendongkrak kesejahteraan guru dan dosen di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, sejauh mana peningkatan kinerja dan profesionalitas guru sudah tercapai seiring dengan perbaikan-perbaikan, terutama program sertifikasi yang telah menyedot banyak biaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang mengemuka umumnya bernada pesimistis. Berbagai upaya perbaikan yang menelan biaya besar belum diimbangi oleh peningkatan kinerja dan profesionalitas pendidik, baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan atas dan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Kementerian Pendidikan Nasional yang dirilis akhir 2009 menunjukkan, 55,33 persen guru yang menjadi responden justru tidak meningkat kompetensi pedagogisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kinerja guru di NTB ditengarai memburuk pascamenerima sertifikat bukti lulus sertifikasi. Dari 11.606 guru yang sudah sertifikasi di NTB, 20 persen kinerjanya dinyatakan anjlok oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebenarnya karakteristik kerja seorang guru? Hamid Darmadi (2009: 26-27) mengatakan setidaknya ada lima karakteristik kerja guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pekerjaan guru bersifat individualistis nonkolaboratif. Ini bermakna, guru dalam melaksanakan tugas-tugas pengajarannya memiliki tanggung jawab secara individual. Dari waktu ke waktu guru dihadapkan pada pengambilan keputusan dan melakukan tindakan secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, ada siswa tertidur sehingga menimbulkan kegaduhan siswa yang lain maka saat itu juga guru harus mengambil tindakan. Tidak mungkin ia meminta pertimbangan guru yang lain lebih dulu. Maka itu, wawasan dan kecermatan sangat penting bagi seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pekerjaan guru dilakukan dalam ruang terisolir dan menyerap seluruh waktu. Hampir seluruh waktu guru dihabiskan di ruang-ruang kelas bersama para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang kelas di sini bisa diartikan ruang kelas konvensional ataupun kelas dalam arti luas, yaitu tempat berlangsungnya pembelajaran walaupun bukan di ruangan. Keberhasilan kerja guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tapi juga motivasi dan dedikasi guru untuk terus dapat menghidupkan suasana kelas sehingga siswa terhindar dari kejenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pekerjaan guru yang kemungkinan terjadinya kontak akademis antarguru rendah. Kalau seorang arsitektur bertemu teman sejawat, sangat mungkin tema pembicaraan adalah penemuan teknik terbaru dalam merancang bangunan. Saat perancang busana bertemu teman seprofesi, kemungkinan besar membicarakan model terbaru yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;Akan tetapi, apabila guru bertemu dengan guru, apa yang dibicarakan? Inilah yang dimaksud kontak akademis antarguru yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, pekerjaan guru tidak pernah mendapat umpan balik. Umpan balik adalah informasi baik berupa dukungan maupun kritikan terhadap guru tentang proses KBM. Padahal, berdasarkan umpan balik inilah guru akan melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas KBM. Pertanyaannya, kalau guru tidak pernah mendapatkan umpan balik, bagaimana guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pengajarannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, pekerjaan guru memerlukan waktu untuk mendukung waktu kerja di kelas. Waktu kerja guru tidak hanya terbatas di ruang kelas. Dalam banyak hal, justru waktu guru untuk mempersiapkan KBM di kelas lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah padatnya kegiatan guru, kapankah guru dapat merenungkan dan merefleksikan apa yang telah dilakukan bagi para siswanya? Kondisi di sekolah atau madrasah swasta lebih memprihatinkan lagi. Seorang guru tidak hanya dibebani jumlah jam mengajar yang padat, tapi juga posisi lainnya yang menyita waktu di luar jam pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi sangat penting bagi seorang guru untuk mengenal dan memahami lima karakteristik kerja guru. Menjadi guru di era informasi sekarang memang di satu sisi memiliki tantangan yang lebih berat karena pola pikir dan pola belajar siswa banyak berubah dari era sebelumnya. Banyak sisi negatif perkembangan teknologi yang lebih menonjol terserap oleh siswa ketimbang sisi positifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kita para guru tidak hanya meningkat dari sisi kualifikasi akademik, tetapi juga diimbangi meningkatnya mutu kerja yang dapat meningkatkan mutu siswa dan akhirnya out put (lulusan) semakin meningkat pula mutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para guru, mari kita mulai dari diri kita masing-masing. Terus tingkatkan mutu diri dan jangan lupa terus asah mutu kerja menuju dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; Republika , Rabu, 18 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3902227313005439574?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3902227313005439574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/08/lima-karakteristik-kerja-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3902227313005439574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3902227313005439574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/08/lima-karakteristik-kerja-guru.html' title='Lima Karakteristik Kerja Guru'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3432268754249567849</id><published>2010-07-31T20:52:00.005+07:00</published><updated>2010-07-31T21:05:03.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Final 'Imam Idols' Malaysia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/TFQstT_6J4I/AAAAAAAAAEY/DjrJd1tbgN4/s1600/kontestan_imam_muda_di_babak_eliminasi_100731071916.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 429px; height: 309px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/TFQstT_6J4I/AAAAAAAAAEY/DjrJd1tbgN4/s200/kontestan_imam_muda_di_babak_eliminasi_100731071916.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500070201900279682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kontestan Imam Muda di babak eliminasi ( online.wsj.com )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 31 Juli 2010, 07:30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID,KUALA LUMPUR--'Imam idols' di Malaysia mencapai babak final. Tidak ada bintang pop ataupun tokoh selebriti, tapi yang ada adalah seorang pria muda yang memenangkan show Imam Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Show yang sangat populer di Malaysia ini dimulai sejak Mei dengan sepuluh peserta, yang akhirnya hanya menyisakan dua peserta di babak final. Para calon imam ini diuji berbagai ketrampilan seperti pengetahun akan al-Quran, berbicara di muka umum, menyanyi, pilihan busana, etiket, serta memandikan jenazah secara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Final disiarkan langsung di televisi islam Astro Oasis. Pemenangnya adalah Muhammad Asyraf Mohamad Ridzuan, yang mengalahkan Hizbur Rahman Omar Zuhdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah antara lain uang dan mobil. Tapi hadiah utama adalah naik haji, belajar di universitas al-Madinah di Arab Saudi, dan pekerjaan di sebuah masjid di Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seleksi imam masjid tak pernah memiliki standar baku yang dipakai umat Islam seluruh dunia. Di Malaysia, seleksi imam masjid dijalankan mirip kontes idola seperti ‘American Idol’, ‘British Got Talent’, atau ‘Indonesia Mencari Bakat’. Seperti diberitakan Daily Telegraph, kontes ini diikuti banyak calon imam dan dinilai oleh juri.&lt;br /&gt;Saat mendapatkan giliran diuji, para kontestan acara seleksi imam yang bertajuk ‘Young Imam’ ini ditanya berbagai hal yang terkait dengan Alquran, Hadis, dan Dakwah. Mereka diuji kemampuannya membaca Alquran dan Hadis, menafsirkan, serta menjelaskannya. Juri yang ditunjuk untuk memberikan penilaian adalah mantan mufti besar masjid negara Malaysia, Hasan Mahmood.&lt;br /&gt;Selain ditunjuk untuk menjadi imam di salah satu masjid terkemuka di Kualalumpur, pemenang kontes ini juga akan mendapatkan beasiswa studi di Universitas Internasional Madinah, Arab Saudi. Dia juga berhak mendapatkan hadiah untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Para calon imam yang bisa mengikuti kontes ini harus berusia 19-27 tahun.&lt;br /&gt;Acara ‘Young Imam’ ini juga membuka komunikasi dengan para penggemarnya melalui akun facebook.Salah satu ujian berat yang harus mereka hadapi adalah memecahkan persoalan fikih yang kerap sulit ditemukan jalan keluarnya. Mereka antara lain diminta untuk mengurus jenazah yang mati karena virus AIDS. “Melihat dan menangani jenazah adalah ritual yang sangat sulit, dan harus bisa mereka hadapi sebagai imam,” kata manajer Astro Oasis, saluran televisi yang menyiarkan acara tersebut.&lt;br /&gt;Mereka juga diuji kemampuannya dalam beradaptasi dengan masyarakat. Salah satu ujian yang terkait dengan kemampuan ini adalah berupa dakwah kepada para pembalap jalanan. Para pembalap jalanan yang tertangkap polisi ini dihadirkan untuk mendapat pencerahan dari para kontestan Young Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: Krisman Purwoko&lt;br /&gt;Sumber: radio netherlands&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/31/127706-final-imam-idols-malaysia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3432268754249567849?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3432268754249567849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/final-imam-idols-malaysia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3432268754249567849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3432268754249567849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/final-imam-idols-malaysia.html' title='Final &apos;Imam Idols&apos; Malaysia'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/TFQstT_6J4I/AAAAAAAAAEY/DjrJd1tbgN4/s72-c/kontestan_imam_muda_di_babak_eliminasi_100731071916.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4711037547775796763</id><published>2010-07-31T20:46:00.003+07:00</published><updated>2010-07-31T20:49:07.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Lima Langkah Menghindari Gosip</title><content type='html'>Jumat, 30 Juli 2010, 10:06 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Infotainment difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena siaran yang ditanyangkan lebih pada gosip yang banyak mengandung giba bahkan fitnah. Padahal ada juga gossip yang diperbolehkan. Lalu, kapan gossip diperbolehkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ustadz Qamaruddin, penulis buku Keajaiban Istigfar, gosip diperbolehkan jika mengandung tujuan dan alasan yang benar sesuai syariat. Selain itu, kata dia, gosip dibolehkan bila bertujuan untuk tabayun --mengklarifikasi permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita tentang kisah Umar bin al-Khattab ketika berbincang mengenai kabar bahwa penguasa Ghassan sedang mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu kaum Muslim. Tiba-tiba rumahnya diketuk keras-keras oleh seseorang yang tak dikenal. Dengan  penuh tanda tanya, Umar bergegas membukakan pintu. Dia mendapati tetangganya sendiri, seorang Anshar dari keluarga Umayah bin Zaid yang baru pulang dari mengikuti pengajian Nabi SAW.Tetangganya tersebut memberikan kabar bahwa Nabi SAW menceraikan semua istri-istrinya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Umar menghadap Nabi dan bertanya tentang kabar yang ia dengar dari tetanggganya bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya. Sambil menegakkan kepalanya dan menatap Umar, Nabi mengatakan tidak. Akhirnya Umar mengetahui bahwa Nabi hanya bersumpah untuk tidak mengumpuli istri-istrinya selama sebulan. Menurut Qamar, hal itu adalah contoh gosip tabayun yang diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz penulis buku 'Keajaiban Salawat' itu juga memberikan terapi dan tips agar seseorang terhindar dari gosip yang berdampak pada ghibah dan fitnah. Pertama, ia menyarakan untuk membiasakan berpikir sebelum berbicara. Rasulullah SAW, biasanya memberi jeda sesaat untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan orang. Renungkan pula bahwa gosip negatif tak sedikitpun mengundang manfaat, malah dapat menghancurkan jalinan persaudaraan, menumbuhsuburkan kebencian, dan menghilangkan rasa kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,  berbicara sambil berzikir. Yakni, selalu ingat kepada Allah. Ini agak berat, perlu pembiasaan dan latihan. Tapi, setidaknya, ingatlah bahwa Allah dan Rasul-Nya sangat benci terhadap orang yang gemar bergunjing (QS 49:12). Suatu hari Jabir bersama Rasulullah. Tiba-tiba tercium bau bangkai yang busuk. Rasul SAW bersabada, “Tahukah kamu bau apa ini? Inilah bau orang-orang yang menggunjingkan orang lain.” (Tafsir bi al-Ma’tsur: 109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tingkatkan rasa percaya diri. Orang yang tidak percaya diri suka mengekor perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan yang mengarahkan untuk bergunjing. Bahkan, ia pun berpotensi menyebarkan gunjingan, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan, dan menilai orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat,  buang penyakit hati. Kebanyakan gunjingan tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung. Kalau dirinya kurang beruntung, dia pun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, posisikan diri. Ingatlah hadis Nabi, “Barang siapa membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barang siapa dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, melek media. Sadarilah, acara-acara bernuansa gosip di televisi atau media lainnya hanyalah tawaran kesenangan dari para 'penjual kesenangan'. Saking sibuknya mencari kesenangan, mereka terlena untuk meraih udara kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: irf&lt;br /&gt;Rep: Iradatul Aini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/30/127531-lima-langkah-menghindari-gosip&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4711037547775796763?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4711037547775796763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/lima-langkah-menghindari-gosip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4711037547775796763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4711037547775796763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/lima-langkah-menghindari-gosip.html' title='Lima Langkah Menghindari Gosip'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-365363247014928065</id><published>2010-07-31T20:43:00.001+07:00</published><updated>2010-07-31T20:45:51.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Tokoh Umat Islam Imbau Tinggalkan Infotaiment Negatif</title><content type='html'>Rabu, 28 Juli 2010, 16:30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Umat Islam Indonesia dihimbau meninggalkan tayangan infotainment negatif yang mengumbar aib, kejelekan dan gosip. Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Slamet Effendy Yusuf, upaya tersebut sebagai tindak lanjut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang hukum haram infotainment. “Jika sudah keputusan harus diterima,”ujarnya usai penutupan Munas VIII MUI di Jakarta, Rabu (28/7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet yang juga Ketua MUI Bidang Kerukunan Antarumat Beragam mengemukakan, pada dasarnya alasan-alasan pelarangan infotainment sudah sering dibahas termasuk di PBNU. Jika memang dikategorikan sebagai karya jurnalistik, infotainment seharusnya tidak hanya memuat konten hiburan dan informasi akan tetapi juga harus mengandung unsur pendidikan tarbiyah. Namun faktanya, sebagian besar tayangan infotainment justru meniadakan unsur pendidikan itu. Akibatnya, tayangan itu membawa bahaya bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan imbuh dia, tayangan infotaiment negatif tidak sekadar melanggar prinsip-prinsip agama akan tetapi menginjak-injak hak asasi manusia menyangkut privasi. Padahal, hak tersebut harus dihormati dan dijaga serta tidak boleh diganggu gugat. “Sekalipun publik figur tak semestinya aib mereka di-odel-odel,”ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, dia menuturkan penyelenggara infotainment tidak perlu panik. Langkah yang perlu dilakukan ialah mengganti dan mengubah konten agar sesuai dengan fatwa. Oleh karena itu, perlu dilakukan kerjasama dan koordinasi berbagai pihak termasuk MUI, produser untuk menentukan mana tayangan yang layak dan tidak pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunahar Ilyas, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang juga ketua MUI bidang Pengkajian dan Penelitian, menyatakan fatwa MUI ini sangat tepat. Mengingat infotainment saat ini hanya mengorek aib dan keburukan artis. Ironisnya, para produsen infotainment berlomba-lomba menyajikan kabar terpanas untuk menaikkan rating acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Yunahar mendesak produsen infotainment memperbaiki konten. Hal ini penting dilakukan agar infotainment tetap bisa bertahan dan memberikan manfaat kepada masyarakat bukan justru membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah penting agar lebih efektif, tandas dia, pemerintah perlu membuat regulasi dan pengelolaan tayangan infotainment. Di samping itu, pemerintah diharapkan menfasilitasi antar pihak seperti MUI, produser, dan KPI. Sehingga diharapkan mampu menghadirkan tayangan bermutu dan berkualitas.”Jika tidak maka tontonan salah bisa jadi tuntunan salah,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Dewan Dakwah Indonesia (DDI), Syuhada Bahri, meyakini fatwa MUI dilandasi dalil-dalil yang kuat dari Alquran dan Sunnah. Dalam penetapan hukum, MUI tidak memakai alasan suka atau tidak suka, benci ataupun marah. Masyarakat dihimbau menaati fatwa MUI dan jika tidak resiko dosa ditanggungsendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, tegas Syuhada, infotainment tetap boleh ada tetapi harus mendidik dan memperhatikan aturan dan norma yang berlaku. Infotainment diusulkan memberitakan hal-hal positif yang memberikan motivasi dan insipirasi bukan konflik, perceraian, dan gossip-gosip.”Informasi keberhasilan lebih baik daripada berita kegagalan,”paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, dalam Munas VIII (27/7), MUI mengeluarkan fatwa haram infotainment dengan ketentuan hukum sebagai berikut : menceritakan, membuat berita, menayangkan, menyiarkan, menonton, membaca, mendengarkan, mengambil keuntungan dari berita yang berisi tentang aib, kejelekan orang lain, gossip, dan hal-hal lain sejenis terkiat pribadi kepada orang lain dan atau khalayak hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal tersebut diperbolehkan jika ada pertimbangan yang dibenarkan secara syar’i, seperti untuk kepentingan penegakan hukum, memberantas kemunkaran, memberi peringatan, menyampaikan pengaduan, meminta pertolongan dan atau meminta fatwa hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: Krisman Purwoko&lt;br /&gt;Rep: Nashih Nashrullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/28/127177-tokoh-umat-islam-imbau-tinggalkan-infotaiment-negatif&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-365363247014928065?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/365363247014928065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/tokoh-umat-islam-imbau-tinggalkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/365363247014928065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/365363247014928065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/tokoh-umat-islam-imbau-tinggalkan.html' title='Tokoh Umat Islam Imbau Tinggalkan Infotaiment Negatif'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4984076410042388812</id><published>2010-07-31T20:34:00.009+07:00</published><updated>2010-07-31T21:13:44.792+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Haram, Infotainment Tayangkan Gosip dan Buka Aib Seseorang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/TFQuipSqC-I/AAAAAAAAAEg/wQW7GjELh1E/s1600/tolak_infotainment_ilustrasi_100715150831.jpg.png"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 395px; height: 283px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/TFQuipSqC-I/AAAAAAAAAEg/wQW7GjELh1E/s200/tolak_infotainment_ilustrasi_100715150831.jpg.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500072217660754914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Rabu, 28 Juli 2010, 13:55 WIB&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan konten dari tayangan infotainment untuk disaksikan. Pasalnya, MUI ingin memberikan bimbingan dan petunjuk kepada semua masyarakat, pemerintah sebagai pengambil keputusan, termasuk infotainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bukan infotainment-nya tapi kontennya yang diharamkan. Yang didalamnya membuka aib, mensyiarkan yang tidak patut dilihat dan didengar masyarakat,'' jelas Ketua Bidang Fatwa MUI, Ma'ruf Amin, di Munas MUI, Rabu (28/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ma'ruf Amin, bila yang ditayangkan infotainment itu acara bohong maka disebut fitnah. Tetapi sekalipun berita yang disampaikan itu benar, itu disebut ghibah alias menceritakan aib orang lain. ''Dua-duanya (ghibah dan fitnah) dilarang agama,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, katanya, untuk memberikan peringatan kepada masyarakat atau untuk kepentingan pengusutan, dan untuk kepentingan yang sifatnya pembuktian tapi tidak disiarkan. Misalnya video porno yang ditayangkan terlalu lugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dan upaya yang kini dilakukan dalam mengharamkan konten infotainment itu dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan. Atau, kata dia, paling tidak meminimalisir peredaran pornografi. ''Sekarang ini akibat dampak infotainment yang kontennya tidak baik, pornografi, akhlak bangsa memprihatinkan. Karena itu perlu tindak lanjut,'' kata Ma'ruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: Budi Raharjo&lt;br /&gt;Rep: Yasmina Hasni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/28/127136-mui-haramkan-konten-tayangan-infotainment&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4984076410042388812?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4984076410042388812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/haram-infotainment-tayangkan-gosip-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4984076410042388812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4984076410042388812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/haram-infotainment-tayangkan-gosip-dan.html' title='Haram, Infotainment Tayangkan Gosip dan Buka Aib Seseorang'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/TFQuipSqC-I/AAAAAAAAAEg/wQW7GjELh1E/s72-c/tolak_infotainment_ilustrasi_100715150831.jpg.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3780069893083820533</id><published>2010-07-31T20:17:00.002+07:00</published><updated>2010-07-31T20:20:22.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Tujuh Rekomendasi Munas MUI</title><content type='html'>Rabu, 28 Juli 2010, 12:05 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Majelis Ulama Indonesia (MUI) merumuskan tujuh poin rekomendasi Musyawarah Nasional VIII. Ketujuh rekomendasi yang meliputi berbagai bidang tersebut dibacakan dalam penutupan yang dilaksanakan di Jakarta, Rabu (28/7), oleh Ketua Bidang Dakwah, Amrullah Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi itu adalah pertama, rekomendasi bidang hukum dan perundang-undangan. Hal ini terkait kecenderungan kurang taatnya masyarakat dan oknum penegak hukum pada hukum dan perundang-undangan. Hal tersebut, dianggap MUI, salah satunya disebabkan oleh sistem hukum yang tak berpihak pada nilai-nilai agama. Karenanya MUI mendesak pemerintah dan DPR menyusun peraturan perundangan yang mengacu pada nilai dan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;MUI juga mendesak penyelenggara negara dan penegak hukum agar menjadi figur teladan dalam melaksanakan dan menaati hukum dan perundangan. Masyarakat pun diminta mematuhi hukum serta melakukan pengawasan proses hukum. Maraknya pornoaksi dan materi pornografi pun disikapi MUI dalam mendesak pemerintah agar segera menerbitkan peraturan pemerintah terkait pelaksanaan UU No 44 tahun 2008 tentang pronografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, di bidang dakwah dan kemasyarakatan. MUI mendukung peran umat Islam agar secara terencana dan komprehensif melaksanakan dakwah dengan sistem dan cara yang mampu memberikan pencerahan serta pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat. MUI juga memandang penting meningkatkan dan memperluas peran da'i di daerah-daerah khususnya daerah minoritas muslim, daerah tertinggal, dan daerah terpencil. MUI bahkan mendesak pihak terkait untuk segera merealisasikan TV dakwah dan mendesak pemerintah untuk memfasilitasi penyusunan peta dakwah nasional dan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adalah bidang partisipasi perempuan dalam pembangunan. Poin ini mencakup tiga hal yakni MUI mendesak pemerintah agar memfasilitasi kegiatan ekonomi sebagai roda kehidupan kaum perempuan di tingkat akar rumput. Berikutnya, MUI mendorong peran serta semua pihak untuk melakukan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Selain itu, himbauan juga ditujukan agar semua perempuan agar membiasakan menanyakan pendapatan suami dalam rangka memperoleh kepastian rezeki yang halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi keempat, bidang jaminan produk halal. Menurut Amrullah, negara wajib memberikan perlindungan terhadap warga negaranya untuk memperoleh produk dan mengonsumsi pangan halal. Karenanya, MUI menyerukan kepada umat islam agar mendukung penetapan status kehalalan produk (fatwa halal). MUI juga mendesak semua layanan publik dari pemerintah dan swasta untuk memprioritaskan produk barang dan jasa yang bersertifikat halal. MUI mendesak pemerintah dan DPR memberikan kewenangan sertifikasi halal kepada lembaga yang memiliki kompetensi dan kredibilitas bidang syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi kelima, di bidang pemberdayaan ekonomi umat. Poin ekonomi mencakup 6 hal yakni MUI mendesak pemerintah agar konsisten menjalankan kebijakan pengelolaan sumber daya alam mengacu kepada amanat UUD 1945 pasal 33. MUI, menolak segala bentuk praktik monopoli dalam dunia usaha. Selanjutnya, MUI pun mewajibkan umat islam untuk memiliki sikap istiqomah dalam menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai satu-satunya pilihan sistem ekonomi dan ekuangan bagi umat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketiga adalah MUI pun memandang perlunya menyusun model detil pengembangan pemberdayaan ekonomi umat. Terkait zakat, MUI membaginya dalam tiga hal. yakni, Munas MUI mendorong DPR dan pemerintah untuk mengambil langkah politis dan kebijakan nasional yang efektif untuk memperkuat peran zakat. Selain itu, MUI pun mendesak DPR dan pemerintah untuk segera menuntaskan pembahasan RUU tentang pengelolaan zakat untuk penguatan kelembagaan yang terkoordinasi dalam sistem zakat nasional serta pemberlakuan zakat sebagai pengurang pajak. Terakhir, MUI menghimbau BUMN dan pengusaha nasional berperan dalam menyukseskan gerakan sadar zakat dan wakaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rekomendasi ke enam, bidang pendidikan, pembinaan ahlak dan seni budaya islam. MUI menganggap kemerosotan akhlak para peserta didik belakangan ini telah sampai ke ttiik yang mengkhawatirkan. Karenanya MUI mendesak berbagai pihak agar pendidikan akhlak dijadikan sebagai pilot proyek dan gerakan dasar nasional dalam membangun karakter bangsa. MUI juga mendorong seniman, budayawan, agar membangun kreativitas seni budaya bersumber dari ajaran islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi terakhir Munas ini dalam bidang politik dan hak asasi manusia. MUI meminta parlemen dan pemerintah secara serius meninjau ulang sistem pemilihan umum kepala daerah langsung. Sebab, sistem tersebut menimbulkan praktik kapitalisme dan liberalisme dalam perpolitikan nasional dan daerah. ''Akibatnya, terjadi dominasi pemilik modal kuat dalam pemilu kepala daerah tanpa mempertimbangkan kapabilitas, kapasitas, dan integritas calon,'' kritik MUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut lembaga ulama itu, pemilihan langsung juga memicu konflik horizontal antar pendukung calon. Konflik itu dipengaruhi faktor kapital, serta cara yang liberal dan pragmatis dalam proses pemilihan. Pemilihan langsung tersebut pun dipandang sebagai pemborosan keuangan negara dan masyarakat. ''Yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat,'' ucap Amrullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: Budi Raharjo&lt;br /&gt;Rep: Yasmina Hasni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/28/127115-tujuh-rekomendasi-munas-mui&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3780069893083820533?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3780069893083820533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/tujuh-rekomendasi-munas-mui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3780069893083820533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3780069893083820533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/tujuh-rekomendasi-munas-mui.html' title='Tujuh Rekomendasi Munas MUI'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-2517795626882223519</id><published>2010-07-31T20:07:00.005+07:00</published><updated>2010-07-31T20:16:54.424+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>Ajaran Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan</title><content type='html'>Selasa, 27 Juli 2010, 21:13 WIB&lt;br /&gt;                                                   &lt;br /&gt;Sejak bulan Sya'ban, Rasulullah menganjurkan ummatnya agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan 'tamu mulia' bernama Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum sunah. Hal ini sebagai persiapan mental sekaligus fisik untuk menghadapi bulan yang disucikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat menanti Ramadhan, para sahabat tak bedanya seperti calon pengantin yang merindukan hari-hari pernikahannya. Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Merupakan tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya'ban para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan Rasulullah dan para sahabatnya ini, perlu dihidupkan lagi tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini. Biarlah Hari Raya Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. Tahniah, saling mengucapkan 'selamat' adalah kebiasaan baik yang ditadisikan Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang tua untuk mengucapkan tahniah, memohon maaf, dan meminta nasihat menjelang Ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu sampai ke tujuan. Adalah baik jika kebiasaan itu dikemas secara kreatif, misalnya dengan mengirimkan kartu Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang ceramah yang diselenggarakan khusus untuk menyambut Ramadhan, Rasulullah telah memberikan contohnya. Pada saat itu sangat tepat jika disampaikan tentang segala hal yang berkait langsung dengan Ramadhan. Mulai dari janji-janji Allah terhadap mereka yang bersungguh-sungguh menjalani ibadah Ramadhan, amalan-amalan yang harus dan sunnah dikerjakan selama Ramadhan, sampai tentang tata cara menjalankan seluruh rangkaian ibadah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penggalan khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan yang menggetarkan itu adalah, "Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam di mana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: irf&lt;br /&gt;Rep: Emmy Hamidiyah, Sekretaris Umum Baznas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/27/127061-ajaran-rasulullah-saw-menyambut-ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-2517795626882223519?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/2517795626882223519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/ajaran-rasulullah-saw-menyambut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2517795626882223519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2517795626882223519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/07/ajaran-rasulullah-saw-menyambut.html' title='Ajaran Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5470002057409267635</id><published>2010-06-01T00:24:00.003+07:00</published><updated>2010-06-01T00:29:28.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>52 PTAIN Gelar Seleksi Bersama</title><content type='html'>Rabu, 26 Mei 2010 | 04:12 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Kompas - Sebanyak 52 perguruan tinggi agama Islam negeri atau PTAIN di Indonesia mengadakan seleksi penerimaan mahasiswa baru bersama. Tes bersama juga untuk menghasilkan standar kualitas calon mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Umum Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) PTAIN Sudiyono, mengatakan, PTAIN di Indonesia terdiri atas 6 universitas Islam negeri (UIN), 14 institut agama Islam negeri (IAIN), dan 32 sekolah tinggi agama Islam (STAIN). ”Semua PTAIN tersebut menyelenggarakan bersama agar ada keseragaman input,” kata Sudiyono, Selasa (25/5) di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, 52 PTAIN menyelenggarakan SPMB sendiri. Akibatnya, kualitas calon mahasiswa bervariasi, bergantung pada lembaganya dan tidak terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudiyono, yang juga Kepala Biro Akademik Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, mengatakan, pendaftaran SPMB mulai tahun ini juga dilakukan secara online sehingga lebih efisien. ”Calon mahasiswa tidak perlu bolak-balik ke kampus untuk mendaftar, tes, melihat pengumuman, registrasi, dan mengikuti seleksi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Calon mahasiswa cukup membayar biaya pendaftaran Rp 150.000 di semua cabang BRI di Indonesia untuk mendapatkan kuitansi, PIN, dan kode akses berupa jurnal. Selanjutnya, data diri dimasukkan melalui situs www.spmb-ptain.ac.id. Setelah selesai, calon mahasiswa bisa mengunduh kartu peserta serta mencetak album yang berfungsi sebagai daftar hadir. Pendaftaran dilangsungkan pada 14-30 Juni 2010.&lt;br /&gt;Sebelum ujian, pada 5 Juli 2010, kartu peserta dan album divalidasi di PTAIN tempat ujian. Calon mahasiswa juga bisa memilih sendiri lokasi ujiannya. Meskipun melakukan seleksi bersama, belum semua PTAIN menentukan kuota jumlah mahasiswa yang akan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantu Rektor I IAIN Wali Songo, Semarang, Muhibbin mengatakan, kuota untuk jalur SPMB-PTAIN kemungkinan sekitar 50 persen dari sekitar 1.500 mahasiswa baru yang akan diterima. Kendati demikian, pihaknya masih akan melihat jumlah pendaftar melalui SPMB-PTAIN dan hasil ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantu Rektor I IAIN Imam Bonjol, Padang, Syafruddin Nurdin mengatakan, pihaknya juga belum menentukan kuota mahasiswa baru melalui jalur ini. Di IAIN Imam Bonjol disiapkan tiga jalur penerimaan untuk sekitar 1.700 mahasiswa baru, yakni penelusuran minat dan kemampuan (PMDK), pendaftaran internal reguler, dan SPMB-PTAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di IAIN Sunan Ampel, Surabaya, jalur penerimaan mahasiswa baru lebih banyak. ”Meskipun jalur penerimaannya banyak, biaya pendaftaran dan biaya kuliah per semester tidak dibedakan. SPP Rp 600.000 dan Rp 900.000, tergantung jurusan sosial atau eksakta,” kata Kepala Biro Administrasi Keuangan dan Umum IAIN Sunan Ampel Shofiyah Asmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendaftaran ”online”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, dalam pendaftaran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) yang dilakukan online mulai tahun ini, pada praktiknya para pendaftar masih menemui hambatan. Masih cukup banyak pendaftar yang kurang cermat dalam mengisi identitas serta mengunggah foto. Padahal, hal ini dapat berakibat fatal karena foto harus sama dengan yang tercantum pada ijazah serta identitas dalam kartu peserta ujian akan dicocokkan dengan kartu identitas yang dibawa peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Much Syamsulhadi, jumlah pendaftar yang melakukan kekeliruan, baik dalam mengunggah foto maupun keliru mengisi identitas, mencapai 500 orang. Hingga 25 Mei pukul 12.30, pendaftar yang memilih program studi di UNS mencapai 33.125 orang. Jumlah ini menempati urutan kedua terbanyak setelah Universitas Hasanuddin Makassar yang mencapai 36.869 pendaftar. (INA/EKI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/26/04122341/52.ptain.gelar.seleksi..bersama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5470002057409267635?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5470002057409267635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/06/52-ptain-gelar-seleksi-bersama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5470002057409267635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5470002057409267635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/06/52-ptain-gelar-seleksi-bersama.html' title='52 PTAIN Gelar Seleksi Bersama'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6771477763066877200</id><published>2010-06-01T00:19:00.003+07:00</published><updated>2010-06-01T00:23:37.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Sulitnya Akses Siswa Miskin</title><content type='html'>Rabu, 26 Mei 2010 pukul 10:32:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak maksimalnya dana pendidikan lantaran kurangnya akuntabilitas pengelolaan biaya, terutama di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade Irawan, dari Divisi Monitoring dan Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW), punya catatan betapa sulitnya anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan akses pendidikan yang baik. Tak sebatas biaya, menurut Ade, tetapi mereka pun kerap kali terbentur dalam hambatan administratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah, misalnya, soal akta kelahiran atau kartu keluarga-hal yang banyak di antara mereka tak memilikinya. "Bahkan, banyak sekolah yang mensyaratkan masuk sekolah dasar (SD) hanya punya ijazah Taman Kanak-Kanak (TK)," tutur Ade dalam seminar "Akuntabilitas Sekolah: Solusi Alternatif untuk Menjamin Akses Siswa Miskin terhadap Pendidikan Dasar Bermutu di Jakarta", belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, menurut pengamatan Ade, semua hambatan itu tidak disingkirkan. Yang terjadi justru pemerintah mencari jalan sendiri dengan membuat sekolah berstandar internasional (SBI) ataupun sekolah percontohan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari semua itu, menurut Ade, masalah biaya menjadi hambatan terbesar. Dia menyebut dua faktor yang menyebabkan biaya sekolah menjadi mahal. Pertama, anggaran dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat kecil. "Walau bantuan operasional sekolah (BOS) ditingkatkan, tetap saja alokasinya tidak mencukupi," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan kedua adalah soal tata kelola yang berkaitan dengan korupsi. Sekolah-yang disebutnya sebagai muara dari anggaran-dalam pengamatan Ade, tata kelolanya sangat buruk. "Mereka selalu beralasan, ini rahasia negara," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade mencontohkan soal anggaran pendapatan dan belanja sekolah (APBS). Dia mengaku kerap bertanya ke sekolah soal hal tersebut, tapi umumnya tidak diberi jawaban. Bahkan, menurut dia, guru saja tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem tata kelola di sekolah, sambung Ade, terjadi karena posisi kepala sekolah sangat dominan. Kepala sekolah yang membuat semua kebijakan, termasuk anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, posisi guru dan orang tua lemah sehingga kebijakan penganggaran sekolah dibuat sepihak. "Intinya, kebijakan anggaran di sekolah tertutup. Begitu juga ketika kami datang ke Diknas, mereka tertutup," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ade, soal akuntabilitas bukan kepada guru dan siswa saja, tetapi juga kepada kepala dinas pendidikan di tiap daerah yang menjadi problem. Selain tidak ada aturan yang jelas mengenai APBS, komite sekolah dan guru pun dinilainya tidak punya kemampuan menyusun APBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sering mengecek APBS sekolah, itu dibuat secara sederhana saja," ucapnya. Dengan kondisi ini semua, kata dia, sangat mudah terjadinya pelanggaran. Uangnya tidak terserap dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akuntabilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham Cendekia, direktur Eksekutif Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) sepandangan dengan Ade Irawan. Ilham mengatakan, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan (UU Sisdiknas) dijelaskan, warga negara berhak mendapatkan pendidikan gratis dan bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, menurut dia, akses sekolah bermutu bagi rakyat miskin sangat kecil. Di sisi lain, ada kebutuhan yang spesifik diderita anak-anak dari keluarga miskin: selain membutuhkan dana pendidikan, dana seperti transpor juga belum ter-cover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham melihat angka 20 persen alokasi anggaran untuk pendidikan telah tercapai. Sayangnya, kata dia, terjadi masalah seperti kebocoran anggaran, alokasi yang tidak tepat, mark-up, serta dibelanjakan tidak sesuai peruntukan. "Terakhir soal tidak efisien, yakni problem akuntabilitas," dia menuturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor efisiensi dan akuntabilitas, kata Ilham, menjadi penting bagi terciptanya model pendidikan. Menurut dia, akuntabilitas menciptakan kepercayaan. "Sebagus apa pun suatu sistem bila ketidakpercayaan timbul akan ambruk juga," tuturnya dalam seminar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kualitas pendidikan selama ini, sambung Ilham, kurang mendapat perhatian sehingga banyak sekolah yang memungut sumbangan dari orang tua siswa dengan alasan meningkatkan kulitas pendidikan. Ilham menilai, untuk membangun akuntabilitas sekolah, ada tiga pihak yang harus terlibat: orang tua siswa, pemerintah, dan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpandangan, sebetulnya ada keinginan kuat dari pemerintah untuk melakukan akuntabiltas langsung dari sekolah kepada masyarakat. Tapi, ada problem karena ternyata yang langsung juga tidak lebih pendek dari yang tidak langsung. "Problem akuntabilitas aliran 20 persen ke sekolah itu rumit, pembagian wewenang yang tidak clear," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, menurut dia, masalah dalam dana alokasi khusus (DAK) yang tidak memiliki standar operasional prosedur (SOP) jelas dan bisa dipantau. Sebab itu, terciptalah gap yang sangat besar antara sekolah dalam kemampuan memperolah DAK, di samping adanya proses pengalokasian dana yang tidak terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pelaporan ini, kata dia, dianggap rumit oleh sekolah. Akibatnya, sekolah lebih mementingkan laporan itu sendiri dibandingkan isi laporan. Terlebih lagi, masyarakat belum memiliki ruang untuk melakukan monitoring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Ilham menuturkan, perlu dilakukan perbaikan akuntabilitas. Perbaikan membutuhkan empat syarat: perbaikan proses pemberian mandat, perbaikan sistem enforcement, kapasitas partisipasi, dan pertumbuhan sistem monitoring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak cukup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)-di antaranya membidangi pendidikan-Hetifah Siswanda, melihat meski anggaran pendidikan 2010 sebesar Rp 209 triliun, jumlah itu selalu tidak cukup dan biaya pendidikan justru semakin melambung. Bahkan, dengan biaya selangit, kata dia, prestasi pendidikan semakin merosot, tecermin melalui ujian nasional (UN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hetifah, tidak maksimalnya dana pendidikan untuk menjamin siswa miskin, juga lantaran kurangnya akuntabilitas dalam pengelolaan biaya pendidikan, terutama di sekolah. "Makanya, kita harus menemukan model bagi pola pembiayaan," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam akses bagi rakyat miskin, Hetifah merasakan timbulnya kesenjangan baru dalam dunia pendidikan. Dia mencontohkan, munculnya sekolah bertaraf internasional. Menurut dia, ini masalah baru karena jelas sekolah ini hanya akan terjangkau mereka yang punya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita juga mendesak di DPR supaya sekolah bertaraf internasional itu ada, tapi dibangun baru sehingga tidak mengurangi sekolah yang sudah ada, yang bisa diakses rakyat miskin," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diutarakan Ilham juga Hetifah seakan menguatkan catatan Ade Irawan: betapa sulitnya anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan akses pendidikan yang baik. c06, ed: burhanuddin bella&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ditemukan Banyak Pelanggaran  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 mensyaratkan, setiap warga negara berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar. Sesuai UU itu, menurut Binsar Marpaung, dari Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal biaya pendidikan, jelas Binsar, sebagaimana diatur dalam PP No 48, dibagi menjadi tiga: biaya satuan pendidikan, biaya penyelenggaraan pengelolaan pendidikan, dan biaya pribadi peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya satuan pendidikan terdiri atas biaya investasi, penyediaan sarana, pengembangan SDM, dan maintenance. Sedangkan, biaya operasi meliputi biaya personalia dan nonpersonalia, sementara biaya bantuan pendidikan berupa dana bantuan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana BOS, kata dia, terkait dengan biaya pendidikan gratis. Namun, dia menuturkan, prinsip dasar gratis tidak berarti semua jenis biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah. Sebab, ada juga biaya pendidikan yang dibutuhkan oleh sekolah dan ada biaya pribadi yang menjadi tanggung jawab masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebijakan itu, lanjut Binsar, siswa miskin dibebaskan biaya penyelenggaraan pendidikan, baik negeri atau swasta, kecuali siswa SBI. Dia mengatakan, kebijakan pendidikan gratis ini tidak melarang adanya sumbangan sukarela dari masyarakat mampu kecuali sumbangan itu ditentukan jumlah dan waktunya. "Jadi pengertiannya, ini tidak semua gratis penuh," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pengawasan? Binsar menyatakan, pengawasan yang dilakukan selama ini memang ditemukan banyak pelanggaran, terutama dalam hal manajemen pengelolaan dana BOS. Dia juga menyatakan telah menyampaikan tata cara penggunaan dana BOS dalam bentuk buku dengan harapan bisa mengurangi penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dia membuka tangan bagi pihak lain untuk ikut melakukan pengawasan. "Kami terus terang masih perlu bantuan pihak lain," tutur Binsar dalam seminar "Akuntabilitas Sekolah: Solusi Alternatif untuk Menjamin Akses Siswa Miskin terhadap Pendidikan Dasar Bermutu" itu. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c06&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://koran.republika.co.id/koran/35--sulitnya akses siswa miskin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6771477763066877200?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6771477763066877200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/06/sulitnya-akses-siswa-miskin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6771477763066877200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6771477763066877200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/06/sulitnya-akses-siswa-miskin.html' title='Sulitnya Akses Siswa Miskin'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5748848654700364025</id><published>2010-05-31T23:53:00.002+07:00</published><updated>2010-06-01T00:18:04.607+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Profesi Guru Perlu Menjadi Perhatian dalam Strategi Nasional</title><content type='html'>Kamis, 20 Mei 2010, 14:53 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia memang menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Salah satu tantangan yang terberat adalah masalah pendidik atau guru, mulai dari kualitas, kompetensi, sertifikasi, sampai pada masalah tunjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan itu tidak hanya disadari oleh pemerintah, tetapi juga oleh para guru itu sendiri. Oleh karena itu, diskusi perihal cara membangun generasi guru yang berkualitas, tetap bersertifikasi, atau bahkan diakui akademik internasional mulai diadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Kamis (20/5), Kongres Guru Indonesia (KGI) kembali digelar untuk keempat kalinya di Balai Kartini. Sebanyak seribu guru dari seluruh Indonesia ikut serta dalam acara tersebut guna mengangkat kesadaran pemerintah terhadap permasalahan yang dihadapi para pendidik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tema 'Mempersiapkan para Pendidik dalam Perubahan Dunia: Pendidikan untuk Pembangunan yang Berkelanjutan,' ada lima topik utama yang diangkat dalam Kongres Guru Indonesia kali ini, yakni peran pengembangan profesi dalam pembentukan pendidikan, perkembangan karier bagi para pendidik, pembelajaran bersama melalui kerja sama antar sekolah, kewirausahaan murid dalam pembangunan masyarakat, dan bentuk pendidikan baru untuk pengembangan yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Profesi mengajar di Indonesia jarang diakui sebagai strategi nasional yang penting. Jika Indonesia dapat memenuhi tantangan globalisasi, pemerintah, sektor pendidikan, dan kepentingan pribadi perlu bergabung untuk meningkatkan kualitas di negara ini,'' ujar Paulina Panen, Ketua Sampoerna School of Education .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, mengatakan, untuk menyiapkan guru, tidak sekadar berkutat pada kemampuan rasionalitasnya yang bagus, tetapi guru dituntut memiliki kepribadian yang bisa dijadikan sumber inspirasi dan keteladanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan itu ada unsur keteladanan karena yang kita olah bukan sekadar eksplorasi dari potensi intelektualitasnya, tetapi eksplorasi dari hal-hal yang sifatnya emosional dan seterusnya," kata Mendiknas saat membuka KGI 2010 yang diselenggarakan kerjasama Putera Sampoerna Foundation dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Managing Director Putera Sampoerna Foundation Nenny Soemawinata mengatakan, selama dua hari pelaksanaan kongres diharapkan ada berbagi informasi, metode dan cara baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menurut dia, guru adalah kunci bagi anak-anak bisa tumbuh. "Tentunya misi ini sejalan dengan inisiatif pemerintah dan membangun kemitraan dengan tujuan memberikan sistem pendidikan berkualitas bagi indonesia," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red: Endro Yuwanto&lt;br /&gt;Rep: Anissa Mutia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER :http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/05/20/116404-profesi-guru-perlu-menjadi-perhatian-dalam-strategi-nasional&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5748848654700364025?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5748848654700364025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/05/profesi-guru-perlu-menjadi-perhatian_31.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5748848654700364025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5748848654700364025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/05/profesi-guru-perlu-menjadi-perhatian_31.html' title='Profesi Guru Perlu Menjadi Perhatian dalam Strategi Nasional'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7738001981652459840</id><published>2010-04-30T17:53:00.004+07:00</published><updated>2010-05-31T23:53:10.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Siswa Baru di Tasikmalaya Disyaratkan Bisa Baca AlQuran</title><content type='html'>Kamis, 29 April 2010, 19:54 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TASIKMALAYA--Siswa baru akan masuk sekolah pada tingkatan lebih tinggi SMP maupun SMA sederajat harus mampu membaca dan menulis ayat suci Al Quran sebagai salah satu syarat seleksi penerimaan masuk sekolah di Tasikmalaya. "Penerimaan siswa baru sekarang seperti tahun sebelumnya, yakni siswa baru harus bisa baca Al Quran," kata kepala Dinas Pendidikan, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Drs H Endang Suherman, Kamis.&lt;br /&gt;Menurut dia, setiap sekolah swasta terutama negeri yang menggelar penyeleksian murid baru sudah dimbau, yakni selain menguji kemampuan ilmu dan pengetahuan kepada calon siswanya, juga harus ditanya soal kemampuan membaca dan menulis Al Quran. Seleksi tersebut sebagai upaya agar para siswa selain cerdas dalam ilmu dan pengetahuan pada umumnya, juga sebagai memperdalam ajaran agama Islam kepada generasi muda. "Kami harapkan siswa harus mampu membaca maupun menulis Al Quran, selain pintar dalam ilmu pendidikan formalnya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kata dia, imbauan tersebut merupakan peraturan dari wali kota Tasikmalaya yang sudah berjalan pada tahun sebelumnya agar seluruh siswa sejak di taman kanak-kanak sudah diajarkan membaca dan menulis Al Quran. Ia menjelaskan, siswa yang sebelumnya pernah sekolah sambil pesantren atau sekolah agama dan memiliki berkas nilai dan bukti bisa baca dan tulis Al Quran maka pihak sekolah dapat langsung menerimanya tanpa harus diuji kembali.&lt;br /&gt;Sedangkan siswa yang belum mampu membaca maupun menulis Al Quran, pihak sekolah harus memanggil orang tua siswa bersangkutan agar melakukan perjanjian untuk membina anaknya hingga bisa baca dan tulis Al Quran. Kata dia, pihak sekolah akan mengetahui siswa yang belum bisa baca Al Quran, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan belajarnya siswa bersangkutan akan lebih diperhatikan dengan bimbingan melalui pelajaran agama. "Cara itu untuk memperdalam keagamaan karena di Kota Tasikmalaya ini nuansanya islami," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: Krisman Purwoko&lt;br /&gt;Sumber: ant&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/04/29/113652-siswa-baru-di-tasikmalaya-disyaratkan-bisa-baca-al-quran&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7738001981652459840?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7738001981652459840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/siswa-baru-di-tasikmalaya-disyaratkan_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7738001981652459840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7738001981652459840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/siswa-baru-di-tasikmalaya-disyaratkan_30.html' title='Siswa Baru di Tasikmalaya Disyaratkan Bisa Baca AlQuran'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7168742906206801932</id><published>2010-04-30T17:38:00.004+07:00</published><updated>2010-05-04T16:05:54.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peradaban Islam'/><title type='text'>Mengikat Ilmu dengan Mencatat</title><content type='html'>Rabu, 28 April 2010 pukul 10:09:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dyah Ratna Meta Novia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencatat menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatlah ilmu dengan cara mencatatkannya. Petuah bijak ini telah mengakar dalam diri kaum intelektual Muslim. Mereka yang masih dalam tahap berguru, melengkapi dirinya dengan bak tinta dan buku tulis. Mereka mencatatkan apa yang disampaikan pada lembaran buku catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlengkapan ini digunakan baik oleh para mahasiswa sastra dan ilmu lainnya serta mahasiswa ilmu hadis. Goresan dalam lembaran buku catatan dari materi yang diajarkan oleh para kaum cendekia yang menjadi sumber ilmu, membantu para mahasiswa tetap mengingat apa yang mereka sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang bak tinta dan buku catatan ini, diungkapkan sejumlah mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan di luar rumah seorang sastrawan, Tsa'lab. Mereka melihat menantu Tsa'lab, Al Dinawari bergegas menuju ke tempat gurunya, Sibawayh dan Mubarrad, dengan bak tinta dan buku catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok lainnya, Abu Ali Ibnu Al A'la, dikenal memiliki banyak buku catatan yang sarat ilmu pengetahuan. Bahkan, buku catatan yang dimiliknya memenuhi kamarnya hingga ke bagian atap. Ini menunjukkan bahwa tradisi mencatat menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli filologi, Ibnu Faris, mengungkapkan, sejumlah benda yang menjadikan hatinya begitu bahagia. Menurut dia, pendamping setianya adalah kucing, teman karib jiwanya adalah buku catatan yang selalu dibawanya, dan kekasihnya adalah lampu penerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya membuat catatan ini, ditegaskan pula oleh sastrawan bernama Ibnu Al Allaf, dalam sebuah eulogy, yaitu syair pujian untuk mengenang seseorang yang telah mangkat, Al Mubarrad. Melalui syairnya, ia mengingatkan pula kemungkinan kematian yang segera menjemput, Tsa'lab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syairnya itu, ia mengingatkan agar setiap orang mencatat apa yang diucapkan Tsa'lab. Bahkan, ia mengatakan, kalau saja napas Tsa'lab bisa ditulis maka tulislah pula napasnya. Ia menilai, sangat penting untuk mencatat pengetahuan-pengetahuan yang diucapkan dari mulut-mulut para cendekia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu mereka, jelas Al Allaf, sangat berharga. Ia pun menegaskan agar seorang pencari ilmu tak berhenti pada mencatat. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengingat apa yang ada di dalam catatan. Tak heran jika ia mencela orang yang hanya puas dengan catatan yang dimilikinya tanpa berusaha mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syairnya Al Allaf mengatakan, ''Ia menyimpan ilmu di atas hela-helai kertas, ia kehilangan ilmunya. Memang, lembaran kertas adalah pemelihara ilmu yang buruk.'' Ia mengandaikan, kekayaan seseorang adalah hasil kerja keras tubuhnya. Sedangkan hafalan seseorang adalah hasil kerja keras jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Al Allaf, langkah seseorang memelihara ilmu pengetahuan dengan cara menghafal memiliki arti bahwa orang itu telah memelihara jiwanya. Dan bagi Muslim, menghafalkan pengetahuan yang tergores dalam lembaran-lembaran buku catatan seolah sebuah kewajiban tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saat umur seseorang telah mencapai senja. Ini, terjadi pada sosok Tsa'lab. George A Makdisi dalam Cita Humanisme Islam, menyatakan, suatu saat Tsa'lab yang telah berusia 90 tahun, sedang dalam perjalanan pulang dari masjid selepas menunaikan shalat Ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsa'lab menyusuri jalan pulang sambil membaca buku catatannya. Akibat tenggelam dalam bacaan pada buku catatan dan tingkat pendengarannya yang sudah banyak kurang, ia tak menyadari adanya sebuah kereta yang melaju ditarik keledai. Kereta itu pun menabraknya dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, buku catatan ini tak hanya untuk menuliskan apa yang didiktekan tokoh-tokoh besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Buku catatan digunakan sebagai alat untuk mendokumentasikan pengamatan dan penelitian yang dilakukan para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada seorang cendekiawan yang dengan waspada menjaga catatan dari hasil penelitiannya itu agar tak disalahgunakan orang. Salah satunya adalah Abu Musa Al Hamid, pakar tata bahasa yang meninggal pada 918 Masehi. Sebelum meninggal, ia menuliskan wasiat terkait buku catatan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wasiatnya, Al Hamid menginginkan agar buku-buku catatan miliknya itu diserahkan kepada Fatik Al Mu'tadidi, seorang budak yang telah dimerdekakan. Saat itu, Fatik telah menjadi panglima militer pada masa Khalifah Al Muktafi. Ternyata, Al Hamid ingin agar Fatik menghancurkan buku-buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal hasil penelitian yang dituliskan dalam buku catatan, Tsa'lab pernah memberikan pujian pada catatan milik Ishaq Al Mawshili, mengenai makna-makna kata yang pernah didengarnya. Ishaq mendengarkan secara seksama dan mencatat ucapan para anggota suku-suku Arab tempat ia melakukan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tsa'lab, dia tak pernah melihat banyaknya dan ketelitian catatan selain yang ada di rumah Ishaq. Catatan mengenai bahasa-bahasa yang diucapkan suku-suku Arab itu sangat lengkap. Selain di rumah Ishaq, ia memuji pula berlimpahnya buku catatan yang ada di rumah filsuf Muslim ternama, Ibnu Arabi.&lt;br /&gt;Melalui buku-buku catatannya itu, Ibnu Arabi mendapatkan banyak ilmu dan mencatatkan pemikirannya. Dengan ilmunya yang berlimpah, Ibnu Arabi muncul sebagai figur sentral dan menjadi rujukan. ed: ferry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membuat Indeks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak terobosan yang dilakukan intelektual Muslim. Langkah mereka yang mewarnai perkembangan peradaban Islam, tak hanya berhenti pada kegiatan mencatat dan buku catatan. Mereka mampu pula membuat indeks yang salah satu manfaatnya adalah untuk penghimpunan hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui indeks, penghimpunan hadis shahih dengan mudah dilakukan. Ini pun memudahkan kerja bagi para mahasiswa hukum untuk menyusun hadis-hadis tersebut berdasarkan kandungan hukum yang ada di dalam hadis. Ini tak hanya berguna bagi para mahasiswa hukum, tetapi juga mereka yang mengkaji bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pembuatan indeks ini tak berkembang lebih jauh. Sebab, tak ada dorongan yang kuat dari kalangan intelektual Muslim untuk mengembangkannya lebih serius. Sistem indeks ini, hanya berkembang ala kadarnya meski memberi manfaat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, mereka berpikir bahwa pencapaian ideal seorang ilmuwan adalah menguasai muatan ilmu pengetahuan dalam otaknya. Layaknya seorang ahli musik yang akan mendapat pujian dan diakui sebagai musisi yang andal jika mampu memainkan musik dengan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, mereka beranggapan bahwa pengembangan indeks secara lebih jauh, tak akan membantu mereka mencapai posisi tersebut. Maka, lambat laun mereka meninggalkan langkah rintisan yang telah mereka buat sendiri. Lalu, tak ada lagi perkembangan yang sangat berarti dalam bidang ini. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dyah ratna meta novia, ed: ferry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://koran.republika.co.id/koran/36/109737/Mengikat_Ilmu_dengan_Mencatat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7168742906206801932?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7168742906206801932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/mengikat-ilmu-dengan-mencatat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7168742906206801932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7168742906206801932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/mengikat-ilmu-dengan-mencatat.html' title='Mengikat Ilmu dengan Mencatat'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4722997920317502746</id><published>2010-04-30T17:32:00.003+07:00</published><updated>2010-04-30T18:06:51.009+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mewaspadai Gejala Burnout pada Guru</title><content type='html'>Rabu, 28 April 2010 pukul 10:27:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Uus Firdaus, SPd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Guru SMPN 1 Paseh Kab Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt; pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Freudenberger pada 1973. Ia merupakan seorang ahli psikologi klinis pada lembaga pelayanan sosial di New York yang menangani remaja bermasalah. Freudenberger memberikan ilustrasi, sindrom &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt; seperti gedung terbakar habis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;burned-ou&lt;/span&gt;t). Suatu gedung yang mulanya berdiri megah dengan berbagai aktivitas di dalamnya, setelah terbakar, yang tampak hanya kerangka luarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi ini memberikan gambaran bahwa orang yang terkena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt;, dari luar segalanya tampak utuh, tapi di dalamnya kosong, penuh masalah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burnout&lt;/span&gt; terjadi pada sebagian besar orang yang banyak memberikan layanan kemanusiaan, termasuk guru yang memberikan layanan pendidikan pada siswa di sekolah. Apabila terkena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt;, ia akan memiliki efek psikologis yang buruk terhadap rendahnya aspek moral, seperti: membolos, telat kerja, mudah tersinggung, dan keinginan untuk pindah.&lt;br /&gt;Konsep diri dan sikap negatif muncul sehingga perhatian dan perasaan terhadap orang lain jadi tumpul. Dengan demikian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt; menjadi sebuah risiko dari pekerjaan yang dapat terjadi pada semua profesi, termasuk guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut Kleiber &amp;amp; Ensman, bibliografi terbaru yang memuat 2496 publikasi tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout &lt;/span&gt;di Eropa menunjukkan 43 persen burnout dialami pekerja kesehatan dan sosial, 32 persen dialami guru (pendidik), 9 persen dialami pekerja administrasi dan manajemen, 4 persen pekerja di bidang hukum dan kepolisian, dan 2 persen dialami pekerja lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa guru dapat terkena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt;? Menurut Supriadi (2004), mengutip penelitian Fullan dan Stiegerbauer, dalam satu tahun guru berurusan dengan 200.000-an jenis urusan dengan karakteristik berbeda. Ini merupakan sumber stres dan penyebab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Farber (1991) mengemukakan, keacuhan siswa, ketidakpekaan penilik sekolah/pengawas, orang tua siswa yang tidak peduli, kurangnya apresiasi masyarakat terhadap pekerjaan guru, bangunan fisik sekolah yang tidak baik, hilangnya otonomi, dan gaji yang tidak memadai merupakan beberapa faktor yang turut berperan menimbulkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt; pada guru. Karena itu, mengajar dapat dikategorikan sebagai pekerjaan dengan tingkat stres tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan memiliki semua elemen yang diasosiasikan dengan stres: struktur yang birokratis, evaluasi yang terus-menerus terhadap proses dan hasil akhir, dan interaksi intensif yang terus meningkat dengan para murid, orang tua murid, rekan kerja, kepala sekolah, dan komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, meningkatnya kenakalan murid, sikap apatis murid, kelas yang terlalu penuh, gaji yang tidak mencukupi, orang tua yang tidak suportif atau selalu menuntut, keterbatasan anggaran, beban administrasi yang terus meningkat, kurangnya dukungan infrastruktur, dan opini publik yang selalu negatif juga berkontribusi pada meningkatnya tingkat stres. Ini mengakibatkan guru mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mengkhawatirkan, ternyata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt; memiliki kecenderungan 'menular'. Bila di sebuah sekolah ada guru yang merasa tertekan dan mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt;, guru-guru lain dapat dengan mudah menjadi tidak puas, sinis, serta malas-malasan. Tidak lama kemudian, seluruh organisasi menjadi tempat yang tidak menarik dan tidak bersemangat. Karena itu, pencegahan terjadinya burnout pada guru perlu diupayakan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu mencegahnya, Sutjipto dalam penelitiannya merekomendasikan agar para pembina lapangan mampu menciptakan birokrasi yang peduli pada kesulitan guru; melakukan pembinaan yang profesional; melakukan hubungan profesional yang tidak kaku, akrab, dan tidak bersikap otoriter; melakukan dukungan sosial yang cukup bermakna kepada guru; dan melakukan kebijakan pembinaan yang dapat meningkatkan kepuasan kerja guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih penting adalah usaha guru itu sendiri. Guru seyogianya mewaspadai munculnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burnout&lt;/span&gt;. Selain merugikan diri sendiri, burnout juga berdampak pada pendidikan dan citra guru yang sampai hari ini perlu diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif yang dapat dilakukan, antara lain, menjaga kesehatan fisik dengan olahraga rutin, makan makanan yang halal dan baik; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt;, rekreasi, hiburan untuk menghilangkan kepenatan; meningkatkan hubungan yang harmonis dengan orang lain; meningkatkan wawasan dengan membaca, menulis, dan ikut kegiatan yang bermanfaat. Dan, jangan lupa tetap berdoa, bertakwa, dan bertawakal kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://koran.republika.co.id/koran/35/109743/Mewaspadai_Gejala_I_Burnout_I_pada_Guru&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4722997920317502746?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4722997920317502746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/mewaspadai-gejala-burnout-pada-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4722997920317502746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4722997920317502746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/mewaspadai-gejala-burnout-pada-guru.html' title='Mewaspadai Gejala Burnout pada Guru'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6775335893001351896</id><published>2010-04-30T17:28:00.003+07:00</published><updated>2010-04-30T18:08:39.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peradaban Islam'/><title type='text'>Bangkitkan Peradaban Islam</title><content type='html'>Jumat, 30 April 2010 pukul 08:52:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Umat Islam saat ini sedang mengalami kemunduran dan cenderung diremehkan pihak lain. Secara terpisah, hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, Abdul Hayyi Al Farmawi dan cendekiawan Muslim Iran, Ali Akbar Velayati. Keduanya juga menawarkan sejumlah solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Velayati mengatakan, kemunduran ini dimulai terutama saat kebanyakan umat Islam malas menulis dan belajar tentang sejarahnya. ''Tugas utama generasi Islam sekarang adalah menggali kembali sejarah peradabannya,'' katanya di Jakarta, Kamis (29/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan menteri luar negeri Iran yang berbicara dalam seminar yang digelar di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) ini, berharap umat Islam mestinya mampu bercermin dari umat pada masa lalu yang menguasai beragam bidang ilmu pengetahuan sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka, misalnya, adalah dokter yang juga filsuf Islam, insinyur yang sekaligus seorang ulama. ''Mereka menguasai bidang keilmuan dan tetap membawa nilai Islam dalam hati dan kehidupannya,'' katanya. Mereka pemikir besar yang membangun dunia dan besar dalam lingkungan Islam yang taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengalami kemunduran, kata Velayati, Islam bahkan banyak memberikan kontribusi bagi peradaban-peradaban lainya di luar Islam sendiri. ''Bila kita mau melacaknya, banyak sekali peradaban dunia yang menjadi besar karena para pemikir Muslim,'' katanya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, kata dia, tokoh seperti Ibnu Sina dan Jabir Ibnu Hayyan yang dikenal luas selain di dunia Islam. Peradaban Islam jugalah yang berhasil merawat filsafat Yunani. Bahkan, kemudian melahirkan sebuah bidang baru, yaitu filsafat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Velayati menegaskan pula, umat Islam sekarang ini harus bangga dengan kekayaan yang dimilikinya. Ia prihatin dengan kondisi terkini. Dalam penulisan saja, semuanya distandarkan dengan huruf Latin. Ini menyebabkan semakin sedikit Muslim yang bisa membaca tulisan Arab sekaligus artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Hayyi Al Farmawi mengatakan, solusi terbaik untuk mencapai kemajuan umat Islam adalah Alquran. ''Kemunduran dan keterbelakangan umat Islam akibat ditinggalkannya ajaran agama dengan cara mengabaikan solusi yang ditawarkan Alquran,'' ujarnya, di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al Farmawi, ada sebagian kelompok yang mendorong untuk mengatasi berbagai krisis yang melanda umat Islam dengan mengedepankan akal.&lt;br /&gt;Mereka juga lebih mengandalkan filsafat dan teknologi. Padahal, telah lama dinyatakan bahwa sumber pemecahan itu ada di dalam Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menegaskan, Allah SWT telah berjanji akan menempatkan orang-orng Muslim sebagai pemimpin di muka bumi. Syaratnya, mereka beriman dengan benar dan menjalankan apa yang ditetapkan dalam Alquran. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;damanhuri zuhri/c16, ed: ferry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://koran.republika.co.id/koran/14/109914/Bangkitkan_Peradaban_Islam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6775335893001351896?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6775335893001351896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/bangkitkan-peradaban-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6775335893001351896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6775335893001351896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/bangkitkan-peradaban-islam.html' title='Bangkitkan Peradaban Islam'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-804627396798811867</id><published>2010-04-30T17:20:00.005+07:00</published><updated>2010-04-30T18:09:32.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Tingkatkan Pendidikan Islam</title><content type='html'>Kamis, 29 April 2010 pukul 08:31:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eko Widiyatno,&lt;br /&gt;Muhammad Bachrul Ilmi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemerintah dinilai kurang perhatian pada lembaga pendidikan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Mantan menteri pendidikan nasional, Yahya Muhaimin, mengatakan, secara umum kualitas lembaga pendidikan Islam belum merata. Cukup banyak lembaga pendidikan yang bisa bersaing dengan lembaga pendidikan umum dan masih banyak juga yang kualitasnya biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jumlahnya juga tak sebanding antara lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dan tidak,'' katanya di Jakarta, Rabu (28/4). Ia mencontohkan, Muhammadiyah memiliki ribuan lembaga pendidikan di Tanah Air, tetapi tidak semua menjadi sekolah unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya mengatakan, dengan kondisi semacam ini, pengembangan lembaga pendidikan Islam oleh pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah bisa membantu meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam. Ia yakin, lembaga ini bisa menjadi bagian dalam pembangunan moral bangsa.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, jelas dia, selama ini pertumbuhan lembaga pendidikan yang dikelola oleh sejumlah ormas Islam, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Al Irsyad, cukup pesat. Diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan kualitas seluruh lembaga pendidikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya menilai, selama ini pemerintah terlalu berkonsentrasi pada pengembangan kualitas pendidikan di sekolah negeri. ''Tak ada cukup perhatian dalam pengembangan pendidikan bagi sekolah swasta, terutama lembaga pendidikan Islam,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia menyatakan, dukungan pemerintah kepada guru lembaga pendidikan Islam swasta tak sebesar guru sekolah umum. Ini bisa ditunjukkan dengan minimnya dukungan pemerintah daerah terhadap guru madrasah. Ia menyatakan perlu ada solusi dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Imam Suprayogo, mengakui, pendidikan Islam memang terus mengalami peningkatan. Pemicunya, banyak orang tua menginginkan anak mereka tidak hanya memiliki pengetahuan umum, tetapi juga agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua, kata Imam, berharap anaknya menjadi manusia intelektual dan berakhlak. Mereka juga bangga anak-anaknya belajar di lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya saat ini menjadi solusi pendidikan alternatif bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Imam berharap, pemerintah memberikan pengakuan lebih besar kepada lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren. Ini bisa dilakukan dengan menerapkan progranm standardisasi sehingga alumni pesantren memiliki ijazah resmi dan bisa bersaing dengan lulusan sekolah mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ulama sering kita mintai nasihat dan fatwa, tetapi lembaga yang menghasilkan ulama tak diakui oleh negara,'' kata Imam. Menurut dia, ada tiga ukuran yang bisa digunakan pemerintah dalam memberikan pengakuan terhadap pesantren. Salah satunya adalah sejarah keberadaan pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator ini bisa digunakan untuk mengetahui sejauh mana kiprah dan kontribusi pesantren sebagai lembaga pendidikan. Kedua, resonansi atau daya jangkau. Ketiga adalah kontribusi alumni pesantren kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Santri indigo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, dalam pelatihan Santri Indigo di Pondok Pesantren Al Ittihaad, Karanglewas, Banyumas, Direktur Information Technology and Supply PT Telkom Indonesia, Indra Utoyo, menegaskan, santri yang menimba ilmu di pesantren saat ini tak identik dengan keterbelakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, ini terbukti dari apresiasi para santri dalam acara yang digelar atas kerja sama PT Telkom Indonesia dengan Republika itu. Saat tanya jawab dalam pelatihan, kebanyakan santri sudah mengetahui banyak hal tentang dunia internet dan konten-konten yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ed: ferry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://koran.republika.co.id/koran/14/109821/Tingkatkan_Pendidikan_Islam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-804627396798811867?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/804627396798811867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/tingkatkan-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/804627396798811867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/804627396798811867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/tingkatkan-pendidikan-islam.html' title='Tingkatkan Pendidikan Islam'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5733059220937061932</id><published>2010-04-30T17:10:00.005+07:00</published><updated>2010-04-30T18:10:48.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peradaban Islam'/><title type='text'>Tradisi Mengoleksi Buku</title><content type='html'>Senin, 26 April 2010 pukul 11:29:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Buku dianggap sebagai hiburan bagi pikiran dan teman terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dyah Ratna Meta Novia &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pujian terlontar dari mulut Ibnu Arabi. Pujian itu bukan berupa  kekaguman terhadap kecantikan seseorang atau ketakjuban pada keindahan sebuah bentangan alam. Pujian dari ilmuwan Muslim ternama ini disematkan pada buku yang dianggap sebagai teman terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Arabi, buku tak akan membuat seseorang menjadi bosan. Ia mengatakan, buku pun mengajarkan masa lalu dengan bukti-bukti kuat, akhlak yang baik, dan nasihat yang bagus. Ia mengatakan, buku-buku itu melakukannya tanpa rasa takut dan tak dengan sikap memusuhi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menghimpun ilmu dalam sebuah buku memang telah mentradisi. Hal ini dilakukan para ilmuwan Muslim untuk melestarikan ilmu yang ia kuasai. Lalu, buku itu menjadi rujukan bagi orang-orang yang sezaman ataupun penerus mereka. Pada masa Islam, kecintaan terhadap buku terlihat begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan itu seperti yang ditunjukkan Ibnu Arabi dalam pujiannya terhadap buku. Banyak kalangan telah memiliki kesadaran akan pentingnya buku. Mereka adalah para cendekiawan, ahli fikih, ataupun para pejabat tinggi dan masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Ibnu Arabi, para ahli fikih sangat suka memiliki beragam buku. Koleksi buku mereka tak melulu soal agama. Mereka pun memiliki buku-buku filsafat dan kalam. Mereka mendalaminya untuk memperluas cakrawala pengetahuan saat kelak berhadapan dengan para filsuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sejumlah ahli fikih ada yang melarang buku-buku filsafat, terutama untuk diajarkan di sekolah-sekolah agama. Sebab, mereka menilai, pemikiran filsafat ada yang bertentangan dengan agama. Namun, mereka mengoleksi dan mengkajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mereka mengakui, dari sisi metodologi dan substansi, buku-buku kajian filsafat itu bermanfaat. Mereka juga memuji sejumlah siswa yang telah mencapai tingkat pemahaman agama yang tinggi, lalu melakukan kajian terhadap buku-buku filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut Goerge A Makdisi dalam Cita Humanisme Islam, seiring berjalannya waktu, para ahli fikih itu berkutat dengan pemikiran filsafat dan logika Yunani. Mereka adalah para intelektual ternama, seperti Ibnu Aqil, Al Ghazali, Al Amidi, Fakhr al-Din al Razi, Ibnu Taymiyah, dan Al Tufi.&lt;br /&gt;Soal buku, seorang ilmuwan bernama Ibnu Durayd menyatakan, buku merupakan penghibur bagi pikiran. Suatu hari, ia menghadiri sebuah pertemuan. Sejumlah orang dalam pertemuan itu menyampaikan beberapa tempat yang dianggap sebagai tempat indah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah lontaran pernyataan, Durayd menyampaikan pendapatnya. Ia menyatakan, tempat-tempat itu hanyalah hiburan untuk mata. Namun, pikiran yang ingin dihibur dapat berpaling pada buku. Lalu, ia menyebutkan tiga buku favoritnya yang layak sebagai penghibur pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku itu, kata Durayd, adalah Uyun Al Akhbar atau Kisah Pilihan karya Ibnu Qutaybah, Kitab Al Zahra atau Buku tentang Bunga karya Muhammad ibn Dawud, dan Qalaq Al Musytaq atau Kegelisahan karena Rindu yang ditulis oleh Ahmad Ibnu Abi Thahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada kisah yang dikutip George A Makdisi dari seorang ilmuwan bernama Al Tawhidi terkait masalah buku ini. Ini soal langkah yang dilakukan Al Hasan Ibnu Ustman Al Qatari. Waktu itu, Al Qatari memutuskan menguburkan buku-buku yang dimilikinya sebab ia ingin menjalani kehidupan sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Al Qatari bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Nabi Muhammad di sebuah masjid sedang membagi-bagikan batang pena yang menebarkan bau harum. Namun, ia tak diberi batang pena itu. Ia pun bertanya kepada Nabi SAW, mengapa ia tak mendapatkan bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW menjawab, bagaimana ia akan memberikan batang pena tersebut kepada Al Qatari yang telah menguburkan ilmu-ilmu yang telah diwariskan Nabi SAW. Bahkan, seorang perdana menteri pun merasakan kebahagiaan saat menerima hadiah sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat turun dari kapal yang mengantaran cendekiawan Jahiz dari Bashrah ke Baghdad untuk mengunjungi Perdana Menteri Ibnu Al Jayyat, ia mendengar seseorang berteriak nyaring mengumumkan adanya pelelangan buku karya seorang filsuf Al Farra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, ketika tiba di tempat pelelangan, tak ada lagi salinan buku yang dianggap berharga dan pantas diberikan kepada perdana menteri yang juga seorang sastrawan itu. Kemudian, pelelang mengambil sebuah buku yang disimpannya, yaitu karya ahli bahasa Sibawayh yang berjudul Al Kitab. Sang perdana menteri pun bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan untuk buku&lt;br /&gt;Atas kecintaan terhadap buku, sejumlah kaum terpelajar membelanjakan harta dan warisannya demi menambah koleksi bukunya. Sebut saja ahli bahasa, Ibnu Al Kui, yang meninggal pada 959 Masehi. Saat masih hidup, ia mendapatkan warisan harta sebesar 50 ribu dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak tergiur untuk menghamburkan hartanya untuk kesenangan ragawi. Namun, ia memilih menggunakan hartanya untuk keperluan belajar dan membeli buku. Ia membeli buku yang ia inginkan demi menambah koleksi buku yang berjajar di perpustakaan pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada Abu Bakar Ibnu Jarrah. Ia mengikuti jejak gurunya, Ibnu Durayd, yang gandrung terhadap buku. Ia menjadi seorang sastrawan yang sangat kaya raya. Ia sempat mengumumkan kekayaannya. Salah satunya adalah koleksi buku yang nilainya mencapai 10 ribu dirham. ed: ferry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merebaknya Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merebaknya kecintaan terhadap buku, melahirkan banyak perpustakaan. Ada perpustakaan umum tapi banyak pula milik pribadi. Tak sedikit, kaum cendekiawan yang berburu buku. Lalu, mereka menempatkannya di sebuah ruang khusus yang akhirnya menjelma menjadi perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku yang menjadi koleksi mereka merupakan buku salinan. Sebab, saat itu percetakan belum berkembang. Perpustakaan yang berawal dari koleksi buku di antaranya adalah perpustakaan milik Bulmuzaffar Ibnu Mu'arrif, seorang sastrawan dan filsuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulmuzaffar dikenal sebagai kolektor buku, juga seorang pembaca sekaligus penyalin buku yang sangat tekun. Penulis biografi dan ahli logika, Sadid Al Din, menggambarkan ruangan di dalam rumah Bulmuzaffar yang sangat luas dan dipenuhi ribuan buku. Itulah perpustakaan Bulmuzaffar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang perpustakaan miliknya, Bulmuzaffar sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan menyalin buku. Dia memiliki koleksi buku dari berbagai macam bidang ilmu pengetahuan dan di setiap halaman depan bukunya tertulis anekdot yang berkaitan dengan isi buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lainnya adalah Mubasysyir Ibnu Fatih, seorang sastrawan dari Mesir. Ia hidup pada masa Khalifah Al Muntashir dari Bani Fatimiyah. Untuk menambah koleksi buku perpustakaannya, ia menulis buku sejarah tentang Khalifah Al Muntashir, yang berkuasa antara tahun 1036 hingga 1094, dalam tiga jilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubasysyir adalah murid para ilmuwan terkenal seperti Ali Ibnu Ridwan yang ahli di bidang kedokteran, Ibnu Al Haytham dalam bidang astronomi, fisika, dan optik, serta Ibnu Al Amidi yang ahli dalam bidang filsafat. Demikian pula dengan Abu al Hasan Ibnu Abu Jarada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengoleksi buku dan kemudian mendirikan perpustakaan. Ia sering pula menyalin sendiri buku-buku berharga yang kemudian menjadi bagian dari koleksi buku di perpustakaan miliknya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dyah ratna meta novia, ed: ferry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://koran.republika.co.id/koran/36/109571/Tradisi_Mengoleksi_Buku&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5733059220937061932?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5733059220937061932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/tradisi-mengoleksi-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5733059220937061932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5733059220937061932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/04/tradisi-mengoleksi-buku.html' title='Tradisi Mengoleksi Buku'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4413129770173450020</id><published>2010-03-31T21:27:00.008+07:00</published><updated>2010-04-30T15:34:29.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Shalat, Polisi Nevada Tahan Muslim atas 'Perilaku Mencurigakan'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S9qT4urjBJI/AAAAAAAAADw/_jCStosVItg/s1600/100330154622--+Faheem+Mohamad.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 393px; height: 282px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S9qT4urjBJI/AAAAAAAAADw/_jCStosVItg/s200/100330154622--+Faheem+Mohamad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465843700580156562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Faheem Mohamad, tengah shalat di luar GOR, SMA Claremont&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;Selasa, 30 Maret 2010, 15:46 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CLAREMONT--Kebebasan beribadah dan kemerdekaan sipil di Abang Sam,  hingga kini masih berlaku setengah hati bagi komunitas Muslim. Gara-gara  melakukan salat di dekat mobil, Faheem Mohammad, 22 tahun, dan temannya  harus bermasalah dengan polisi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Polisi begitu curiga hingga mengecek nama mereka di daftar pengawasan teroris nasional dan bahkan memasukkan nama mereka bersama para tersangka teroris lain. Polisi tersebut bahkan sempat menahan Fahem dan enam pemuda atas tuduhan "perilaku mencurigakan". Insiden itu terjadi pada Desember lalu. Saat itu, mereka melakukan salat tempat umum, dalam perjalanan melintasi kawasan Henderson, Nevada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat insiden tersebut, kantor Dewan Hubungan Muslim-Amerika (CAIR) mengisi keluhan praktek salah-penindakan terhadap petugas kepolisian, Maret ini, dengan argumen bahwa perilaku para pemuda itu tidaklah cukup mencurigakan hingga layak dihentikan atau ditahan hingga hampir satu jam.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan keluhan dituliskan pula, seorang petugas polisi bisa menahan seseorang jika si petugas secara rasional meyakini bahwa orang tersebut terlihat melakukan kejahatan, demikian ujar staf legal CAIR, Ameena Mirza Qazi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para petugas tak memiliki alasan untuk menahan anak-anak muda itu," ujar Ameena. "Amandemen keempat melindungi orang dari penggeledahan dan penahanan tanpa alasan, dan kami khawatir itulah yang telah dilakukan oleh petugas. Padahal para pemuda itu tidak terlibat dalam tindak kriminal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unit urusan dalam Departemen Kepolisian Henderson (HPD) kini tengah menginvestigasi insiden tersebut, demikian menurut jurbicara kepolisian, Keith Paul. Ia mengatakan pihak departemen belum dapat berkomentar lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kronologis Insiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Faheem dan kawan-kawannya baru saja pulang dari Taman Nasional Zion saat liburan akhir pekan. Mereka berhenti di Henderson untuk makan siang di restoran Chili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersantap, mereka mengemudi ke SPBU terdekat, mengisi bensin lalu melakukan salat berjamaah di tempat parkir di sebelah SPBU&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seusai mereka salat, dua polisi mendatangai dan memerintah. "Jangan masuk ke dalam mobil dan perlihatkan tangan kalian agar kami dapat melihat," demikian tutur Faheem. "Kami bertanya apa yang terjadi, karena kami baru saja salat. Mereka mengatakan mereka mendapat dua laporan telepon tentang aktivitas mencurigakan," imbuh Faheem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Laporan HPD, penelpon menggambarkan aktivitas mencurigan sebagai sejumlah lelaki Timur-Tengah 'mencium' tanah. "Sangat absurd," ujar Faheem. "Salah satu polisi bahkan berkata 'Kamu tahu kamu sedang beribadah, tapi orang lain tidak. Kami pun tak tahu apa yang kalian katakan, Siapa tahu berbunyi saya harap membunuh polisi hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pemuda itu di usia awal 20. Mereka diminta duduk bawah dekat mobil ketika petugas mengecek kartu identitas mereka. Satu polisi mengacukan pistol kepada mereka, demikian tutur Faheem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami dilecehkan dan dihina. "Kami adalah warga Amerika, Salah satu dari kami malah dari keluarga veteran. Tapi kami diperlakukan seperti warga kelas dua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh pria tersebut terus bersikeras bahwa mereka baru saja sekedar ibadah dan mereka memiliki hak sesuai undang-undang untuk melakukan itu. Menurut laporan polisi pula, nama mereka dicatat dalam daftar pengawasan "Teroris Screen Center", yang membuat Faheem kian cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nama Muslim begitu serupa," ujarnya. "Dan mereka mengambil informasi pribadi kami, di mana kami bekerja, kami tinggal. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan informasi tersebut, dan di daftar mana kami akan tercantum selamanya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, FBI menyusun daftar pengawasn dan melacak tersangka teroris di negara tersebut. "Kami harap kasus tersebut tidak menjadikam mereka sebagai orang yang harus diawasi," ujar Ameena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pun menggeledah mobil mereka. "Jika mereka kami berusaha menolak karena (petugas-red) mengatakan pemeriksaan itu adalah opsional, mereka bisa saja berkata "Apa yang kalian sembunyikan. Jadi kami dapat mengerti. Namun satu jam duduk di jalan aspal sungguh tak masuk akal," ujar Faheem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu input data kartu identitas selesai, para pemuda itu pun dilepaskan. "Begitu kami kembali menyetir, suasana di mobil begitu sunyi mencekat," tutur Faheem. "Kami shock dan frustasi. Bagi sebagian orang, itu adalah pertama kali mengalami kontak dengan polisi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Efek Stereotipe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang asisten profesor dari Pomona College, Collin Beck, mengatakan, hal itu memang sangat menyedihkan namun tidak mengejutkan baginya. "Ketika ada sterotip pada kelompok komunitas melakukan aktivitas tertentu, orang akan cenderung merespon sesuai dengan sterotip yang bekembang ketimbang realita saat itu," ujar Collin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para petugas yang bereaksi berlebihan harus meminta maaf, mendapat pelatihan dalam memahami Islam dan berinteraksi dengan komunitas Muslim," ujar profesor bidang agama dan hubungan internasional dari Georgetown University, John Esposito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam beberapa tahun terakhir, departemen kepolisian dan militer telah menyadari dan berupaya memenuhi kebutuhan untuk melatih personel mereka," kata Esposito. "Masalah ini bukan perkara 'perilaku mencurigakan' Muslim, melainkan perilaku tidak benar Departemen Kepolisian Henderson, yang mengabaikan kebebasan beragama dan kemerdekaan sipil warga Muslim,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petugas pun akhirnya mengakui kepada Faheem dan teman-temanya, bahwa mereka tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan insiden tersebut, demikian ungkap Ameena dan bertanya pada mereka, kedepan, bagaimana seharusnya mereka merespon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: ajeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/03/30/108800-shalat-polisi-nevada-tahan-muslim-atas-perilaku-mencurigakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4413129770173450020?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4413129770173450020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/shalat-polisi-nevada-tahan-muslim-atas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4413129770173450020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4413129770173450020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/shalat-polisi-nevada-tahan-muslim-atas.html' title='Shalat, Polisi Nevada Tahan Muslim atas &apos;Perilaku Mencurigakan&apos;'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S9qT4urjBJI/AAAAAAAAADw/_jCStosVItg/s72-c/100330154622--+Faheem+Mohamad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7703085034827444747</id><published>2010-03-31T21:17:00.002+07:00</published><updated>2010-03-31T21:25:18.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Forsap Akan Susun Kurikulum Dakwah bagi Ustadzah</title><content type='html'>Jumat, 26 Maret 2010, 18:44 WIB&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;JAKARTA--Kehidupan dakwah secara tradisional masih terus berjalan baik di daerah maupun di perkotaan yaitu melalui majelis taklim yang diselenggarakan di mushala atau masjid. Sayangnya, masih banyak majelis taklim yang kegiatanpengajiannya tidak terarah dan terencana, sehingga agenda dakwah kerap bias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang mendorong Pimpinan Pusat Forum Silaturahim Antar Penganjian (FORSAP) mengadakan suatu lokakarya yang akan menuntaskan penyusunan kurikulum dakwah bagi para ustadzah majelis taklim. Termasuk dalam kurikulum itu adalah pemberdayaan umat melalui kegiatan ekonomi syariah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam lokakarya yang akan berlangsung besok ini, lembaga yang dipimpin Nurdiati Akma, sebelumnya telah aktif di PP Aisyiyah, akan menghadirkan pakar ekonomi syariah, Dr H Syafii Antonio. Hasil lokakarya bertajuk "Penyusunan Kurikulum Dakwah bagi Ustadzah dan Upaya Meningkatkan Ekonomi Syariah" tersebut langsung akan diujicobakan pada acara "Pelatihan Peningkatan Kualitas Ustadzah" pada hari Senin s/d Rabu tanggal 5,6,7 April di Cisarua, Puncak, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini akan dihadiri para ustadzah pengasuh majelis taklim dari Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, DI Yogayakarta, Jambi dan Sumatera Barat, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Riau, dan beberapa provinsi lain. "Dengan memiliki kurikulum, maka majelis taklim akan lebih terarah kegiatannya dan berdampak positif bagi masyarakat sekelilingnya," ujar Nurdiati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: siwi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/03/26/108377-forsap-akan-susun-kurikulum-dakwah-bagi-ustadzah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7703085034827444747?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7703085034827444747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/forsap-akan-susun-kurikulum-dakwah-bagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7703085034827444747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7703085034827444747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/forsap-akan-susun-kurikulum-dakwah-bagi.html' title='Forsap Akan Susun Kurikulum Dakwah bagi Ustadzah'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5906436269822588865</id><published>2010-03-31T20:55:00.003+07:00</published><updated>2010-04-30T15:38:22.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>'Jangan Marginalkan Jilbab'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S9qWs-XKhEI/AAAAAAAAAD4/QOUE4VGd5EY/s1600/100327160301--Muslimah+menegnakan+jilbab.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 530px; height: 381px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S9qWs-XKhEI/AAAAAAAAAD4/QOUE4VGd5EY/s200/100327160301--Muslimah+menegnakan+jilbab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465846797166085186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Muslimah mengenakan jilbab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 27 Maret 2010, 16:03 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Memakai jilbab adalah usaha menunjukkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Jilbab bukanlah simbol anarkhisme. Demikian penjelasan Ketua Salimah Wilayah Bekasi, Nani Handayani, dalam Muktamar III Persaudaraan Muslimah (Salimah) di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (27/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadzah yang kerap tampil di beberapa stasiun televisi swasta itu meminta masyarakat tidak memarginalkan muslimah berjilbab. Sebab, di dunia internasional sekarang ini pada umumnya, jilbab sudah bisa diterima. “Kita berjilbab saat tampil di forum internasional,” terangnya. Masyarakat internasional, terangnya, justru bangga melihat seorang muslimah berjilbab.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia menilai sangatlah salah bila seseorang menilai orang berjilbab adalah teroris, atau orang yang akrab dengan anarkhisme. “Itu tidak diajarkan dalam Islam,” tuturnya. Pandangan seperti itu, kata dia, haruslah diubah. Sebab, marginalisasi jilbab sangat tidak sesuai dengan kultur keindonesiaan yang terbuka dan penuh kearifan. Lagi pula, tambahnya, pandangan seperti itu sangat merugikan penduduk Indonesia yang kebanyakan beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: irf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/03/27/108439-jangan-marginalkan-jilbab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5906436269822588865?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5906436269822588865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/jangan-marginalkan-jilbab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5906436269822588865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5906436269822588865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/jangan-marginalkan-jilbab.html' title='&apos;Jangan Marginalkan Jilbab&apos;'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S9qWs-XKhEI/AAAAAAAAAD4/QOUE4VGd5EY/s72-c/100327160301--Muslimah+menegnakan+jilbab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-8835058114408274267</id><published>2010-03-31T20:47:00.003+07:00</published><updated>2010-03-31T20:52:39.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Gerakan Moral Menyikapi Ujian Nasional</title><content type='html'>Oleh Dra. Hj. Elly Nurlaely Kurniasari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan moral antimenyontek dari beberapa sekolah di Kota Bandung membuktikan bahwa generasi penerus bangsa masih memiliki kejujuran, sehingga ujian dan nilai bukanlah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era globalisasi yang semakin kompetitif dan penuh tantangan ini, kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya alam, teknologi, dan sumber daya manusia andal yang juga memiliki keunggulan daya saing tinggi sehingga menjadi aset, bahkan human capital investment bangsanya untuk bersaing dengan negara lain.&lt;br /&gt;Sadar akan hal itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional tetap melaksanakan ujian nasional (UN) pada tahun ini, terlepas dari adanya sikap pro dan kontra masyarakat karena UN masih dianggap perlu sebagai barometer standar pendidikan secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya kebijakan tersebut, diperlukan kesiapan dari semua pemangku kepentingan dunia pendidikan agar UN bisa terlaksana dengan sukses dan lancar tanpa adanya kecurangan sehingga siswa dapat lulus dengan bangga .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat hal yang menarik dari UN tahun ini, yaitu solusi bagi mereka yang gagal untuk mengikuti ujian ulangan serta tema UN 2010 yang Jujur, Berprestasi, dan Akuntabel (Pikiran Rakyat, 19/3). Hal itu menuntut kita untuk semakin semangat dan optimistis melaksanakan UN yang lebih baik dengan kejujuran dan penuh rasa tanggung jawab tanpa berbagai kesalahan dalam proses pelaksanaannya, baik siswa, guru, maupun semua pihak yang terkait sehingga UN bukan lagi hanya sekedar prestise tetapi juga prestasi dunia pendidikan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu merasa bangga serta memberikan dukungan dan apresiasi yang tinggi untuk para siswa di beberapa SMA Kota Bandung, di antaranya SMAN 3, SMAN 5, SMAN 12, dan SMAN 22 (Pikiran Rakyat, 24/3) yang memiliki komitmen untuk menjaga suara hatinya dengan mengadakan suatu gerakan moral antimenyontek guna membuktikan bahwa mereka masih memiliki kejujuran sehingga ujian dan nilai bukanlah segalanya. Baban S. dalam bukunya Ampuh, Cerdas tanpa Batas menyebutkan, ada beberapa kiat yang disebut "SAMBUt" untuk menjadikan ujian menyenangkan sehingga prestasi dapat diraih, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Semangat. Siswa harus selalu semangat dan optimistis bahwa belajar memiliki banyak manfaat, terutama dengan sungguh-sungguh karena hati akan tenang dan dapat berkonsentrasi ketika menjawab soal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Atur waktu. Siswa harus menggunakan waktu seefektif mungkin agar dapat belajar dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membuat ringkasan. Ringkasan akan memudahkan siswa untuk mengulang kembali pelajaran. Ringkasan dapat dibuat dalam bentuk peta konsep, mind map, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Belajar berkelompok. Ketika siswa belajar sendiri dan mengalami kesulitan, maka belajar berkelompok adalah solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Utamakan keseimbangan antara proses dan hasil. Ingin mendapatkan nilai bagus tentunya harus belajar ekstrakeras, bukan sebaliknya. Ingin mendapatkan nilai bagus tetapi tidak mau belajar menyebabkan menyontek menjadi solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan kiat "SAMBUt", latihlah siswa untuk bersikap rileks, percaya diri, dan tidak gugup saat menghadapi soal. Biasakan siswa datang ke sekolah lebih awal agar tidak kesiangan dan berdoa terlebih dulu agar diberikan yang terbaik.&lt;br /&gt;Semoga apa yang sudah dan akan dilakukan dalam UN ini menjadi sebuah kebaikan dan amalan saleh yang insya Allah akan dibalas oleh Allah SWT. Semoga dunia pendidikan Indonesia semakin maju. Amin.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis&lt;/span&gt;, guru pendidikan kewarganegaraan SMA Negeri 18 Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Pikiran Rakyat Cetak ( Forum Guru ) , Selasa, 30 Maret 2010&lt;br /&gt;                                      &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :  &lt;/span&gt;http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id= 134709&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-8835058114408274267?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/8835058114408274267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/gerakan-moral-menyikapi-ujian-nasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8835058114408274267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8835058114408274267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/gerakan-moral-menyikapi-ujian-nasional.html' title='Gerakan Moral Menyikapi Ujian Nasional'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3560904803148466817</id><published>2010-03-31T18:55:00.006+07:00</published><updated>2010-03-31T19:40:37.036+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Inilah Pandangan Shah Rukh Khan Soal Dakwah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S7NBhfR3A7I/AAAAAAAAADY/dtn0Gu8HYPQ/s1600/100330090859--+Shah+Rukh+Khan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 409px; height: 295px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S7NBhfR3A7I/AAAAAAAAADY/dtn0Gu8HYPQ/s320/100330090859--+Shah+Rukh+Khan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454775617263698866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Shah Rukh Khan saat wawancara dengan CNN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 30 Maret 2010, 09:08 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEW YORK--Super star Muslim asal India, Shah Rukh Khan bicara soal dakwah. Pemikirannya soal dakwah Islam termuat dalam wawancara yang ditayangkan situs CNN, akhir pekan lalu. Pembicaraan ini diawali dengan pertanyaan sang pewawancara soal kewajiban setiap Muslim untuk menjelaskan agamanya kepada masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari situ kemudian pemeran utama dalam film 'My Name is Khan' tersebut pun mulai bicara soal konsep dakwah. Menurut dia, dakwah Islam harus dijalankan dalam situasi komunikasi dua arah. Pihak yang berada di luar Islam, kata dia, harus punya kesediaan untuk memahami Islam. Sebaliknya, menurut Khan, setiap Muslim --apalagi yang berpendidikan-- punya kewajiban untuk menjelaskan Islam dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap Muslim yang terdidik punya kewajiban itu, termasuk saya sebagai aktor," tutur dia. Umat Islam, menurut dia, punya kewajiban untuk menjelaskan soal konsep toleransi, konsep Jihad, juga Islam secara keseluruhan. Umat Islam, dinilainya, tidak cukup hanya terus-menerus mereaksi secara emosional setiap tekanan yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan soal berbagai konsep tersebut, dipandangnya juga penting untuk terus digaungkan. Menurut dia, setiap Muslim punya kesempatan untuk menjelaskan agamanya dengan baik. Lebih jauh dari itu, tutur Khan, setiap Muslim juga harus berpikir soal mempromosikan agamanya secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Red: irf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/03/30/108734-inilah-pandangan-shah-rukh-khan-soal-dakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3560904803148466817?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3560904803148466817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/inilah-pandangan-shah-rukh-khan-soal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3560904803148466817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3560904803148466817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/inilah-pandangan-shah-rukh-khan-soal.html' title='Inilah Pandangan Shah Rukh Khan Soal Dakwah'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/S7NBhfR3A7I/AAAAAAAAADY/dtn0Gu8HYPQ/s72-c/100330090859--+Shah+Rukh+Khan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5882080303474233151</id><published>2010-03-31T18:41:00.002+07:00</published><updated>2010-03-31T18:48:54.668+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Menag: Madrasah Bukan Lembaga Kelas Dua</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Senin, 29 Maret 2010, 14:45 WIB&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;JAKARTA – Menteri Surya Dharma Ali menyatakan madrasah bukan lembaga pendidikan kelas dua. Alasannya, banyak madrasah memiliki kualitas tak kalah dengan sekolah umum. Terlebih, lulusan madrasah memiliki kelebihan pengetahuan agama yang tidak dimiliki lulusan sekolah biasa. Hal itu mencakup madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah atau SMP, dan madrasah aliyah (MA) atau SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Banyak yang menilai madrasah adalah lembaga pendidikan kelas dua, tapi kalau melihat lebih dekat, banyak madrasah kualitasnya tak kalah dengan lembaga pendidikan lain..bahkan lulusan madrasan ada kelebihan agama,’’ katanya dalam konferensi pers usai mengunjungi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di MTS Negeri 3 Pondok Pinang, Senin, (29/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Surya menyebutkan, jumlah madrasah di Indonesia saat ini 40.848 unit, terdiri atas 23.519 unit madrasah ibtidaiyah (MI), 12.054 unit madrasah tsanawiyah (MTs) dan 4.687 madrasah aliyah (MA). Dari jumlah tersebut, 91,5 persen di antaranya berstatus swasta. ‘’Madrasah di tanah air jumlahnya banyak. Yang negeri hanya 8,5 persen dan yang 91,5 persen lahir karena inisiatif masyarakat,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya madrasagh swasta, menurut Surya, perlu mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Hal itu karena kelahiran banyak madrasah swasta lahir biasanya bukan karena orientasi bisnis tapi karena adanya kepedulian sebagian masyarakat untuk mencerdaskan bangsa bermoral. Mereka tidak mengandalkan bantuan dari pemerintah, tapi pembiayaan mandiri. ‘’Karena itu, mutunya sangat bervarisasi karena sangat tergantung pada kekuatan pembiayaan masing-masing madrasah,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, pemerintah terus berupaya agar kualitas seluruh madrasah swasta bisa terus ditingkatkan dan bersaing di tingkat nasional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="font-weight: bold;"&gt;Red: siwi&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/font&gt; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/03/29/108605-menag-madrasah-bukan-lembaga-kelas-dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5882080303474233151?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5882080303474233151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/menag-madrasah-bukan-lembaga-kelas-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5882080303474233151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5882080303474233151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/03/menag-madrasah-bukan-lembaga-kelas-dua.html' title='Menag: Madrasah Bukan Lembaga Kelas Dua'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6811633870615733778</id><published>2010-02-28T23:50:00.003+07:00</published><updated>2010-03-31T18:54:12.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menaruh Harapan pada Zaytuna</title><content type='html'>Oleh Ferry Kisihandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penantian panjang telah berakhir. Sebuah lembaga pendidikan tinggi kini telah berdiri. Namanya, Zaytuna College, California. Ini menjadi lembaga pendidikan tinggi milik Muslim pertama di sana. Pendirian ini, juga melahirkan harapan yang menjulang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kami telah lama menunggu masa seperti ini. Sebuah jalan panjang harus ditempuh untuk sampai ke sini,'' ungkap Imam Zaid Shakir, seorang pengajar di lembaga tersebut seperti dikutip Islamonline, Rabu (24/2) waktu setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kata Shakir, akhirnya tiba masanya pula untuk mencapai tahap akhir penerimaan mahasiswa baru. Ini, kata dia, sangat menggembirakan. Pendaftaran mahasiswa baru akan ditutup pada 1 Maret 2010 mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, untuk pertama kali proses belajar kelak, Zaytuna College akan diisi oleh 20 hingga 25 mahasiswa. Shakir mengungkapkan, meski lembaga pendidikan ini mencari mahasiswa Muslim, namun tak secara eksklusif diperuntukkan bagi Muslim.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6811633870615733778?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6811633870615733778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/02/menaruh-harapan-pada-zaytuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6811633870615733778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6811633870615733778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/02/menaruh-harapan-pada-zaytuna.html' title='Menaruh Harapan pada Zaytuna'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-390840033631259119</id><published>2010-02-28T23:39:00.006+07:00</published><updated>2010-02-28T23:45:53.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Muslim AS Memilih Home Schooling</title><content type='html'>Oleh Ferry Kisihandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang dingin tak mampu membekukan aktivitas di sebuah rumah di Loudon County, Washington, AS. Terlihat ada anak yang menggunakan penjepitnya, untuk mengekstrak tulang binatang pengerat dari palet mereka. Ada pula, seorang anak laki-laki yang menyusun legonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dinding, terlihat beragam plakat tulisan yang menghangatkan sore yang dingin itu. 'Saya berpuasa saat Ramadhan', 'Saya membayar zakat', dan 'Saya akan menunaikan haji'. Itu adalah rumah seorang mualaf, Priscilla Martinez yang juga menjadi sekolah bagi anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martinez menerapkan home schooling bagi anak-anaknya. Di sekolah yang mengusung kredo 'Allah menciptakan segalanya' ini Martinez memegang beragam jabatan. Ia adalah seorang kepala sekolah yang juga sekaligus guru dan pembimbing.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Martinez dan enam anaknya yang berusia dua hingga 12 tahun, menjadi bagian dari kian meningkatnya jumlah Muslim yang memilih agar anak-anaknya belajar di rumah, yang dijadikan sebagai sekolah. ''Dalam kurun waktu lima tahun, jumlah ini kian bertambah,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama diungkapkan Presiden National Home Education Research Institute, Brian Ray. Ia mengungkapkan, meski tiga perempat dari sekitar dua juta warga yang mengikuti  home schooling mengidentifikasikan dirinya Kristen, jumlah Muslim kian banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah alasan yang diungkapkan mengapa Muslim memilih langkah seperti itu. Di antaranya, orang tua Muslim memiliki banyak waktu dengan anak-anaknya. Mereka juga diyakini akan mampu menanamkan secara kuat nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Maqsood dan Zakia Khan dari Sterling, yang pindah dari Pakistan dua dekade lalu, mengatakan dengan  home schooling mereka mampu menyusun kurikulum untuk anaknya. Keduanya mengatakan, anak mereka yang berusia 15, 14, dan sembilan tahun bisa belajar Alquran secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari, ujar Maqsood, mereka mempelajari Alquran selama satu setengah jam. Ini bisa dilakukan melalui pengajaran  online dari seorang guru mengaji dari Pakistan. ''Jika mereka pergi ke sekolah biasa, kami tak akan pernah melakukan hal itu,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maqsood dan Zakia Khan yang dikutip  Washington Post , Ahad (21/2), mengungkapkan keputusan yang diambilnya itu sebenarnya bermula dari hal sepele, namun penting. Saat itu, guru sekolah TK anaknya, mengabaikan soal isu agama terkait makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru itu tak memperhatikan masalah makanan yang tak boleh dan boleh dikonsumsi seorang Muslim. Isu seperti seorang Muslim tak boleh makan daging babi, tak merayakan Hallowen, dan harus menjalankan puasa Ramadhan, tak menjadi perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Priscilla Martinez yang memiliki nenek moyang dari Meksiko ini mengungkapkan, dengan  home schooling tak berarti anak-anaknya dibatasi untuk mengenal dunia luar. Intinya, ini bukan membatasi anak-anak dari arus utama budaya yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Martinez mengatakan, memang ada juga alasan agama yang dijadikan sandaran. Ia mengungkapkan, belajar dari beragam pandangan. Semuanya, kata dia, memiliki Tuhan sebagai pusatnya dan memiliki kaitan dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Semua memiliki Tuhan sebagai pusatnya. Kami tak hanya mempelajari lebah, namun Alquran juga mengatakan tentang lebah dan keistimewaan lainnya dan madu. Kami mendapatkan pengetahuan tentang agama juga di dalamnya, baik dalam biologi maupun kimia,'' kata Martinez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 23 Februari 2010 pukul 07:35:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://koran.republika.co.id/koran/14/104752/Muslim_AS_Memilih_I_Home_Schooling_I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-390840033631259119?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/390840033631259119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/02/muslim-as-memilih-home-schooling_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/390840033631259119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/390840033631259119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/02/muslim-as-memilih-home-schooling_28.html' title='Muslim AS Memilih Home Schooling'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6447410422321418608</id><published>2010-01-31T23:23:00.003+07:00</published><updated>2010-01-31T23:26:49.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>UT Jadi Universitas Kelas Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tangerang, Warta Kota&lt;/span&gt; -- Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas, Harris Iskandar, mengatakan selama 25 tahun Universitas Terbuka (UT) berdiri, UT makin diakui sebagai universitas terkemuka di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Universitas Terbuka masuk dalam daftar kelas universitas international, UT tidak lagi dianggap sebagai universitas kelas bawah," kata Harris pada hari ulang tahun UT ke-25 di kampus UT Pondok Cabe, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harris mengatakan, di usia yang ke-25 UT menunjukan kelasnya dengan menghasilkan sarjana yang mampu bersaing baik di Indonesia maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini UT berkembang pesat dengan jumlah mahasiswa mencapai 596.922 orang dengan jumlah alumni 764.478 orang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;"UT berperan fital di Indonesia dalam transformasi pendidikan sebagai unsur pengembangan kemampuan, pembangunan watak, dan peradaban bangsa yang bermartabat," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka, Tian Belawati, menyatakan di usia yang ke-25 tahun, kehadiran UT diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;Ia mengaku, sebagai tonggak sejarah pihaknya melakukan penanaman "time capsule" yang merupakan kumpulan sample dokumen, benda yang bersifat ikonik, dan produk pencapaian pendidikan UT selama 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memaksimalkan peran UT ke depan pihaknya meluncurkan website baru UT dan mobile learning koneksi internet melalui telepon seluler atau M-Learn. "Bagi UT, ini sangat penting mengingat dengan M-Learn UT kendala keterbatasan koneksi dapat diatasi dengan kemajuan teknologi komunikasi seluler," kata Tian. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Ant/tig)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber  :&lt;/span&gt; http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/13498&lt;br /&gt;Sabtu, 3 Oktober 2009 | 07:53 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6447410422321418608?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6447410422321418608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/ut-jadi-universitas-kelas-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6447410422321418608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6447410422321418608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/ut-jadi-universitas-kelas-dunia.html' title='UT Jadi Universitas Kelas Dunia'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-8433245834077149794</id><published>2010-01-31T23:19:00.001+07:00</published><updated>2010-01-31T23:22:52.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Trauma Masa Kecil, Masalah Perilaku Saat Dewasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;London, Senin&lt;/span&gt; -- Stres dan trauma pada masa awal kehidupan berefek pada perkembangan gen, dan bisa menyebabkan masalah perilaku di kemudian hari.&lt;br /&gt;Itu lah hasil penelitian sekelompok ilmuwan di Max Planck Institute of Psychiatry di Munich, Jerman, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience.&lt;br /&gt;Penelitian itu masih merupakan penelitian awal untuk mengetahui penyebab terjadinya kelainan perilaku pada manusia. Penelitian yang dipimpin oleh Dr Christopher Murgatroyd itu dilakukan terhadap bayi-bayi tikus alias cindil yang baru lahir. Hasil pengamatan menemukan bahwa cindil yang stres menghasilkan hormon yang mengubah gen mereka, yang ternyata berakibat pada kelainan perilaku saat para cindil itu menjadi tikus.&lt;br /&gt;"Pengamatan molecular-detail memperlihatkan secara jelas bagaimana pengalaman yang membuat stres di masa awal kehidupan dapat memprogram perilaku jangka panjang," ujar Murgatroyd.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cara yang dilakukan para peneliti ini adalah memisahkan anak-anak tikus yang baru lahir itu dari induknya selama tigam jam setiap hari selama 10 hari. "Ini stres ringan di mana para binatang itu tak akan kekurangan gizi namun ternyata mereka merasa ditelantarkan induknya," ujar Murgatroyd.&lt;br /&gt;Ternyata perpisahan yang hanya beberapa jam itu menyebabkan cindil-cindil itu setelah dewasa menjadi tikus yang tidak tahan terhadap stres atau kesulitan selama hidupnya. Para tikus tersebut juga mempunyai daya ingat yang buruk.&lt;br /&gt;Menurut Murgatroyd, efek itu terjadi karena ada perubahan epigenetik. "Ini adalah mekanisme dua langkah, yakni saat bayi tikus stres jumlah hormon stresnya meningkat. Hormon ini ternyata mampu memuntir DNA untuk gen yang khusus mengatur munculnya hormon stres vasopressin. Puntiran itu meninggalkan bekas pada gen vasopressin itu, sehingga di kemudian hari jumlah hormon stres yang dihasilkan selalu berlimpah," kata Murgatroyd menjelaskan.&lt;br /&gt;Vasopressin itu, menurut hasil penelitian tersebut, berada di balik masalah perilaku dan berkurangnya daya ingat. Soalnya saat peneliti memberi obat yang dapat menghentikan produksi hormon itu kepada tikus, tikus itu kembali berperilaku normal.&lt;br /&gt;Peneiltian ini memang dilakukan pada tikus, namun para peneliti yang terlibat memperkirakan hal yang sama terjadi pada manusia. Trauma pada masa kecil dapat menimbulkan masalah perilaku dan lebih rentan terhadap stres saat anak itu dewasa.&lt;br /&gt;Professor Hans Reul, seorang pakar syaraf dari University of Bristol, Inggris, memuji penelitian ini, yang disebutnya menambah pengetahuan tentang kerja tubuh yang menyebabkan efek jangka panjang.&lt;br /&gt;"Bukti yang kuat bahwa kemalangan seperti penganiayaan dan penelantaran pada masa kanak-kanan berkontribusi besar terhadap munculnya penyakit psikiatri di masa dewasa, seperti depresi," ujarnya.&lt;br /&gt;Wah, sebuah penelitian yang sangat bermanfaat bagi para orangtua, agar selalu memperhatikan dan melimpahi kasih sayang kepada anak-anaknya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BBC/ink)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;  http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/16127&lt;br /&gt;Senin, 9 November 2009 | 12:31 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-8433245834077149794?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/8433245834077149794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/trauma-masa-kecil-masalah-perilaku-saat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8433245834077149794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8433245834077149794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/trauma-masa-kecil-masalah-perilaku-saat.html' title='Trauma Masa Kecil, Masalah Perilaku Saat Dewasa'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1421950026114879255</id><published>2010-01-31T23:16:00.003+07:00</published><updated>2010-01-31T23:19:16.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Rokok Sebabkan Anak Bermasalah Dalam Perilaku</title><content type='html'>Berhenti lah merokok saat Anda hamil, jika tidak ingin si jabang bayi memiliki masalah perilaku. Hasil penelitian di Inggris dan Amerika Serikat menunjukan hal itu.&lt;br /&gt;Seperti termuat di Journal of Epidemiology and Community Health, para peneliti dari University of York, University of Hull, dan University of Illinois itu mengatakan, masalah perilaku itu sudah terlihat saat si anak berusia tiga tahun.&lt;br /&gt;Menurut para ahli itu, racun dalam rokok merusak perkembangan otak janin. "Bertambah lagi alasan agar perempuan berhenti merokok saat sedang mengandung. Lebih baik lagi sebelum mereka hamil," kata Professor Alan Maryon-Davis, president of Faculty of Public Health.&lt;br /&gt;Kesimpulan para peneliti itu tentu saja tak diambil dari sekadar bincang-bincang. Mereka melakukan survei terhadap 14.000 pasangan ibu dan anak, yang mengambil bagian dalam Millennium Cohort Study.&lt;br /&gt;Untuk di Inggris, obyek studi adalah anak-anak yang lahir pada rentang waktu tahun 2000 sampai 2001.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu para ibu dibagi menjadi dua kategori, yakni perokok ringan dan perokok berat, tergantung dari jumlah batang rokok yang dihisap para perempuan itu kala hamil.&lt;br /&gt;Selanjutnya para perempuan itu disuruh mengisi kuesioner, berdasarkan penilaian mereka terhadap perilaku sang anak. Kuesioner itu berjudul Kekuatan dan Masalah (Strengths &amp;amp; Difficulties) untuk menentukan masalah perilaku si anak, hiperaktif atau attention deficit disorder (ADD).&lt;br /&gt;Para peneliti itu juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi hasil, yakni usia ibu saat bayi lahir, tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi, kestabilan keluarga, dan problem orangtua.&lt;br /&gt;Setelah semuanya dianalisa hasil yang diperoleh, ibu yang tergolong perokok ringan mempunyai kecenderungan mempunyai anak laki-laki dengan masalah perilaku sebesar 44 persen. Sementara ibu yang tergolong perokok berat kecenderungannya bertambah menjadi 80 persen.&lt;br /&gt;Kedua golongan cenderung mempunyai anak laki-laki yang hiperaktif atau mengalami ADD. Sementara untuk anak perempuan, pada usia 3 tahun juga ditemukan masalah perilaku meski pun bukan hiperaktif atau ADD.&lt;br /&gt;Profesor Kate Picket yang memimpin penelitian ini mengatakan, hasil penelitiannya serupa dengan penelitian sejenis, namun untuk anak usia yang lebih tua.&lt;br /&gt;"Merokok saat masa kehamilan tampaknya berpengaruh langsung pada perkembangan janin, yakni pembentukan struktur dan fungsi otak, seperti ditunjukan pada percobaan menggunakan tikus," katanya.&lt;br /&gt;Atau ini menjadi pertanda proses penularan antar generasi, yang terkait dengan merokok selama masa kehamilan dan problem perilaku pada anak-anak, imbuh Picket.&lt;br /&gt;Sementara Maryon-Davis menambahkan, di dalam asap rokok ada 4.000 zat racun yang akan menembus tubuh ibu sampai ke otak janin, dan ada kemungkinan akan berpengarug pada kerja kimia otak. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BBC/ink)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/15756&lt;br /&gt;Selasa, 3 November 2009 | 20:26 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1421950026114879255?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1421950026114879255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/rokok-sebabkan-anak-bermasalah-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1421950026114879255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1421950026114879255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/rokok-sebabkan-anak-bermasalah-dalam.html' title='Rokok Sebabkan Anak Bermasalah Dalam Perilaku'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7423117768109529589</id><published>2010-01-31T23:13:00.002+07:00</published><updated>2010-01-31T23:15:56.670+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kepala Sekolah Di-Bullying</title><content type='html'>Masalah bullying di sekolah sedang jadi perbincangan di Jakarta, sejak seorang murid kelas X SMAN 82 dikeroyok oleh 30 murid kelas XII di sekolah yang sama. Lain Jakarta lain Inggris, di sana juga terjadi bullying dan menimpa seorang kepala sekolah.&lt;br /&gt;Pebedaan lainnya dengan bullying di Jakata, bullying ini dilakukan lewat situs jejaring sosial Facebook sehingga kemudian muncul istilah cyberbullying. Namun karena korban cyberbullying ini kepala sekolah, maka dia dengan mudah melakukan tindakan, yakni menskors tiga muridnya yang menjadi promoter dari cyberbullying tadi.&lt;br /&gt;Ya, korban cyberbullying itu adalah Elizabeth Hitch, yang menjadi kepala sekolah Beaumont School, St Albans, di Hertfordshire, Inggris. Dia menskors tiga murid setelah berkonsultasi dengan pihak pimpinan yayasan dan kepolisian setempat.&lt;br /&gt;Apa sih yang dilakukan tiga murid itu? Mereka membuat grup di Facebook yang intinya membicarakan cara berpakaian sang kepala sekolah. Grup itu menarik 200 murid sekolah tersebut untuk jadi fans. Masalahnya, diskusi di grup itu malah menjelek-jelekan cara berpakain Hitch dan menggunakan kata-kata yang tak sopan. Hal itu lah yang membuat grup ini dikategorikan sebagai bullying.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para murid dan orangtua tentu saja tidak terima dengan tindakan Hitch, dan mnuntut agar kepala sekolah tersebut menarik kembali keputusannya. "Mrs Hitch tak bisa menerima becandaan anak-anak, dan menanganinya dengan keterlaluan," kata seorang orangtua murid.&lt;br /&gt;Dia melanjutkan, tindakannya itu membuat para murid marah karena masalah privasinya di luar sekolah terancam.&lt;br /&gt;Para murid menumpahkan kemarahan mereka di dalam halaman grup tersebut. "Kepala sekolah menunjukkan ketidak mampuannya mentertawakan dirinya sendiri, dan siapa pun yang berpendapat dia (kepala sekolah) harus mengekang kebebasan berekspresi ini mungkin berharap agar sesuatu yang lebih lucu harus dilakukan kepada kepala sekolah," tulis seseorang yang tak menggunakan namanya (anonymous).&lt;br /&gt;Yang lain mengatakan, "Tidak ada yang disebutkan di grup ini yang melanggar hukum. Tidak ada yang bersifat jahat dan memfitnah di sini. Hanya humor anak-anak sederhana."&lt;br /&gt;Namun Hitch didukung oleh para stafnya, yayasan pemilik sekolah dan kepolisian setempat. Menurut wakil kepala sekolah, apa yang dilakukan anak-anak itu tergolong komunikasi yang penuh kedengkian dan menghasut yang ditujukan kepada kepala sekolah, yang bertentangan dengan aturan perilaku sekolah.&lt;br /&gt;Dalam pernyataannya pihak sekolah mengatakan, apa yang tercantum di Facebook itu tak seperti yang diberitakan di mana-mana, yang menyebutkan hal-hal lucu di situs pribadi. Isinya bukan lagi becandaan dan tempatnya bukan di situs pribadi.&lt;br /&gt;"Penuh pelecehan tingkat tinggi dan kata-kata tidak sopan yang ditujukan secara personal kepada kepala sekolah di situs umum," kata wakil kepala sekolah, Martin Atkinson.&lt;br /&gt;Ketua dewan yayasan, John Ingamells, juga menyebut grup di Facebook itu memenuhi unsur cyberbullying. "Perilaku dan bahasa yang digunakan sama sekali tak bisa diterima dan ditoleransi di lingkungan sekolah," katanya.&lt;br /&gt;Katanya lagi, tindakan Hitch sesuai dengan aturan sekolah, dan dia akan melakukan hal serupa jika cyberbullying itu menimpa murid atau staf sekolah lainnya.&lt;br /&gt;Dinas pendidikan Hertfordshire juga mendukung tindakan sang kepala sekolah. "Kami mendukung tindakan kepala sekolah. Ini adalah cyberbullying dan efeknya, yang sangat penting untuk menjadi perhatian," kata jurubicara dinas pendidikan setempat. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Daily Mail/ink)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/16518&lt;br /&gt;Jumat, 13 November 2009 | 21:24 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7423117768109529589?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7423117768109529589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/kepala-sekolah-di-bullying.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7423117768109529589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7423117768109529589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/kepala-sekolah-di-bullying.html' title='Kepala Sekolah Di-Bullying'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-8107276461490960937</id><published>2010-01-31T23:09:00.003+07:00</published><updated>2010-01-31T23:12:56.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Nakal Diciptakan, Bukan Dilahirkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadikan Orangtua Sahabat Anak, Tegakkan Aturan Tanpa Paksaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNAHKAH orangtua merasakan anak-anak sulit diatur? Mainan berserakan di mana-mana, perkataan orangtua tidak digubris oleh anak, dan lainnya. Lalu keluarlah 'cap' anak nakal yang nggak bisa diatur. Padahal sebenarnya anak nakal tidak dilahirkan, tetapi diciptakan. Diciptakan oleh siapa? Ya oleh orangtuanya.&lt;br /&gt;Psikolog Dra Diennaryati Tjokrosuprihatono MPsi mengatakan, para orangtua (ortu) harus bekerja sama menjadi satu tim dan bersikap konsisten dalam menerapkan peraturan-peraturan di rumah. Selain itu, hindari untuk menjadi tipe orangtua yang membuat anak tidak nyaman dan tidak efektif. Ortu tipe ini adalah ortu yang suka marah-marah atau frustrasi, menghindari masalah, kehabisan akal, tidak teratur atau berantakan, suka mencari-cari alasan, sering bersuara keras, cerewet ataupun sering meremehkan si kecil.&lt;br /&gt;"Seringkali anaknya dianggap bermasalah, padahal orangtuanya yang bermasalah," kata Diennaryati saat talkshow 'Tips Nanny 911, Bantu Ibu Moo jadi Sahabat Si Kecil' di Grand Indonesia, Jakarta, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dilema orangtua, khususnya ibu, pada dasarnya disebabkan oleh keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil tanpa menjadikannya seorang 'polisi jahat' karena penyampaian dengan cara yang kurang dapat dimengerti oleh si kecil.&lt;br /&gt;"Untuk menerapkan peraturan pada si kecil, para ibu atau ayah perlu mengerti bagaimana cara penyampaian yang tepat. Mereka harus berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak sehingga anak mau menjalankan peraturan dengan senang hati," ujar Diennaryati.&lt;br /&gt;Untuk mencegah anak melanggar aturan yang sudah ditetapkan orangtua, Wakil Dekan Bidang Non-akademis Fakultas Psikologi UI ini menjelaskan agar memperbanyak kebersamaan dengan anak di situasi yang menyenangkan dan aman, menghargai anak, lebih banyak memberikan pujian daripada hukuman.&lt;br /&gt;"Kalau sudah saling menghargai akan ada komunikasi yang lancar. Ketika orangtua ingin memberikan aturan seperti mencuci tangan dan kaki sebelum tidur, lakukan saat situasi menyenangkan sehingga anak akan mengerti," ujar psikolog yang biasa disapa Dini itu.&lt;br /&gt;Situasi yang menyenangkan tersebut bisa terbentuk jika orangtua dan anak tidak dalam kondisi capek tapi sedang senang. Misalnya saat makan bersama, saat si kecil menikmati camilan yang mereka sukai, menjelang tidur, atau bermain bersama.&lt;br /&gt;Aturan tertulis&lt;br /&gt;Ketika anak terus melanggar peraturan, perlukah peraturan itu dibuat tertulis? Menurut Dini, untuk menerapkan disiplin jangan terlalu banyak kata-kata, namun yang terpenting adalah memberikan contoh dan memberikan pujian serta hukuman. Peraturan tertulis malah dianggap kurang efektif. "Kenapa anak tidak suka disiplin? Karena disiplin pakai kata-kata. Apalagi ada kata-kata 'pokoknya harus', sehingga tidak menyenangkan," katanya. Jika yang diinginkan orangtua adalah anak bisa merapikan mainan sehabis bermain, beri contoh merapikan dan ajak anak merapikan bersama-sama.&lt;br /&gt;Jika anak itu sudah besar, mengajak bicara lebih efektif dengan sama-sama merumuskan apa saja yang harus ditepati dan konsekuensinya apa jika tidak ditepati. "Akan lebih mudah untuk mengingatkan ketika si anak tidak menaati aturan yang sudah dibuat," ujar psikolog kelahiran Paris, 3 Januari 1954 tersebut. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(lis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;  http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/18837&lt;br /&gt;Senin, 28 Desember 2009 | 17:37 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-8107276461490960937?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/8107276461490960937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/nakal-diciptakan-bukan-dilahirkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8107276461490960937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8107276461490960937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/nakal-diciptakan-bukan-dilahirkan.html' title='Nakal Diciptakan, Bukan Dilahirkan'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4655642116939948748</id><published>2010-01-31T23:04:00.002+07:00</published><updated>2010-01-31T23:08:25.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kuliah Gratis Lewat Jalur Tahfidz Qur’an</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bandung, Warta Kota &lt;/span&gt;-- Universitas Islam Bandung (Unisba) membuka jalur penerimaan mahasiswa baru tanpa tes bagi calon mahasiswa yang hapal Al-qur’an sebanyak 30 juzz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Calon mahasiswa yang hafal 30 Juzz Al-qur’an bisa masuk Unisba dengan mengikuti jalur Tahfidz Qur’an, tanpa tes ujian masuk," kata Wakil Rektor Bidang Akademik Unisba, Prof Edi Setiadi, di Bandung, Selasa (19/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mahasiswa yang diterima melalui jalur itu juga mendapat fasilitas bebas biaya kuliah dalam jangka waktu lima tahun. Mereka yang berminat masuk Unisba dengan jalur Tahfidz Qur’an bisa mendaftar ke kampus Unisba.&lt;br /&gt;"Silakan datang langsung ke sini dengan hafal 30 Juzz nanti kita uji," tutur Edi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain jalur hafal Al-qur’an, ada dua jalur lain yang dibuka Unisba, yaitu jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) dan penerimaan biasa melalui ujian tertulis. Edi mengatakan, jalur PMDK dilaksanakan dengan kriteria masuk rangking 10 besar di kelas, serta nilai rata-rata rapor 7 dari kelas 1 sampai kelas 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk jalur ujian saringan masuk (USM) dilaksanakan dalam tiga gelombang. Gelombang pertama bulan April, gelombang kedua bulan Juli, dan gelombang ketiga bulan Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur PMDK juga diterapkan dua perguruan tinggi swasta lain, yaitu Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan Universitas Pasundan (Unpas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita menggunakan dua jalur untuk masuk ke sini yaitu lewat PMDK dan testing atau lewat ujian," kata Kepala Biro Adm Kemahasiswaan Universitas Pasundan (Unpas), Darodjat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk PMDK Unpas melakukan dengan cara menelusuri ke sekolah-sekolah, mencari siswa yang berprestasi dan akan langsung diterima tanpa mengikuti tes.  Untuk jalur ujian, perguruan tinggi itu mengadakan tiga gelombang, Juni, Juli, Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Reno Margiantoro, mengatakan, perguruan tinggi itu menggunakan tiga program jalur masuk yaitu melalui PMDK, ujian saringan masuk (USM), dan ujian masuk bersama.  Namun yang paling banyak menyerap calon mahasiswa adalah jalur masuk lewat PMDK dan USM. USM diadakan tiga gelombang; Januari, Mei, dan Juli. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Antara/ink)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber  :&lt;/span&gt; http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/20143&lt;br /&gt;Selasa, 19 Januari 2010 | 11:39 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4655642116939948748?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4655642116939948748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/kuliah-gratis-lewat-jalur-tahfidz-quran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4655642116939948748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4655642116939948748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/kuliah-gratis-lewat-jalur-tahfidz-quran.html' title='Kuliah Gratis Lewat Jalur Tahfidz Qur’an'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-2011680695159376863</id><published>2010-01-31T22:48:00.006+07:00</published><updated>2010-01-31T23:00:55.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pintar Tapi Berakhlak Buruk Tidak Lulus</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Empat Syarat Siswa Dinyatakan Lulus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istana Negara, Warta Kota&lt;/span&gt; -- Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh, memastikan pemerintah tetap akan menyelenggarakan ujian nasional (UN) untuk tahun ajaran 2010. Hal ini dikatatkan oleh M Nuh usai melakukan rapat terbatas Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) di Kantor Presiden, Kamis (7/10).&lt;br /&gt;M Nuh mengungkapkan, ada beberapa perubahan terkait pelaksanaan ujian nasional ini. Yang menarik, dalam penjelasan Mendiknas, siswa yang berkelakuan buruk meski lulus UN, tetap dinyatakan tidak lulus. Dengan kata lain, ada empat sarat bagi siswa untuk dinyatakan lulus.&lt;br /&gt;"Yang jelas, yang dipakai landasan menentukan kelulusan kalau memenuhi empat syarat yang harus dipenuhi secara keseluruhan. Pertama dia telah menyelesaikan seluruh program pendidikan. Maksudnya begini, kalau ada anak kelas dua, dia pinter pol, belum pernah kelas III, terus ujian, dan lulus, maka belum lulus karena dia belum menyelesaikan seluruh programnya, kata M Nuh.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sarat kedua,kelulusan terkait dengan tata krama, budi pekerti, dan akhlak moral. "Jadi, kalau ada anak nakalnya bukan main, di luar batas- batas kewajaran, meski pun ujiannya kayak apa pun, kalau sarat kedua tidak lulus, maka nggak lulus. Syarat ke tiga, ujian mata pelajaran yang diujikan sekolah, dan yang ke empat ujian nasional," ujar Mendiknas.&lt;br /&gt;"Jadi, meskipun ujian nasionalnya dapat 10, tapi kalau akhlaknya jembret (buruk), maka dia ndak lulus . Atau ujian nasionalnya 10, tapi ujian sekolahnya dia jembret lagi, ya nggak lulus. Nah, empat syarat ini harus dipenuhi," kata M Nuh.&lt;br /&gt;Mendiknas kemudian meminta semua pihak untuk tidak menjadikan ujian nasional sebagai hal yang menakutkan. Dia tidak sepakat bila ada yang mengatakan UN hanya membuat anak  menjadi stres.&lt;br /&gt;"UN membuat anak stres? Saya bilang tidak usah anak, sampeyan sendiri kalau diuji juga stres. Yang penting kita bisa mengelola potensi kemampuan psikologis kita untuk menghadapi persoalan perstresan itu. Dan dengan UN itu tidak usah khawatir, kita sudah masuk dalam kompetisi global. Kompetisi nasional saja sudah menolak-nolak, takut, ndak mau. Terus kapan bisa menang kompetisi global," kata M Nuh menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menekankan, pada pelaksanaan UN tahun 2010 ini selain ada ujian utama juga akan diadakan ujian susulan, bila siswa berhalangan sakit atau berhalangan lain. Dan kepada siswa yang tidak lulus, diberikan jeda waktu selama satu bulan untuk mempersiapkan diri, belajar lagi karena pemerintah akan memberikan ujian ulang bagi siswa yang tidak lulus.&lt;br /&gt;"Yang diulang boleh mata pelajaran yang tidak lulus, atau boleh mata pelajaran secara keseluruhan. Dengan adanya ujian utama, susulan, dan ujian ulang ini, Insyallah sudah mengakomodasi apa yang menjadi perhatian, concern masyarakat secara keseluruhan," ujar M Nuh.&lt;br /&gt;Terkait soal putusan kasasi MA beberapa waktu lalu yang membatalkan UN, Mendiknas menjawab tdak ada satu pun dalam putusan yang meminta agar UN dihentikan. Dalam putusan itu, katanya, pemerintah hanya diminta untuk melakukan perbaikan terhadap kualitas Ujian Nasional. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Persda/yat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://www.wartakota.co.id/read/pendidikan/19559&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 7 Januari 2010 | 19:53 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-2011680695159376863?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/2011680695159376863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/pintar-tapi-berakhlak-buruk-tidak-lulus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2011680695159376863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2011680695159376863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2010/01/pintar-tapi-berakhlak-buruk-tidak-lulus.html' title='Pintar Tapi Berakhlak Buruk Tidak Lulus'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1073520890663151141</id><published>2009-12-31T19:58:00.003+07:00</published><updated>2009-12-31T20:03:24.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Buku Pedoman Pesantren Terbit Tahun Ini</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Selasa, 15 Desember 2009 pukul 16:24:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Departemen Agama (Depag) segera meluncurkan dua buah buku pedoman penyelenggaraan pendidikan pesantren salafiyah maupun pengembangan kurikulum pesantren, akhir tahun ini. Buku pedoman tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pesantren yang telah berdiri dan berjalan maupun bagi pendirian pesantren.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Dalam tahun ini juga buku pedoman tersebut segera terbit. Sekarang sudah dikoreksi," ujar Direktur Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Depag, Choirul Fuad Yusuf di Jakarta, Selasa (15/12). Menurut dia, kehadiran buku pedoman bagi pesantren ini sangat penting untuk menyamakan visi penyelenggaraan pendidikan di pesantren ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, sejak tujuh ratusan tahun silam, Indonesia sudah mengenal pendidikan keagamaan yang disebut pondok pesantren. Hingga saat ini, kata dia, jumlah pesantren di seluruh Tanah Air mencapai 21.521 pesantren, dengan beragam pola pendidikan dan pengajarannya. Hal ini menunjukkan, perkembangan pendidikan agama melalui pesantren tumbuh pesat, dan setidaknya dapat memberikan kontribusi positif bagi umat maupun bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya penerbitan buku ini, lanjut dia, mengingat pesantren tersebar di berbagai belahan daerah, yang sepertinya belum ada kesatuan yang sama dalam mengembangkan pendidikan agama Islam dalam kurikulumnya. Masing-masing pesantren baik yang tradisional maupun yang sudah berkembang, sudah pasti menyelenggarakan pola pendidikannya sendiri-sendiri. Intinya, tidak ada acuan resmi bagi pendirian maupun penyelenggaraan pendidikan di pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan ini, membuat Depag mengambil langkah menyiapkan pedoman bagi penyelenggaraan pesantren. Ia mengatakan pesantren baru diakui secara resmi sejak keluarnya Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, dan juga sejak adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Tetapi, pola pembelajarannya tetap sendiri-sendiri sesuai dengan pemilik atau kiyai atau ustad pesantren tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, secara manajerial, pesantren perlu penataan yang cepat dan segera. "Kita akan coba menyusun pedomannya, walau sebetulnya secara legal harus lewat Peraturan Menteri Agama (PMA). Tetapi, kita buat pedomannya dulu sebelum PMA turun dua bulan lagi," terangnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mur/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/96117/Buku_Pedoman_Pesantren_Terbit_Tahun_Ini"&gt;http://republika.co.id/berita/96117/Buku_Pedoman_Pesantren_Terbit_Tahun_Ini&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1073520890663151141?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1073520890663151141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/buku-pedoman-pesantren-terbit-tahun-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1073520890663151141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1073520890663151141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/buku-pedoman-pesantren-terbit-tahun-ini.html' title='Buku Pedoman Pesantren Terbit Tahun Ini'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-125932806168717948</id><published>2009-12-31T19:51:00.006+07:00</published><updated>2009-12-31T19:57:52.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pengajaran Dirham Dinar di Sekolah Alam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Szyffj01klI/AAAAAAAAADA/euZtsqRuDFs/s1600-h/20090313130453.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 396px; height: 281px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Szyffj01klI/AAAAAAAAADA/euZtsqRuDFs/s320/20090313130453.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421383415988851282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 07 Desember 2009 pukul 17:27:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Untuk ke sekian kalinya komunitas Sekolah Alam, Ciganjur mendengarkan paparan tentang Dirham dan Dinar. Komunitas Sekolah Alam, Ciganjur, merupakan salah satu komunitas pengguna Dirham dan Dinar. Sejak awal berdirinya, di awal 2000-an lalu, SA telah menerima pembayaran iuran sekolah dengan Dinar emas. Dalam siaran persnya Wakala Induk Nusantara menyebutkan, sampai saat ini, sebagian dana cadangan sekolah yang memiliki metoda belajar berbasis pada alam dan kemerdekaan anak-anak ini, disimpan dalam bentuk Dinar emas.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam beberapa kesempatan, murid-murid SA diberi pengajaran tentang Dirham dan Dinar. Misalnya, salah satu kegiatan outing mereka adalah mengunjungi Wakala Adina, di Depok, untuk mempelajari secara langsung cara kerja Wakala.&lt;br /&gt;Baru-baru ini salah satu tema pengajaran untuk kelas 2, adalah tentang mata uang, maka materi Dirham dan Dinar pun masuk di dalamnya. Di depan sekitar 40 murid kelas 2 SD Sekolah Alam, Zaim Saidi, memberikan penjelasannya, tentu disesuaikan dengan bahasa anak-anak.&lt;br /&gt;Ketika di akhir sesi pada anak-anak itu ditanyakan pilihan yang disukainya, antara uang kertas atau uang emas/perak, serempak mereka menjawab, "Dinar dan dirham!" Mengapa? "Karena nilainya yang tak pernah turun ..." Jadi, dengan sedikit penjelasan, anak-anak kelas 2 SD pun mengerti bahwa uang kertas tidaklah memiliki nilai.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; pur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;http://&lt;a href="http://republika.co.id/berita/94128/Pengajaran_Dirham_Dinar_di_Sekolah_Alam"&gt;republika.co.id/berita/94128/Pengajaran_Dirham_Dinar_di_Sekolah_Alam&lt;br /&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-125932806168717948?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/125932806168717948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/pengajaran-dirham-dinar-di-sekolah-alam_31.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/125932806168717948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/125932806168717948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/pengajaran-dirham-dinar-di-sekolah-alam_31.html' title='Pengajaran Dirham Dinar di Sekolah Alam'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Szyffj01klI/AAAAAAAAADA/euZtsqRuDFs/s72-c/20090313130453.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3762203132676133848</id><published>2009-12-31T19:42:00.003+07:00</published><updated>2009-12-31T19:44:40.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Anak-anak Jangan 'Dikarbit'</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Jumat, 11 Desember 2009 pukul 08:15:00&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SOROWAKO--Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter Divisi dari Indonesia Heritage Foundation, Dewi Utama Faizah mengimbau agar anak-anak jangan dikarbit. Sebab, ada kecenderungan orang tua menginginkan anaknya untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah, sehingga muncullah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, dikhawatirkan ada ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidatahuannya, ujar Dewi Utama Faizah sebagai pembicara tunggal dalam Seminar Pendidikan Early Ripe Early Rote (Anak-anak Karbitan) di Gedung Ontaeluwu, Sorowako, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar yang dihadiri ratusan ibu-ibu ini diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Inco (IKI) untuk memberikan wawasan dan pengetahuan terutama bagi ibu-ibu dalam mendidik anak-anaknya. Dalam seminar ini, Dewi banyak memberikan tips bagaimana mendidik anak sehingga terhindar sebagai anak-anak karbitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dewi yang juga bekerja di Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional, banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tapi tidak menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harapan yang berlebihan, tekanan dari orang tua yang bertubi-tubi membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi miniatur orang dewasa. Di sisi lain media massa merangsang anak untuk cepat mekar seperti program TV yang tak pantas ditonton, yang memicu perilaku anak tumbuh kembang secara cepat." katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya kelak dapat menimbulkan gangguan kepribadian dan emosi pada anak Ketika menjadi dewasa, mereka menjadi dewasa yang kekanak-kanakan. Idealnya, anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. "Percayalah anak yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Setiap anak memilik potensi yang hebat, berbeda dan unik," ujar Dewi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ant/ahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://republika.co.id/berita/95165/Anak_anak_Jangan_Dikarbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3762203132676133848?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3762203132676133848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/anak-anak-jangan-dikarbit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3762203132676133848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3762203132676133848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/anak-anak-jangan-dikarbit.html' title='Anak-anak Jangan &apos;Dikarbit&apos;'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1465568994939022465</id><published>2009-12-31T19:39:00.001+07:00</published><updated>2009-12-31T19:41:47.019+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Siswa SD di Bogor Dibaiat Antikorupsi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 09 Desember 2009 pukul 05:13:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOGOR--Memperingati hari antikorupsi sedunia, puluhan siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Birul Walidain di sumpah (baiat) untuk tidak melakukan korupsi atau antikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang siswi bernama Nazirah (8), di Bogor, Selasa, mengatakan berjanji tidak akan melakukan korupsi, karena perbuatan itu telah memakan hak orang lain. "Ibu guru bilang, korupsi itu salah satu dosa besar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan sumpah dilakukan oleh pimpinan yayasan di sekolah yang terletak di Desa Parakan Jaya, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengambilan sumpah dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pembagian buku anti korupsi terbitan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diperolah pihak yayasan dari dinas pendidikan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pembaiatan dilakukan dilapangan sekolah, para siswa-siswi diambil sumpahnya dengan cara memegang bendera merah putih dan mengucapkan sumpah atau ikrar tidak akan melakukan korupsi, apalagi melakukan suap kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memed Jalaluddin, Kepala Yayasan SDIT Birul Walidain, mengatakan bahwa kegiatan tersebut termasuk merupakan pembelajaran sejak dini kepada generasi muda, termasuk pembagian buku anti korupsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam buku anti korupsi banyak pelajaran yang bisa diambil oleh para siswa, karena buku itu menceritakan berbagai cara untuk korupsi dan dampak negatifnya kepada orang lain," ujarnya. Aksi berlangsung setelah para siswa menggalang pengumpulan dana bantuan untuk Prita Mulyasari.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; ant/ahi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/94493/Siswa_SD_di_Bogor_Dibaiat_Antikorupsi"&gt;http://republika.co.id/berita/94493/Siswa_SD_di_Bogor_Dibaiat_Antikorupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1465568994939022465?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1465568994939022465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/siswa-sd-di-bogor-dibaiat-antikorupsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1465568994939022465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1465568994939022465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/siswa-sd-di-bogor-dibaiat-antikorupsi.html' title='Siswa SD di Bogor Dibaiat Antikorupsi'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3199990391215430011</id><published>2009-12-31T19:36:00.001+07:00</published><updated>2009-12-31T19:39:07.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>TI Lahirkan Generasi Karbitan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 02 Desember 2009 pukul 20:58:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURABAYA--Kelebihan dan kekurangan penggunaan teknologi informasi (TI) menjadi problem tersendiri bagi pendidikan di kalangan generasi muda. Salah satunya akan melahirkan generasi pemalas dan tak mau mengasah fikirnya. Sebab, mereka memilih copy paste dari internet daripada mengolah data sendiri untuk mengerjakan tugasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Ir Abdullah Shahab M Sc dosen Teknik Mesin ITS mengatakan, fakta ini sudah banyak terjadi di kalangan mahasiswa dan pelajar SMA, meski adanya IT juga sangat menguntungkan. ''Dari internet, mereka mengumpulkan, mengambil mana yang cocok terus digabung jadi satu. Kalau disuruh pakai bahasa Inggris, mereka bisa langsung copy, tapi kalau bahasa Indonesia, mereka lebih memilih menterjemahkan daripada meramunya dengan bahasa sendiri,'' kata Shahab usai Seminar Nasional IT for Life di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika &amp;amp; Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya, Rabu (2/12).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, imbuh dia, mahasiswa boleh saja mengambil atau copy paste informasi dari internet. Tapi, dalam kerangka referensi dengan mencantumkan narasumber. ''Kalau hanya copy paste, ambil dan digabung dari internet, itu bukan karya sendiri tapi studi kepustakaan,'' ujar pria yang mengambil studi S3 di Universitas Nantes Prancis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, belum banyak peneliti di Indonesia yang menghasilkan karyanya sendiri. Banyak dari mereka yang memanfaatkan karya orang lain. Sejauh dilakukan secara proporsional, sah-sah saja memanfaatkan karya orang lain. Tetapi agar para peneliti atau ilmuwan mampu membuat temuan hasil sendiri meskipun berskala kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantisipasi generasi copy paste, institusi pendidikan harus menargetkan pelajar atau mahasiswa menyuguhkan sesuatu yang merupakan karyan sendiri. Para dosen ataupun guru juga harus aktif bertanya darimana karya mereka berasal.''Banyak yang cuma ambil dan mengadopsi. Sehingga ketika ditanya, mahasiswa tidak tahu dan tidak bisa menjelaskan isinya,'' ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penelitian atau riset adalah membaca karya seseorang, membandingkannya dengan karya lain dan mengolahnya berdasarkan pemikiran sang peneliti. Jangan sampai, tandas Shahab generasi copy paste memperbanyak ilmuwan karbitan yang saat ini mulai bermunculan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;uki/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/93128/TI_Lahirkan_Generasi_Karbitan"&gt;http://republika.co.id/berita/93128/TI_Lahirkan_Generasi_Karbitan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3199990391215430011?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3199990391215430011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/ti-lahirkan-generasi-karbitan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3199990391215430011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3199990391215430011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/ti-lahirkan-generasi-karbitan.html' title='TI Lahirkan Generasi Karbitan'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-8178628614335534278</id><published>2009-12-31T19:33:00.002+07:00</published><updated>2009-12-31T19:36:26.234+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>PTAIN Siap Tampung Alumnus Pesantren</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 08 Desember 2009 pukul 16:13:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALANG -- Para alumnus lembaga pendidikan pesantren kini tak perlu khawatir lagi kesulitan mendapatkan tempat melanjutkan studinya di lembaga pendidikan umum atau di luar pondok. Pasalnya, pengelola Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) se-Indonesia sepakat memberi perhatian khusus kepada alumni pondok pesantren (ponpes). Bahkan, lulusan ponpes ini akan mendapat prioritas untuk bisa masuk di PTAIN dalam proses seleksi yang akan dimulai pada Juni 2010 mendatang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kabar menggembirakan itu diungkapkan kepala Biro Kemahasiswaan dan Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang, Drs Sudiyono kepada wartawan, kemarin. Namun, menurut dia, prioritas itu ada syaratnya, para santri itu berasal dari pesantren telah mendapatkan rekomendasi dari Departemen Agama yang mengikutkan program ujian penyetaraan. Ijazah dari program penyetaraan itu tetap bisa diakui oleh PTAIN. "Kalau alumni pesantren tidak diterima untuk ikut seleksi nasional perguruan tinggi negeri (SNMPTN), di PTAIN bisa kami terima," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudiyono mengungkapkan, kesepakatan untuk menampung alumnus pesantren itu diperoleh dalam pertemuan 52 rektor PTAIN di Hotel Kartika Wijaya, Batu belum lama ini. Selain itu, ada dua hal lagi yang juga disepakati. Yakni, sistem pendaftaran dilakukan dalam satu atap secara online yang dipusatkan di UIN Malang. Server pendaftaran secara nasional akan berada di UIN. Namun, untuk panitia berasal dari berbagai PTAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pendaftaran secara online, calon mahasiswa bisa mendaftar di daerah masing-masing. Tinggal klik di website masing-masing kampus, mereka bisa memilih kampus yang diinginkan. "Jadi, calon mahasiswa tidak perlu datang ke kampus yang dituju untuk sekadar mendaftarkan diri," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, mahasiswa asal Papua yang ingin kuliah di UIN Malang, tak perlu datang ke Malang untuk daftar. Bisa daftar via internet lalu menunggu panggilan untuk ujian. Saat ujian pun demikian, tidak perlu harus datang ke Malang. Cukup mengikuti ujian di lokasi yang ditunjuk di Papua saja sudah bisa. "Baru kalau sudah diterima harus datang ke Malang dan langsung mengikuti proses pembelajaran," ujar Sudiyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna mematangkan model baru ini, panitia yang dipilih terus menggodok sistem teknologi informasi (TI). Persiapan akan langsung dilakukan pada pertengahan Desember nanti. 'Kami ingin program yang pertama ini berlangsung sukses. Maka kami segera persiapan segalanya," tegasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ghufron/ahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/94393/PTAIN_Siap_Tampung_Alumnus_Pesantren"&gt;http://republika.co.id/berita/94393/PTAIN_Siap_Tampung_Alumnus_Pesantren&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-8178628614335534278?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/8178628614335534278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/ptain-siap-tampung-alumnus-pesantren-by.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8178628614335534278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8178628614335534278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/ptain-siap-tampung-alumnus-pesantren-by.html' title='PTAIN Siap Tampung Alumnus Pesantren'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7277456044217848913</id><published>2009-12-31T19:29:00.002+07:00</published><updated>2009-12-31T19:32:55.987+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendiknas: Semua Sekolah Perlu Perhatian Pemerintah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 25 November 2009 pukul 19:56:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANTUL--Menteri Pendidikan Nasional Mohamad Nuh menegaskan semua sekolah akan memperoleh perhatian pemerintah, dan tidak ada niat sedikit pun untuk membeda-bedakan. "Pemerintah tidak ingin membeda-bedakan dalam memberikan perhatian kepada sekolah, semuanya akan diperhatikan, dan tidak ada diskriminasi," katanya ketika mengunjungi Sekolah luar biasa (SLB) Negeri 4 Yogyakarta di Jalan Imogiri Barat, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan apabila sekolah internasional sering dikunjungi pejabat misalnya, sedangkan SLB jarang mendapat kunjungan, maka mulai 2010 pihaknya akan mengajak para pejabat untuk mengunjungi SLB, termasuk SLB Negeri 4 Yogyakarta. Mendiknas mengatakan pihaknya punya komitmen untuk tidak membeda-bedakan sekolah, apa pun jenisnya, dan di mana pun sekolah itu berada akan memperoleh perhatian dari pemerintah.&lt;br /&gt;Untuk itu, dirinya akan berkeliling ke berbagai sekolah untuk mengetahui kondisinya dan bagaimana perkembangannya. "Kita perlu tahu apa saja yang harus didorong bagi perkembangan sekolah dan kemajuan anak didik," katanya.&lt;br /&gt;Sehingga, kata dia, dengan memberikan dorongan motivasi serta semangat, segala keterbatasan yang dimiliki sekolah maupun siswa tidak akan menjadi penghambat mereka untuk mengekpresikan potensi, talenta, dan kemampuannya.&lt;br /&gt;Menteri berharap melalui pendidikan ini akan semakin menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan anak didik dan orang tuanya, sehingga nantinya memberikan kemanfaatan bagi anak itu sendiri dan keluarganya.&lt;br /&gt;Pada kunjungan kerjanya ke SLB Negeri 4 Yogyakarta, Mohamad Nuh menanyakan kepada kepala sekolah dan para guru apakah masih ada yang belum berstatus pegawai negeri sipil (PNS).  "Kami bangga semua guru di sini sudah menjadi PNS, bahkan ada yang pensiun sebagai PNS. Kami salut terhadap pengabdian para guru di sekolah ini," katanya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan memberikan penghargaan kepada kepala sekolah, guru, komite sekolah dan siswa. "Penghargaan ini untuk mendorong agar terus meningkatkan kemampuan dan prestasi bagi kemajuan sekolah dan siswa," katanya.&lt;br /&gt;Mendiknas pada kesempatan itu berjanji segera menindaklanjuti apa saja yang masih dibutuhkan sekolah, dan untuk realisasinya akan dimasukkan dalam anggaran 2010. Menteri dalam kunjungannya ke SLB Negeri 4 Yogyakarta berkesempatan melihat hasil karya para siswa dan guru, di antaranya berupa rangkaian bunga, lukisan, barang kerajinan kayu, serta alat peraga sekolah.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ant/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/91828/Mendiknas_Semua_Sekolah_Perlu_Perhatian_Pemerintah"&gt;http://republika.co.id/berita/91828/Mendiknas_Semua_Sekolah_Perlu_Perhatian_Pemerintah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7277456044217848913?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7277456044217848913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/mendiknas-semua-sekolah-perlu-perhatian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7277456044217848913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7277456044217848913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/mendiknas-semua-sekolah-perlu-perhatian.html' title='Mendiknas: Semua Sekolah Perlu Perhatian Pemerintah'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6308780646991038590</id><published>2009-12-31T19:02:00.010+07:00</published><updated>2009-12-31T19:12:16.189+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendiknas: Tumbuhkan Kesadaran Kolektif Gemar Membaca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SzyT0t0pHVI/AAAAAAAAACw/ipHVIZN6HJ4/s1600-h/20090414171603.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 380px; height: 251px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SzyT0t0pHVI/AAAAAAAAACw/ipHVIZN6HJ4/s320/20090414171603.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421370585310109010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 14 Desember 2009 pukul 18:24:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyatakan, urusan pembudayaan membaca tidak bisa diselesaikan hanya dengan undang-undang, tetapi justru harus dikembangkan kesadaran kolektif bagi masyarakat agar gemar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita itu kekurangan pada kolektivitasnya. Ada orang yang sangat gemar membaca di Indonesia, sangat banyak, tetapi banyaknya itu belum cukup menggerakkan dibandingkan dengan populasi penduduk kita. Paling tidak para pengelola perpustakaan itu semuanya sudah gemar membaca,  tapi berapa jumlah orangnya? Tak ada sekian persen dari jumlah populasi. Oleh karena itu, kita perlu menumbuhkan kesadaran kolektif gemar membaca," ujar Mendiknas saat membuka Seminar Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Senin (14/12).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas menyampaikan, untuk menumbuhkan gemar membaca harus menyiapkan bahan bacaan. Kalau itu berupa buku, kata Mendiknas, maka dipengaruhi oleh bentuk fisik dari buku itu. " Kalau bukunya itu sendiri sudah tidak menarik, maka jangan berharap orang bisa tertarik untuk membacanya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang harus disiapkan, kata Mendiknas, adalah karakter atau huruf dalam bahan bacaan. Di situ pula, lanjut Mendiknas, tentang pentingnya pemberantasan buta huruf. "Orang tidak mungkin mau membaca kalau dia sendiri tidak mengenal karakter dari apa yang mau dibaca," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, hal yang ketiga, yang sangat substantif, adalah isi dari buku itu sendiri. "Menjadi tantangan bagi para penulis kita termasuk kita semua untuk membiasakan menulis dan isi dari tulisan itu harus bisa memberikan pencerahan dan pencerdasan bagi kita semua," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, kata Mendiknas, jika dilihat dari sisi pembaca, seseorang akan gemar membaca adalah bukan karena paksaan. Untuk itu, lanjut dia, yang tidak boleh dilupakan adalah menumbuhkan ketertarikan. ''Oleh karena itu, kita bangun kesadaran bersama-sama, kita ajak kawan-kawan untuk membiasakan menulis dan menyiapkan bahan bacaan secara atraktif dan menarik," jelasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;eye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/95904/Mendiknas_Tumbuhkan_Kesadaran_Kolektif_Gemar_Membaca"&gt;http://republika.co.id/berita/95904/Mendiknas_Tumbuhkan_Kesadaran_Kolektif_Gemar_Membaca&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6308780646991038590?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6308780646991038590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/mendiknas-tumbuhkan-kesadaran-kolektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6308780646991038590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6308780646991038590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/mendiknas-tumbuhkan-kesadaran-kolektif.html' title='Mendiknas: Tumbuhkan Kesadaran Kolektif Gemar Membaca'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SzyT0t0pHVI/AAAAAAAAACw/ipHVIZN6HJ4/s72-c/20090414171603.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-2359029387617700950</id><published>2009-12-31T18:53:00.003+07:00</published><updated>2009-12-31T18:57:03.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Siswa Sekolah Muhammadiyah Raih Special Award di Korea</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Selasa, 22 Desember 2009 pukul 20:05:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIDOARJO--Siswa Sekolah Muhammadiyah Sidoarjo, Jatim, berhasil meraih sejumlah penghargaan "special award" dalam lomba robot tingkat internasional di Korea. Kepala SMU Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Hidayatullah, Selasa, mengatakan, lomba ini digelar di Korea pada 17 hingga 20 Desember lalu. "Meskipun belum meraih medali emas, perak maupun perunggu, tetapi kami tetap bangga karena siswa kami berhasil mempersembahkan 'Special Award' dan sudah mampu mengharumkan nama bangsa di mata internasional," katanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia mengemukakan, dari lima pelajar yang mendapat penghargaan 'special award' ini, masing masing menunjukkan kemampuan pada kategori yang berbeda. "Untuk Akhmad Habib Almutawakil, siswa kelas VI SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, menyabet predikat 'special award' untuk kategori 'junior cart rolling ball'," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Suwaibatul Annisa, siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo masuk dalam kategori 'junior transporter' dan Muhammad Arifin dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Muhammadiyah masuk kategori 'chalenge prison break'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kata dia, Bagus Yudho dari SMP 1 Muhammadiyah masuk dalam kategori 'challenge cart rolling ball' dan Berlian Fatikh Mubarok dari SMU 2 Muhammadiyah Sidoarjo untuk kategori 'challenge robot dancing'. "Dari sembilan siswa yang kami kirim, lima mendapatkan predikat 'special award'," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, sebelum mengikuti ajang internasional ini, siswa sekolah Muhammadiyah juga pernah meraih juara pada tingkat Nasional kontes ROCI Award (Robotic Organizing Community Indonesia) di Solo, Jawa Tengah. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ant/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/97572/Siswa_Sekolah_Muhammadiyah_Raih_Special_Award_di_Korea"&gt;http://republika.co.id/berita/97572/Siswa_Sekolah_Muhammadiyah_Raih_Special_Award_di_Korea&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-2359029387617700950?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/2359029387617700950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/siswa-sekolah-muhammadiyah-raih-special.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2359029387617700950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2359029387617700950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/siswa-sekolah-muhammadiyah-raih-special.html' title='Siswa Sekolah Muhammadiyah Raih Special Award di Korea'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3495311133776261167</id><published>2009-12-31T18:04:00.008+07:00</published><updated>2009-12-31T18:49:39.338+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Fisip UIN Beri Penghargaan Tiga Pemikir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SzyG4LvJnnI/AAAAAAAAACo/HYWaqwDUdOM/s1600-h/20091214114603.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 398px; height: 264px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SzyG4LvJnnI/AAAAAAAAACo/HYWaqwDUdOM/s320/20091214114603.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421356351228583538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0mm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	color:black; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} p 	{mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0mm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0mm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt; 	mso-para-margin:0mm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:11pt;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menteri Agama Suryadarma Ali di damping Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat (kanan) dan Dekan Fisip Bactiar Efendy (kedua dari kanan) memberikan penghargaan kepada Tiga Tokoh yakni alamrhum Harun Nasution, almarhum Nurcholish Madjid, dan Fachry Ali --&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:78%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;M SYAKIR/REPUBLIKA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Senin, 14 Desember 2009 pukul 11:35:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;JAKARTA- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah menganugerahi cendekiawan Nurcholis Madjid, sejarahwan Harun Nasution,dan pengamat politik Fachry Ali Penghargaan FISIP 2009. Ketiganya dinilai telah memberikan kontribusi pemikiran dalam pendekatan ilmu-ilmu sosial dan studi keagamaan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;"Mereka melakukan terobosan penting dalam pemikiran keislaman dan kemodernan di Indonesia. Melalui ketiganya kalau saya boleh klaim politik Islam kontemporer lahir di Ciputat," terang Dekan FISIP UIN Bahtiar Effendy,di auditorium UIN,Senin (14/12).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt;Bahtiar merinci, Harun layak mendapat penghargaan karena sikapnya yang rasionalis dan memberikan ruang bagi penafsiran-penafsiran tentang ajaran Islam. Sedangkan Nurcholish dan Fachry Ali terbukti mengaplikasikan ilmu-ilmu sosial dalam melihat berbagai peristiwa yang menyangkut posisi sosial, keagamaan dan politik umat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0mm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	color:black; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:IN;} p 	{mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0mm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0mm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt; 	mso-para-margin:0mm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;Menteri Agama Suryadharma Ali pun memberikan apresiasinya. Menurutnya,ketiga tokoh tersebut mewakili tiga generasi garis keislaman Indonesia. "Penghargaan ini bukti bahwa tokoh-tokoh tersebut memang diakui dan diterima,"imbuh alumni UIN Syarif Hidayatullah ini. Istri Nurcholish Madjid, Omi Komariah mengaku sangat terkesan dengan penghargaan yang diterima almarhum Cak Nur. "Saya berterima kasih pada semua pihak yang masih mengenang Cak Nur," tuturnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;Rektor UIN Komaruddin Hidayat menyatakan,keberadaan tokoh Islam kontemporer akan membangun citra dan cita Indonesia sebagai negara muslim terbesar. Ia berharap Departemen Agama tampil sebagai pendukungnya dengan memajukan sektor pendidikan. Khususnya UIN di Malang,Jakarta,dan Jogja. "Dengan menonjolkan keunggulan masing-masing,serta pembentukan fakultas baru seperti kedokteran dan psikologi,"pungkas Komaruddin. &lt;strong&gt;wulandari/pur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber  :&lt;/span&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/berita/95783/Fisip_UIN_Beri_Penghargaan_Tiga_Pemikir"&gt;http://republika.co.id/berita/95783/Fisip_UIN_Beri_Penghargaan_Tiga_Pemikir&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3495311133776261167?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3495311133776261167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/fisip-uin-beri-penghargaan-tiga-pemikir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3495311133776261167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3495311133776261167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/fisip-uin-beri-penghargaan-tiga-pemikir.html' title='Fisip UIN Beri Penghargaan Tiga Pemikir'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SzyG4LvJnnI/AAAAAAAAACo/HYWaqwDUdOM/s72-c/20091214114603.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1709444473965363392</id><published>2009-12-31T17:46:00.005+07:00</published><updated>2009-12-31T17:59:36.589+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Al-Farabi, Konsep Pendidikan Manusia Sempurna</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Dyah Ratna Meta Novi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sempurna adalah mereka yang mengetahui kebajikan secara teoretis dan menjalankannya dalam praktik keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian filsafat telah lekat dalam kehidupan Al-Farabi. Cendekiawan Muslim yang hidup di abad ke-8 ini, pun menjelma menjadi seorang filsuf ternama di masanya. Dan kini, reputasinya tetap tak lekang oleh masa. Al-Farabi pun dikenal sebagai ahli matematika, logika, dan tata bahasa. Di sisi lain, pemikirannya menjangkau pula ranah pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia meletakkan dasar-dasar pemikiran di bidang itu. Dalam pandangan Al-Farabi, pendidikan merupakan media untuk mendapatkan serangkaian nilai, pengetahuan, dan keterampilan praktis bagi individu dalam periode dan budaya tertentu. Tujuan akhirnya, membimbing individu untuk menuju kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, manusia diciptakan guna mencapai kesempurnaan. Sementara, kesempurnaan tertinggi adalah kebahagiaan. Menurut Al-Farabi, manusia yang sempurna adalah mereka yang telah mengetahui kebajikan secara teoretis dan menjalankannya dalam praktik keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan, menurut Al-Farabi, harus menggabungkan antara kemampuan teoretis dari belajar yang diaplikasikan dengan tindakan praktis. Kesempurnaan manusia, kata dia, terletak pada tindakannya yang sesuai dengan teori yang dipahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu tidak akan mempunyai arti kecuali jika ilmu itu dapat diterapkan dalam kenyataan dalam masyarakat. Jika tidak diterapkan maka ilmu itu tak berguna. Singkatnya, kata Al-Farabi, seseorang menjadi sempurna jika ia mempraktikkan ilmunya dalam tataran praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Al-Farabi menyatakan, saat kebajikan teoretis dan moral berpadu dengan kekuasaan, lahirlah penghargaan masyarakat kepada individu itu. Saat kaum terpelajar mengambil tanggung jawab kepemimpinan politik, ia yakin mereka bisa menjadi panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, kaum terpelajar memiliki kebajikan teoretis dan moral praktis. Menurut Al-Farabi, mereka menyatukan nilai-nilai moral dan estetika dalam menjalankan kepemimpinan politiknya. Kondisi dan perilaku seperti itulah yang mestinya dimiliki kaum terpelajar dan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pandangannya yang seperti itu, Al-Farabi menekankan terwujudnya suatu kesempurnaan dalam ranah pendidikan. Yaitu, meleburnya pengetahuan intelektual dan perilaku yang saleh. Saat pemimpin politik tak berada di tangan kaum terpelajar, maka akan lahir bahaya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat beralasan, kata Al-Farabi, sebab seorang pemimpin tentu harus menjalankan kepemimpinannya dengan benar. Jadi, pendidikan itu sama seperti tubuh membutuhkan makanan dan kapal harus memiliki kapten. Menurut Al-Farabi, para pemimpin politik harus memiliki keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan suatu wilayah yang dipimpinnya. Tapi, kerja para pemimpin politik mestinya tak terbatas pada organisasi dan manajemen wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus mampu mendorong orang saling membantu dalam kebajikan dan mengatasi kejahatan. Tak hanya itu, jelas Al-Farabi, mereka juga harus menggunakan keahlian politiknya untuk melindungi praktik kebajikan. Jadi, wilayah yang dipimpinnya sarat kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi mengungkapkan, di antara karakteristik pemimpin politik yang harus ada adalah mampu dimintai pendapat. Dengan kata lain mereka mempunyai kapasitas intelektual untuk memberi solusi yang adil dan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat keamanan suatu wilayah, menjadi cerminan keseimbangan moral. Ketika perilaku moral masyarakat menurun, kenyamanan wilayah itu mengalami gangguan. Jadi, jelas Al-Farabi, terciptanya moral yang baik juga merupakan bagian mendasar dari penyelenggaraan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi menyimpulkan, pendidikan yang berhasil sangat berkorelasi dengan kondisi moral yang baik. Terkait soal moral ini, ia mendefenisikan moral sebagai keadaan pikiran tempat manusia melakukan perbuatan yang baik. Juga, memiliki sifat etis atau rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengaitkan pendidikan dengan kepemimpinan politik dan kondisi moral masyarakat, Al-Farabi juga menegaskan pembuatan hukum pun memiliki kaitan erat dengan pendidikan. Ia menilai bahwa pembuat hukum juga bisa dianggap sebagai penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait masalah hukum, Al-Farabi mengatakan, hukum harus mempunyai fungsi pendidikan. Artinya, pembuat hukum harus taat hukum. Dengan demikian, menaati hukum bukan hanya diwajibkan kepada masyarakat baik awam maupun intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pembuat hukum juga mestinya merupakan figur-figur yang memiliki moral terpuji. Menurut Al-Farabi, pembuat hukum harus terikat dengan hukum yang dibuatnya, sebelum mereka mengharapkan orang lain menaati dan menjalankan hukum yang dibuatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat, jelas Al-Farabi, tak akan mengikuti hukum jika para pembuat hukum sendiri mengabaikannya. Singkatnya, hukum memiliki fungsi pendidikan karena mengarah pada upaya penanaman kebajikan di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan itu, ungkap Al-Farabi, para pembuat hukum harus telah mendapatkan pelatihan sejak dini dalam urusan negara dan tujuan pembuatan hukum harus sesuai ketentuan Allah SWT. Menurut dia, para nabi merupakan perintis praktik hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan fungsi khalifah, jelas Al-Farabi, adalah memainkan peran pendidik yang sebelumnya dilakukan oleh para nabi. Dalam pemikirannya tentang pendidikan, ia pun menekankan agar kaum terpelajar tak hanya berdiam di menara gading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, mereka tak terbuai oleh pemikiran-pemikiran yang tak membumi. Menurut Al-Farabi, mereka mestinya mampu mengamalkan segala hasil pemikirannya untuk memecahkan masalah dan mewujudkan kemajuan bagi masyarakatnya, di tempat mereka tinggal dan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika Al-Farabi menyatakan, kesempurnaan teoretis dan praktik dari pengetahuan yang dimiliki seseorang hanya bisa diperoleh dalam masyarakat. Sebab, kehidupan di suatu masyarakatlah yang bisa membuat seseorang mempraktikkan ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kaum terpelajar memutus sama sekali kaitan dengan masyarakat dan berada di luar mereka, ujar Al-Farabi, maka kemungkinan mereka hanya belajar untuk menjadi sosok yang liar tanpa kendali. Dalam konteks ini, ia ingin mewujudkan masyarakat ideal melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farabi memasukkan pula seni sebagai salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan dalam proses pendidikan. Ia menilai, kesempurnaan dalam teori dan praktik seni merupakan salah satu ekspresi kebijaksanaan. Sebab, ungkap Al-Farabi, orang bijak adalah mereka yang sangat mahir dalam bidang seni dan mencapai kesempurnaan di dalamnya. Ia menambahkan, pendidikan juga harus mampu menggali bakat alami yang dimiliki seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimalisasi indera juga mendapatkan perhatian Al-Farabi. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal demikian. Menurut Al-Farabi, indera merupakan perangkat awal menangkap ilmu pengetahuan. Lalu, pengetahuan itu diubah menjadi konsepsi intelektual melalui imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Farabi, jiwa memahami apa pun yang mengandung unsur imajinasi. Ia menjelaskan, meski indera berkaitan dengan pengetahuan, namun indera hanya salah satu instrumen untuk menyerap pengetahuan. Akal manusialah yang memiliki potensi pemahaman. ed: ferry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metode Pengajaran Al-Farab&lt;/span&gt;i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Al-Farabi, pendidikan merupakan kebutuhan setiap individu. Tanpa pendidikan, seseorang tak dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan hidup. Dengan demikian, pendidikan harus tersedia bagi semua orang tanpa memandang strata sosial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, metode pengajaran dalam pendidikan harus disesuaikan menurut kelompok tertentu. Al-Farabi mengatakan, ada dua metode dasar pendidikan. Pertama adalah metode yang disesuaikan untuk rakyat biasa dengan langkah persuasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Farabi, metode persuasi merupakan metode membujuk pendengar dengan hal-hal yang logis dan memuaskan pikirannya tanpa mencapai kepastian. Bujukan akan tercapai ketika pendengar melakukan hal-hal yang dia yakini adalah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktiknya, metode persuasif dapat dilakukan melalui pidato dan kegiatan bersama-sama antara guru dan murid. Metode persuasif cocok untuk mengajarkan mata pelajaran seni dan kerajinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, metode kedua adalah demonstratif. Pengajaran dengan metode kedua ini dapat dilakukan melalui pidato. Dengan metode ini, jelas Al-Farabi, guru berpidato untuk menerangkan mata pelajaran yang diajarkannya, seperti mengajarkan teori-teori tentang kebajikan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Al-Farabi juga mengikuti model yang pernah diajarkan oleh filsuf Yunani, Plato. Ia menggunakan metode dialog atau perdebatan. Ia menekankan pula pentingnya diskusi dan dialog dalam pengajaran. Dalam konteks ini, ia memperkenalkan dua hal baru, yaitu argumen dan wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode wacana dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ilmiah tentang suatu hal. Lalu, orang-orang akan didorong untuk memecahkan masalah ilmiah tersebut. Sedangkan, metode argumen digunakan untuk memenangkan debat atas lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, metode ini juga bertujuan agar lawan bicara memercayai gagasan yang sebelumnya mereka tolak. Al-Farabi mengungkapkan, metode argumen cocok untuk mengajar orang-orang yang keras kepala. Untuk mengajar masyarakat umum, sebaiknya gunakan metode yang paling dipahami. Al-Farabi menuliskan semua metode pengajaran tersebut dalam bukunya yang berjudul Al-Alfaz.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;meta, ed:ferry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt; http://&lt;a href="http://republika.co.id/koran/36/98747/Al_Farabi_Konsep_Pendidikan_%20Manusia_Sempurna"&gt;republika.co.id/koran/36/98747/Al_Farabi_Konsep_Pendidikan_ Manusia_Sempurna&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Republika , Selasa, 29 Desember 2009  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1709444473965363392?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1709444473965363392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/al-farabi-konsep-pendidikan-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1709444473965363392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1709444473965363392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/12/al-farabi-konsep-pendidikan-manusia.html' title='Al-Farabi, Konsep Pendidikan Manusia Sempurna'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-8178440284327894928</id><published>2009-11-30T16:59:00.001+07:00</published><updated>2009-11-30T17:02:10.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendiknas : Guru Penentu Utama Proses Pendidikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 25 November 2009 pukul 14:50:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATARAM--Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof. Ir. Mohammad Nuh, DEA., menilai guru menjadi faktor penentu utama proses pendidikan dan pembelajaran, karena tidak ada guru berarti tidak ada pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya dengan sentuhan guru profesional yang bermartabat, terlindung dan sejahtera, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu," katanya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Gubernur NTB, KH. M. Zainul Majdi dalam upacara HUT ke-64 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Mataram, NTB, Rabu (25/11).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pemerintah sedang dan akan terus secara sungguh-sungguh berupaya memberdayakan guru agar meningkatkan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, dan perlindungan bagi mereka sebagai implikasi adanya UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, pemerintah tidak mudah menyediakan guru yang profesional dalam jumlah yang cukup. Ketidakcermatan dalam proses rekrutmen calon guru, proses penyiapan calon guru di jenjang pendidikan prajabatan, dan proses sepervisi kinerja guru merupakan siklus yang perlu dibenahi dengan sungguh-sungguh secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemerintah daerah dan penyelenggara pendidikan tidak pernah berhenti berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan kesejahteraan guru," katanya.&lt;br /&gt;Secara bertahap dan berkesinambungan pihak-pihak yang berkepentingan akan melaksanakan peningkatan kualifikasi dan melakukan sertifikasi profesi bagi guru sebagai bagian dari standarisasi kompetensi guru secara nasional. "Kepada guru-guru yang sudah memiliki sertifikasi profesi, pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan guru, baik guru negeri maupun guru swasta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Provinsi NTB Tahun 2015 akan kekurangan tenaga guru sebanyak 15.000 orang mulai dari guru Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, sebab pada saat itu ribuan guru akan memasuki masa pensiun. "Untuk itu, sejak sekarang harus disiapkan calon pengganti," kata Ketua PGRI NTB, H. Ali Rahim.&lt;br /&gt;Dalam tahun 2009, NTB mendapatkan jatah pengangkatan guru sebanyak 3.700 orang yang berarti meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 2.101 orang Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 3.700 tambahan tenaga guru tersebut, katanya, akan bertugas di Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, Kota Bima serta Kabupaten Lombok Utara. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ant/rin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-8178440284327894928?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/8178440284327894928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/mendiknas-guru-penentu-utama-proses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8178440284327894928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/8178440284327894928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/mendiknas-guru-penentu-utama-proses.html' title='Mendiknas : Guru Penentu Utama Proses Pendidikan'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5327038492897396639</id><published>2009-11-30T16:57:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:59:33.132+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>PGRI Siapkan Undang-undang Perlindungan Guru</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 25 November 2009 pukul 18:49:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YOGYAKARTA--Persatuan Guru Republik Indonesia akan menyiapkan perangkat organisasi dan sekaligus mengupayakan Rancangan Undang-undang Perlindungan Guru serta membentuk komisi perlindungan guru. Pasalnya, kata Ketua PGRI DIY, Ahmad Zaenal Fanani Spd MA, selama ini dalam menjalankan tugas dan profesinya, guru masih belum memiliki perlindungan atau payung hukum.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;''Banyak guru yang belum terlindungi oleh hukum dan karena kepolosannya serta pengetahuan yang minim tentang hukum. Mereka malah harus terjerat hukum. Padahal untuk anak didiknya sudah dikeluarkan UU Perlindungan Anak,'' kata Fanani di sela resepsi peringatan Hari Guru Nasional ke-15 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta, Rabu (225/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan dalam beberapa kasus tertentu, guru seringkali dipojokkan. ''Misalnya ketika guru menempeleng atau memukul murid bisa kena hukuman penjara. Sementara tindakan tersebut mungkin karena kenakalan siswa atau pelanggaran yang dilakukan,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti itu, katanya, dirasa perlunya ada keberimbangan perlindungan baik dari guru maupun anak didiknya. ''Ini menjadi satu hal yang dilematis ketika anak diberikan payung hukum perlindungan anak sementara gurunya tidak. Terlebih juga ada komisi untuk perlindungan anak,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, jika UU perlindungan guru dan komisinya telah terbentuk, maka kode etik guru yang telah ada akan disempurnakan. Menurut dia, kode etik guru ini nantinya yang akan menjadi pedoman guru dalam bertingkah laku sesuai etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Isinya akan disempurnakan dan nantinya akan dibentuk pula dewan kehormatan guru yang akan menjadi penilai dan pemberi hukuman ketika guru melanggar kode etik,'' tuturnya. Ia menambahkan, proses penyusunan UU perlindungan guru ini telah dipersiapkan dengan menjalin kerja sama dengan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap, semua proses tersebut bisa diselesaikan tahun 2010. Fanani juga minta agar pemerintah mendukung niat ini sehingga nantinya guru juga mempunyai perlindungan hukum dalam menjalankan tugasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;yoe/rif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5327038492897396639?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5327038492897396639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/pgri-siapkan-undang-undang-perlindungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5327038492897396639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5327038492897396639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/pgri-siapkan-undang-undang-perlindungan.html' title='PGRI Siapkan Undang-undang Perlindungan Guru'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-7871510735477009322</id><published>2009-11-30T16:54:00.004+07:00</published><updated>2009-11-30T20:25:33.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>SKB Momentum Pembenahan Madrasah</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas pendidikan madrasah diharapkan bisa sejajar dengan sekolah umum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 25 November 2009 pukul 12:33:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dyah Ratna Meta,&lt;br /&gt;Rahmat Santosa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Sejumlah tokoh pendidikan dan agama menyambut baik rencana penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri terkait pengelolaan pendidikan madrasah dan keagamaan. Kebijakan itu dinilai sebagai langkah tepat sebagai upaya pembenahan dan peningkatan kualitas pendidikan di madrasah-madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan, dengan adanya SKB Tiga Menteri antara Mendagri, Menag, dan Mendiknas, madrasah akan menerima bantuan yang dibutuhkan. Dengan demikian, mutu madrasah diharapkan bisa sejajar dengan sekolah umum.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, menurutnya, fokus dari madrasah sebaiknya mempercepat proses menuju kesetaraan dengan sekolah umum. Hal ini dimaksudkan agar siswa madrasah memiliki kesempatan lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kualitas sumber daya guru madrasah juga perlu ditingkatkan melalui pelatihan metodologi. Sehingga, madrasah bisa menjadi kekuatan penopang pendidikan sekolah umum,'' ujarnya kepada Republika, Selasa (25/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpendapat, sebenarnya madrasah memiliki nilai lebih dibanding sekolah umum, yakni di bidang pendidikan agama. Aspek ini terbukti telah berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. ''Maka itu, peran madrasah memang harus diperkuat,'' kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun nantinya mendapat bantuan yang sama dengan sekolah umum dari pemda, Arief menggarisbawahi agar madrasah jangan kehilangan identitas yang menitikberatkan pada pendidikan agama tadi. ''Nama madrasah juga harus tetap digunakan,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, memiliki harapan senada. ''Yang penting adalah madrasah bisa menyejajarkan kualitasnya dengan sekolah-sekolah umum,'' tegas Kiai Hasyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait bantuan pemda kepada madrasah, dia mengingatkan bahwa kemampuan masing-masing daerah tidaklah sama. Ada daerah yang mampu bahkan kaya, namun ada pula yang terbatas anggarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah SKB terbit, Kiai Hasyim meminta pemerintah pusat tidak lepas begitu saja dalam mengelola madrasah. ''Tetap harus ada dukungan pemerintah pusat. Selain soal kebijakan, tentunya juga dana,'' tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia (Rabithah Ma'ahidil Islamiyah/RMI), Mahmud Ali Zein, mengakui, walau madrasah dianggap sebagai lembaga pendidikan yang penting di daerah-daerah, namun hingga kini belum mendapatkan dukungan yang memadai dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ujar Mahmud, PP No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan telah mengatur tanggung jawab pemerintah daerah terhadap pendidikan madrasah dan keagamaan. Akan tetapi, kebijakan itu kurang teraplikasi, antara lain, karena kurang tegasnya pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Pemda menilai madrasah bukan urusan daerah. Nah, SKB Tiga Menteri diharapkan dapat mendorong pemda untuk lebih peduli dan ikut serta mengelola madrasah,'' ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bantuan yang diharapkan, bisa dalam bentuk pembangunan fisik madrasah, bantuan fasilitas pendidikan, buku-buku pelajaran, maupun insentif bagi guru madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, urai Mahmud, bantuan itu sama seperti yang diberikan kepada sekolah-sekolah umum sehingga diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap madrasah. ''Oleh karenanya, kami berharap SKB segera diterbitkan,'' tegas Mahmud lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya pemda, Ketua PP Muhammadiyah, KH Yunahar Ilyas, juga menginginkan agar peran swasta ditingkatkan dalam mengelola madrasah. Ini mengingat banyaknya madrasah yang dikelola swasta atau yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain, terkait rencana penerbitan Peraturan Menteri yang akan mengatur ujian nasional bagi pesantren, Yunahar meminta agar pemerintah lebih cermat dan berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Jangan lantas mengorbankan pola atau ciri khas pendidikan pesantren. Harus ada jalan tengah,’’ tandas Yunahar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ed: ali rido&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-7871510735477009322?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/7871510735477009322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/skb-momentum-pembenahan-madrasah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7871510735477009322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/7871510735477009322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/skb-momentum-pembenahan-madrasah.html' title='SKB Momentum Pembenahan Madrasah'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6941882849065554822</id><published>2009-11-30T16:51:00.009+07:00</published><updated>2009-11-30T20:23:28.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Cegah Terorisme dengan Ajaran Agama yang Benar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SxPGDG0V_CI/AAAAAAAAACA/8Q1kCgpncWY/s1600/20091113144947.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 128px; height: 89px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SxPGDG0V_CI/AAAAAAAAACA/8Q1kCgpncWY/s320/20091113144947.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409885334074162210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);font-size:130%;" &gt;Peran keagamaan perlu dilakukan untuk mencegah terorisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ketua PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;                           Jumat, 20 November 2009 pukul 09:33:00   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Ormas Islam harus berperan dalam memcegah munculnya ekstremisme dan terorisme. Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Masykuri Abdillah, ormas Islam bisa melakukannya dengan memberi pemahaman yang benar tentang agama kepada masyarakat, khususnya umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masykuri menyatakan, peran ormas Islam memang sangat diperlukan. Sebab, dalam aksi teror, ada isme yang mendasarinya. ''Isme ini tak bisa dicegah oleh polisi. Ini harus diatasi dengan peran keagamaan yang dilakukan, misalnya oleh NU dan Muhammadiyah. Sebab, isme ini menyangkut ideologi,'' katanya di Jakarta, Kamis (19/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Masykuri, ormas Islam harus menjelaskannya kepada masyarakat agar pemahaman ajaran agama yang keras tidak perlu diikuti. Ini tugas NU dan Muhammadiyah untuk membuat masyarakat sadar. ''Kalau ada ceramah yang nadanya keras, konsultasikan atau informasikan ke ulama terdekat,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masykuri berharap, ormas Islam mampu memainkan perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif agar tak muncul ekstremisme dan terorisme. ''Ormas Islam diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi umat, mengembangkan komunitas, dan mendorong pemerintah membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan semacam itu bisa menghapus kemiskinan dan pengangguran yang menjadi salah satu pemicu lahirnya terorisme. Masykuri menambahkan pentingnya International Workshop, Raising Awarness of The UN Global Counter-Terrorism Strategy Among Civil Society in Southeast Asia, yang digelar PBNU dan Center on Global Couterterrorism Cooperation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilaksanakan di Jakarta pada 18-19 November itu mendorong masyarakat madani untuk ikut mencegah terorisme. Namun, Masykuri menyatakan, ada hal penting yang harus dilakukan ormas Islam setelah penyelenggaraan workshop itu, yaitu merumuskan dan menjalankan action plan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, kata Masykuri, adalah melakukan dialog dengan pelaku teror yang mendekam di tahanan. Ia yakin, dialog agama dengan cara yang bijaksana akan efektif bisa mencegah mereka melakukan tindakan yang sama. ''Jangan vonis mereka salah. Rencana ini sedang kami rumuskan, sedikit demi sedikit,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama&lt;br /&gt;Secara terpisah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan, sebenarnya Muhammadiyah dan NU telah lama menyuarakan Islam rahamatan lil alamin atau Islam moderat. Itu telah menjadi arus utama. ''Langkah ini telah dilakukan, baik oleh Muhammadiyah, NU, maupun ormas Islam lainnya,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jelas Haedar, gerakan terorisme dan gerakan yang mengusung kekerasan itu malah lebih keras menggema di masyarakat. Padahal, mereka merupakan kelompok kecil dalam masyarakat. Ia mengatakan, kelompok ini muncul karena adanya pemicu, yaitu kondisi yang bertentangan dan ketidakadilan di tingkat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Haedar, kondisi itu memicu kelompok tertentu yang melakukan aksi kekerasan atas nama agama untuk menghadapi situasi tersebut. Gerakan ini bisa mengatasnamakan agama atau gerakan sosial lainnya. Ia menyatakan, ormas Islam dan agama lainnya memang harus terus bergerak untuk mencegah terjadinya terorisme ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haedar mengatakan, ormas Islam tak boleh putus asa untuk terus memberikan pencerahan kepada masyarakat. ''Ormas Islam bisa tetap berjalan di jalan yang selama ini dilakukannya, yaitu jalan dakwah. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;she/fer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar : nu.or.id&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6941882849065554822?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6941882849065554822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/cegah-terorisme-dengan-ajaran-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6941882849065554822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6941882849065554822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/cegah-terorisme-dengan-ajaran-agama.html' title='Cegah Terorisme dengan Ajaran Agama yang Benar'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SxPGDG0V_CI/AAAAAAAAACA/8Q1kCgpncWY/s72-c/20091113144947.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3592331476759542934</id><published>2009-11-30T16:48:00.003+07:00</published><updated>2009-11-30T16:50:59.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pelatihan Motivasi Guru Bisa Jadi Percontohan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Kamis, 19 November 2009 pukul 16:28:00&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG--Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengapresiasi program pelatihan motivasi guru yang diselenggarakan PT Telkom dan Harian Umum Republika. Heryawan berharap kegiatan yang didanai dari program Coorporate Social Resposilibility (CSR) PT Telkom tersebut menjadi percontohan bagi BUMN lain dalam membantu masyarakat melalui masing-masing dana sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi dan harapan itu disampaikan Heryawan saat membuka dan memberi pembekalan dalam kegiatan pelatihan motivasi guru dengan tema ‘Bagimu Guru Kupersembahkan’ di Pusdiklat Telkom, Jl Gegerkalong, Bandung, Kamis (19/11). Kegiatan tersebut merupakan tahapan ke empat angkatan dua yang berlangsung 19-20 November 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan tersebut melibatkan 65 guru dari 35 SD, SLTP, dan SLTA dari wilayah Bandung Raya. Hingga tahun 2010, ditargetkan 10 ribu guru mengikuti kegiatan tersebut. Hadir daam acara tersebut Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, PGS SGM CDC Pt Telkom, Wien Aswantoro Waluyo, dan Pemimpin Redaksi Harian Umum Republika, Ikhwanul Kiram Mashuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heryawan menjelaskan, di Jabar terdapat sekitar 200 ribu guru. Menurut dia, diharapkan kegiatan serupa dilakukan pula oleh BUMN lain kepada guru yang belum pernah mengikuti pelatihan motivasi. Dijelaskan dia, CSR merupakan program untuk membersihkan rezeki atau keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan. Sementara proses pembersihan rezeki pribadi, papar dia, melalui dana zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menegaskan, guru merupakan profesi yang sangat signifikan dalam menyelamatkan bangsa. Kata dia, motivasi kepada guru sangat dibutuhkan. Pasalnya, sambung dia, seorang guru tidak cukup hanya berperan sebagai penyampai mata pelajaran. Dia menjelaskan, guru harus bisa mencetak siswa yang berkualitas baik ilmu dan moral siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Guru harus menjadi seorang yang visioner dan inovatif untuk mencetak siswa yang berkualitas,’’ ujar Heryawan di hadapan puluhan peserta program pelatihan motivasi guru, Kamis (19/11). Khusus di Jabar, jelas dia, tantangan yang harus dihadapi guru cukup berat. Paling tidak, papar dia, saat ini tingkat partisipasi usia siswa SMA baru 53 persen, SMP 92 persen, dan SD 95,6 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PGS SGM CDC Pt Telkom, Wien Aswantoro Waluyo, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan wujud pertanggungjawaban kepada masyarakat. Dia menandaskan, proses tersebut akan menyentuh 100 kota dan kabupaten di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, melalui program tersebut, PT Telkom berupaya mendorong guru agar meningkatkan kualitas intelektual dan emosionalnya. Wien menyatakan, sudah saatnya guru mengembangkan komunitas baru yang ramah Informasi Teknologi (IT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Salah satu indikator keberhasil dunia pendidikan pada kualitas guru,’’ ujar Wien dalam sambutannya di Pusdiklat Telkom, Bandung, Kamis (19/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi Harian Umum Republika, Ikhwanul Kiram Mashuri, menyatakan, dalam kegiatan pelatihan motivasi guru, disiapkan nara sumber berskala nasional. Menurut dia, banyak menteri dan gubernur yang menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya menyatakan, guru yang menjadi peserta kegiatan itu diharapkan bisa menangkap ilmu dan wawasan pejabat pusat dan daerah yang dihadirkan sebagai nara sumber. ‘’Alhamdulillah, demi guru banyak pejabat yang rela meluangkan waktunya, termasuk gubenrur Jabar,’’ ujarnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;san/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3592331476759542934?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3592331476759542934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/pelatihan-motivasi-guru-bisa-jadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3592331476759542934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3592331476759542934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/pelatihan-motivasi-guru-bisa-jadi.html' title='Pelatihan Motivasi Guru Bisa Jadi Percontohan'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-452196875526959219</id><published>2009-11-30T16:45:00.006+07:00</published><updated>2009-11-30T20:10:12.209+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Hasyim : Atasi Terorisme dengan Pendidikan Agama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SxPDnp_2rZI/AAAAAAAAABo/bHtyt6spSPY/s1600/20090319190752.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SxPDnp_2rZI/AAAAAAAAABo/bHtyt6spSPY/s320/20090319190752.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409882663458090386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 18 November 2009 pukul 15:06:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Terorisme yang kian marak di beberapa negara sebenarnya bisa diatasi dengan pendidikan keagamaan. Tak hanya itu pendidikan agama tersebut juga harus dibarengi dengan penguatan yang didukung oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), KH Hasyim Muzadi, usai membuka International Workshop, Raising Awarness of The UN Global Counter-Terrorism Strategy Among Civil Society In Southeast Asia di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (18/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hasyim, ada dua hal pokok yang dihadapi dalam terorisme. Pertama teror dan yang kedua isme. Teror, lanjut Hasyim, harus dihadapai dengan intelijen, teritori, punishment dan juga attack atau serangan-serangan yang diperlukan. "Yang ini sudah dilakukan Indonesia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isme, imbuh Hasyim, tidak bisa menggunakan cara-cara tersebut namun harus menggunakan beberapa hal. Pertama, sistem pendidikan keagamaan yang menjamin tidak timbulnya teror yang berkarakter agama. Dan ini kuncinya adalah keseimbangan dari ilmu-ilmu tentang akidah islam untuk disatukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi intinya keseimbangan antara hukum formal dan hukum islam. Penggabungan antara ilmu fiqih, missionary atau dakwah, tasawuf yang bicara masalah etika dalam islam, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia," jelas Hasyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasyim menuturkan jika keempat pendidikan ini digabung dalam kehidupan akan menghasilkan moderasi. "Dan hal-hal tersebut memang harus disatukan," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan seperti ini, kata Hasyim, sudah dilakukan NU di pesatren-pesantren. Buktinya lebih dari 11 ribu pesantren di Indonesia yang milik NU, tidak ada yang terlibat terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasyim menambahkan, setelah pemikiran-pemikiran moderat ini lahir perlu ada enpowering atau penguatan. Penguatan ini termasuk perlindungan dari negara kepada pemikiran-pemikiran yang moderat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya, kata Hasyim, dukungan dari pemerintah hingga saat ini masih minim. Menurut Hasyim, pesantren itu hanya dipuji-puji sekali saja ketika hendak dilaksanakan pemilu, tapi dia tidak ada enpowering terhadap pesantren itu secara konkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal kalau dibesarkan baik dalam pesantrennya maupun sistem pendidikannya secara nasional akan menghasilkan co existance, multi existance dan pro existensi dalam lintas agama dan sistem pendidikan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasyim menuturkan, ia tidak pernah percaya bahwa isme dalam terorisme ini dapat dihadapi dengan liberalisme atau ekstrimisme. Sebab, kata Hasyim, liberalisme itu justru akan memancing orang-orang untuk melakukan perlawanan karena takut kerusakan agamanya. Sedangkan fundamentalisme tentu adalah awal dari ekstrimisme yang ujung-ujungnya akan melahirkan teror maka harus ada enpowering dari moderat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini yang diperlukan di Indonesia bukan hanya NU diajak kerjasama tapi bagaimana pemikiran-pemikiran moderasi itu diperkuat dengan sistem kenegaraan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasyim juga membantah apa yang dikatakan dunia bahwa terorisme selalu berkarakter agama. Ia menyatakan tidak semua benar, banyak faktor-faktor non agama yang diagamakan atau faktor-faktor agama yang memancing umat beragama untuk bentrok kemudian dilihat sebagai bentrok agama. "Maka antara pendidikan agama yang moderat dengan policy global harus disatukan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Co-Director, Center on Global Counterterroris Cooperation (Washington DC), Alistair Millair, mengatakan dasar dari workshop tentang strategi memerangi terorisme ini sesuai dengan apa yang disepakati oleh pihak Majelis Umum (MU) PBB. Kesepakatan hampir semua negara termasuk negara-negara Asia Tenggara tentang bagiamana mengatasi masalah terorisme. Workshop ini diikuti oleh 90 peserta Civil Society Organizaions dari negara-negara Asia Tenggara antara lain Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Cambodja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan ada empat pilar utama yang merupakan perluasan wacana tentang counter terrorism dari strategi global PBB. Pertama, tindakan-tindakan untuk mengatasi kondisi yang kondusif terhadap menyebarnya terorisme, kedua pendekatan untuk mencegah dan memerangi terorisme, ketiga capacity building dan keempat menjamin penegakan hak-hak asasi manusia dan jaminan hukum yang adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengaku bangga dan menghargai upaya-upaya terutama kerjasama dengan NU karena sebagai anggota civil society organization untuk memerangi terorisme sudah kelihatan. Dia juga berharap agar kerjasama ini akan berkembang lebih luas, terutama dalam organisasi kemasyarakatan di Asia Tenggara. Dan melihat awal yang bagus di Jakarta ini. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;she/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-452196875526959219?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/452196875526959219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/hasyim-atasi-terorisme-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/452196875526959219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/452196875526959219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/hasyim-atasi-terorisme-dengan.html' title='Hasyim : Atasi Terorisme dengan Pendidikan Agama'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/SxPDnp_2rZI/AAAAAAAAABo/bHtyt6spSPY/s72-c/20090319190752.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3292234160112273066</id><published>2009-11-30T16:42:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:45:04.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Guru Bertugas Bangkitkan Anak Didik Bercita-Cita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 10 November 2009 pukul 20:44:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Tugas utama seorang guru dengan kemuliaannya adalah mampu memotivasi dan membangkitkan agar anak didik punya cita-cita. Guru diharapkan mampu mendorong anak didik bersikap optimistis. Guru dianggap berprestasi jika siswa-siswa mampu melebihinya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dihadapan para finalis Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama Tingkat Nasional, Selasa (10/11) di Gedung Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak didik kita itu masa depan kita semua. Oleh karena itu, dia harus kita berikan motivasi dan dorongan-dorongan agar dia punya cita-cita, punya mimpi-mimpi besar. Media (pembelajaran) yang akan kita lombakan sebagai kreasi dan inovasi dari bapak ibu sekalian itu adalah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ikhtiar untuk meningkatkan kualitas pendiidkan kita," kata Mendiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema lomba adalah 'Media Pembelajaran untuk Menciptakan Proses Pembelajaran yang Efektif, Efisien, dan Mengembangkan Kemandirian dalam Belajar Para Siswa'. Lomba bertujuan untuk memotivasi guru SMP seluruh Indonesia untuk berkreasi, berinovasi, dan menggunakan media untuk pembelajaran yang efektif, efisien, interaktif, menyenangkan, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa kreativitas dan kemandirian peserta didik di dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia penyelenggara lomba telah menetapkan 198 karya yang lolos ke tahap peniliaian babak II dari 307 karya yang diterima panitia dari seluruh Indonesia. Mendiknas menyatakan, bagi para pemenang akan mendapatkan penghargaan yaitu dibantu untuk mengurus hak cipta hasil karyanya. "Para pemenang kita berikan penghargaan. Salah satu diantaranya kita bantu mendapatkan hak cipta, sehingga hasil karya ibu dan bapak ada pengakuan," kata Mendiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mendiknas media pembelajaran dapat diibaratkan sebagai jembatan. Mendiknas menjelaskan, jika guru sudah menyiapkan informasi-informasi yang luar biasa, tetapi karena medianya tidak bagus maka informasi akan hilang dan tidak sampai ke siswa atau kalau sampai sudah berkurang. "Sehingga media (pembelajaran) ini sangat penting," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto melaporkan, karya yang dilombakan merupakan hasil penelitian termasuk penelitian tindakan kelas yang berfokus pada pengembangan atau penciptaan inovasi dan pemanfaatan media pembalajaran baik media sederhana atau multimedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyanto menyebutkan, media pembelajaran ini digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS dan PKN. "Media pembelajaran yang dimaksud telah digunakan dalam proses pembelajaran dasar empiris, memfasilitasi pembelajaran yang efektif, efisien, interaktif, dan menyenangkan, " tegasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ant/eye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3292234160112273066?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3292234160112273066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/guru-bertugas-bangkitkan-anak-didik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3292234160112273066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3292234160112273066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/guru-bertugas-bangkitkan-anak-didik.html' title='Guru Bertugas Bangkitkan Anak Didik Bercita-Cita'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-2197154748004822210</id><published>2009-11-30T16:39:00.004+07:00</published><updated>2009-11-30T16:42:23.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Perlu Pembenahan Ihwal Sejarah Kepahlawanan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Senin, 09 November 2009 pukul 16:16:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai bahwa saat ini perlu dilakukan pembenahan terhadap pengetahuan sejarah kepahlawanan dfi sekolah-sekolah dan bahkan di Perguruan Tinggi. Ini ditegaskan Ketua PBNU KH Mustofa Zuhad Mughni dalam perbincangan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republika&lt;/span&gt; di Jakarta, Senin (9/11).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, belakangan ini sejarah perjuangan pahlawan dan pejuang-pejuang Islam, tidak diajarkan di pendidikan di sekolah-sekolah. Baik di sekolah umum maupun pendidikan Islam. ''Sehingga murid didik kita sangat kurang pemahamannya akan perjuangan pahlawan-pahlawan Islam, yang sebetulnya sangat besar perjuangan dan pengabdiannya untuk negara ini,'' tegas Mustofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merupakan bagian dari sejarah penting, ditegaskan Mustofa bahwa banyak teladan yang bisa diambil dari para pejuang Islam negeri ini. ''Jadi memang hendaknya perlu ada pembenahan disertai perubahan, agar bagaimana murid didik di sekolah-sekolah juga banyak mendapatkan pengetahuan sejarah kepahlawanan pejuang-pejuang Islam,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Mustofa mengungkapkan bahwa sebenarnya dalam sejarah perjuangan Indonesia, banyak sekali pahlawan-pahlawan Islam yang sangat besar sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara serta umat Islam khususnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;osa/ahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-2197154748004822210?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/2197154748004822210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/perlu-pembenahan-ihwal-sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2197154748004822210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2197154748004822210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/perlu-pembenahan-ihwal-sejarah.html' title='Perlu Pembenahan Ihwal Sejarah Kepahlawanan'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-987837652314916152</id><published>2009-11-30T16:36:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:38:45.247+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Hibah 1 Miliar Dolar AS Untuk Pendidikan Dasar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Jumat, 06 November 2009 pukul 13:48:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIANJUR--Pemerintah Indonesia akan menerima hibah sekitar 1 miliar dolar Amerika Serikat untuk periode 2010-2014 mendatang atau setara dengan Rp 1 triliun. Dana hibah berasal dari European Commission sebesar 400 juta euro dan Australia Aids sebesar 400 juta dolar Australia.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;''Dana yang seluruhnya hibah tersebut untuk pendidikan dasar.Ini sangat monumental karena jumlahnya tidak sedikit,'' kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional, Nina Sardjunani saat media gathering di Puncak, Cianjur Jawa Barat, Jumat (6/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nina menjelaskan hibah tersebut saat ini sedang diproses dan mengacu pada rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama.''Perencanaan dan penganggaran berbasis pada kinerja,'' kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran dana hibah tersebut khususnya untuk menopang program wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. Sekitar 40 juta siswa sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) serta siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain pemerintah dalam anggaran pendapatan dan belanja negara 2010 mendatang tetap mengalokasikan dana sebesar 20% dari total APBN yang besarnya diperkirakan Rp 1.034 triliun. Atau sekitar Rp 207 triliun diantaranya untuk belanja pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekitar Rp 19 triliun diantara dana belanja pendidikan akan dialokasikan untuk mendukung program wajib belajar sembilan tahun melalui bantuan operasional sekolah (BOS).''Terutama untuk siswa di MI.karena sebagian besar siswa miskin ada di madrasah dan kita konsern terhadap itu,'' kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh total siswa di tingkat sekolah dasar, kata Nina, 10% nya berada di MI. Sedangkan 20% dari siswa tingkat sekolah menengah pertama berada di MTs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan dana dari alokasi belanja pendidikan 2010 ditambah dengan hibah diharapkan sejalan dengan rencana pemerintah untuk menangani masalah pendidikan dasar.''Untuk anak usia 7-12 tahun dan anak usia 13-15 tahun sudah bisa tertangani sampai tahun 2014,'' kata Nina.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;fia/ahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-987837652314916152?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/987837652314916152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/hibah-1-miliar-dolar-as-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/987837652314916152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/987837652314916152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/hibah-1-miliar-dolar-as-untuk.html' title='Hibah 1 Miliar Dolar AS Untuk Pendidikan Dasar'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1443598969553682560</id><published>2009-11-30T16:33:00.004+07:00</published><updated>2009-11-30T16:35:57.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Januari 2010, 17.500 Sekolah Terkoneksi Internet</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Jumat, 06 November 2009 pukul 17:15:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Hingga Januari 2010 Mendiknas Mohammad Nuh menargetkan sudah bisa menyediakan internet masal di 17.500 sekolah di seluruh Indonesia. Depdiknas menggandeng Depkominfo, Kementrian Percepatan Daerah Tertinggal (PDT) dan Depdagri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah punya Jardiknas (Jaringan pendidikan nasional) yang backbone-nya sudah luar biasa. Ibaratnya, jalan tolnya sudah bagus, tinggal tarik dari jalan kecil ke jalan besarnya," ujar M Nuh saat memaparkan program 100 hari di kantornya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak menyebutkan besaran biaya, ia mengatakan, anggaran yang dibutuhkan tidak terlalu besar karena sudah ditunjang oleh program yang dimiliki Depkominfo yakni internet masuk desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target ambisius ini dibuat dengan dukungan USO atau universal sevice obligation, internet masuk desa, program depkominfo. Program ini mencakup lebih dari 31 ribu desa di seluruh indonesia akan memiliki akses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang dimiliki Depdiknas menyebutkan hingga Oktober 2009, baru 8,34 persen sekolah di seluruh Indonesia yang terhuung dengan internet. Pada 2010 ditargetkan prosentase ini naik menjadi 11,92 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini nanti tidak sekedar school nett tapi fasilitas yang juga bisa dimanfaatkan oleh desa di mana sekolah itu berada. Masyarakat bisa ikut menggunakan internet pada sore atau malam hari, jadinya desa pinter atau Punya Internet" seloroh mantan menkominfo ini. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;una/kpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1443598969553682560?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1443598969553682560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/januari-2010-17500-sekolah-terkoneksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1443598969553682560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1443598969553682560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/januari-2010-17500-sekolah-terkoneksi.html' title='Januari 2010, 17.500 Sekolah Terkoneksi Internet'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1491570220897389296</id><published>2009-11-30T16:30:00.003+07:00</published><updated>2009-11-30T16:32:58.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>PTAI Maju di Satu Sisi, Mundur di Sisi Lain</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 04 November 2009 pukul 16:39:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAKATA--Kondisi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Indonesia bisa dikatakan secara keseluruhan mengalami kemajuan. ''Namun pada sisi lain juga ada kekurangan, stagnan bahkan mengalami kemunduran. Sehingga harus ada pembenahan-pembehanan yang dilakukan untuk PTAI ini,'' tegas KH Masykuri Abdillah, Ketua PBNU pada rangkaian Annual Conference on Islamic Studies ke-9 di Surakarta, Rabu (4/11).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dicontohkan kiai Maskuri bahwa untuk sisi limu-limu umum seperti filsafat, solilogis, psikologis dan lainnya, bisa dikatakan ada kemajuan. ''Namun pada sisi ilmu atau pengetahuan normatif keagamaan, bisa dikatakan jalan di tempat atau bahkan mengalami kemunduran,'' kata kiai Masykuri yang mantan Pembantu Rektor I di UIN Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, menurut kai Masykuri, banyak PTAI yang mengejar ketrampilan mahasiswa atau skill anak didiknya agar bisa diterima di pasar kerja. ''Nah, karena mengejar itu, maka porsi untuk ilmu keagamaan normatif terkurangi,'' katanya. Sehingga menurutnya, banyak mahasiswa yang justru tidak bisa berbahasa Arab atau tidak bisa membaca Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menurutnya, ini juga disebabkan dari pendidikan madrasah yang dienyam mahasiswa di PTAI. ''Kalau dulu madrasah banyak diberikan pengetahuan atau ilmu keagamaan, namun dalam sepuluh tahun terakhir ini khan terjadi perubahan yang kemudian mengurangi porsi ilmu keagamaan tadi,'' katanya. Jadi memang bisa dikatakan di satu sisi PTAI mengalami kemajuan, di sisi lain mengalami kemunduran. Ini perlu dilakukan pembenahan,'' tegasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;osa/ahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1491570220897389296?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1491570220897389296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/ptai-maju-di-satu-sisi-mundur-di-sisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1491570220897389296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1491570220897389296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/ptai-maju-di-satu-sisi-mundur-di-sisi.html' title='PTAI Maju di Satu Sisi, Mundur di Sisi Lain'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-5870317719609555795</id><published>2009-11-30T16:28:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:30:20.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pemerintah Siapkan Regulasi Distribusi Guru</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Kamis, 29 Oktober 2009 pukul 13:14:00&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Departemen Pendidikan Nasional sedang menyiapkan peraturan pemerintah tentang pendistribusian guru untuk memeratakan sebaran guru di seluruh wilayah. "Sedang disiapkan aturan untuk redistribusi guru karena sebarannya tidak akan bisa diubah tanpa peraturan. Sulit karena setelah desentralisasi, guru itu punya bupati," kata Direktur Profesi Pendidik Departemen Pendidikan Nasional Achmad Dasuki di Jakarta, Kamis (29/10).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, redistribusi guru diperlukan karena meski jumlahnya sudah memadai namun sebarannya hingga kini belum merata, sebagian besar masih "menumpuk" di sekolah-sekolah perkotaan. Achmad mencontohkan, rasio tenaga pengajar dan siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat ini 1:15, bahkan lebih besar dari rasio guru dan murid dan Jepang yang hanya 1:20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, faktanya, hingga kini sekolah-sekolah di daerah pinggiran dan pedalaman masih kekurangan guru dan kapasitas guru yang ada pun belum memadai. Hal itu antara lain terjadi karena di samping sebagian besar sekolah masih terpusat di kawasan perkotaan, sebagian guru juga enggan bekerja di daerah pedalaman yang terpencil karena pertimbangan gaji dan dukungan fasilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pemerintah pusat, kata Achmad, tidak bisa berbuat banyak untuk memeratakan sebaran guru tanpa dasar hukum yang kuat karena setelah desentralisasi kewenangan pengangkatan dan penempatan guru berada di tangan pemerintah daerah. "Karena itu maka disiapkan aturan redistribusi dan aturan pendukung lain. Harapannya ini bisa segera selesai supaya dua tahun mendatang sudah bisa dilakukan redistribusi guru," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Achmad menjelaskan, selain memeratakan sebaran, pemerintah juga telah berusaha meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru. Ia menjelaskan, undang-undang tentang guru dan dosen menuntut kualifikasi guru minimal berpendidikan S1 sehingga guru-guru yang belum memenuhi kualifikasi tersebut harus belajar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga hanya memberikan tunjangan profesi guru kepada guru yang memiliki sertifikat pendidik setelah menjalani program pendidikan profesi di Lembaga Pendidikan dan Teknologi Kejuruan (LPTK) minimal satu tahun supaya para guru terpacu untuk meningkatkan kualifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2010 nanti, kata dia, pemerintah akan menyediakan fasilitas pendidikan profesi bagi sekitar 50 ribu guru pada lembaga-lembaga pendidikan profesi guru. "Bagi guru yang sudah mendapat sertifikasi diberikan tunjangan profesi. Guru yang baru mulai kerja dengan gaji Rp1,7 juta, akan mendapat tunjangan profesi Rp1,3 juta kalau sudah dapat sertifikasi," katanya mencontohkan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ant/taq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-5870317719609555795?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/5870317719609555795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/pemerintah-siapkan-regulasi-distribusi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5870317719609555795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/5870317719609555795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/pemerintah-siapkan-regulasi-distribusi.html' title='Pemerintah Siapkan Regulasi Distribusi Guru'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3873800330768908047</id><published>2009-11-30T16:25:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:27:44.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kemampuan Siswa Indonesia di Bawah Standar Internasional</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 28 Oktober 2009 pukul 13:55:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Prestasi siswa Indonesia dalam penilaian internasional masih rendah. Bahkan, kemampuan siswa Indonesia masih di bawah rata-rata standar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diketahui berdasarkan penelitian student achievment data on international test yang dilakukan Fredi Munger dari AusAID. Penelitian tersebut dilakukan terhadap tiga studi internasional.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun ketiga studi itu, yakni PIRLS yang mengukur kemampuan literasi membaca siswa kelas IV SD/MI, PISA yang mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun di SMP/MTs/SMA/MA/SMK, serta TIMSS yang mengukur kemampuan matematika dan sains siswa kelas VIII SMP/MTs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hasil studi menunjukkan kemampuan siswa Indonesia untuk semua bidang yang diukur masih di bawah rata-rata skor internasional,'' ujar Fredi dalam acara seminar 'Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah Hasil Penelitian Puspendik 2009' di Depdiknas, Rabu (28/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk nilai PIRLS, terang Fredi, skor Indonesia hanya 405. Selain di bawah skor rata-rata internasional yang mencapai 500, posisi Indonesia juga dibawah negara Asia lainnya, seperti Hongkong (564), Singapura (558), Taiwan (535), dan Selandia Baru (532).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fredi menambahkan, untuk nilai PISA, skor Indonesia untuk kemampuan membaca hanya 393 dari skor rata-rata 492, kemampuan matematika 391 dari skor rata-rata 498, dan kemampuan sains 393 dari skor rata-rata 500.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk nilai TIMSS, lanjut Fredi, skor Indonesia dalam bidang matematika 397 dari skor rata-rata yang mencapai 500. Sedangkan skor dalam bidang sains 427 dari skor rata-rata 500. ''Bila dikaitkan dengan benchmark internasional, siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal dalam kategori rendah,'' kata Fredi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fredi mengaku, sejumlah siswa Indonesia berhasil menyabet penghargaan olimpiade di tingkat internasional. Namun, hal itu tidak mencerminkan gambaran siswa Indonesia secara keseluruhan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;lis/eye&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3873800330768908047?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3873800330768908047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/kemampuan-siswa-indonesia-di-bawah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3873800330768908047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3873800330768908047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/kemampuan-siswa-indonesia-di-bawah.html' title='Kemampuan Siswa Indonesia di Bawah Standar Internasional'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4344650712486802173</id><published>2009-11-30T16:22:00.003+07:00</published><updated>2009-11-30T16:24:53.746+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Forum Pemerhati Pendidikan Yogya Gelar Seminar Budi Pekerti</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Rabu, 21 Oktober 2009 pukul 17:34:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YOGYAKARTA -- Forum Komunikasi Pemerhati Pendidikan Yogyakarta dan Fakultas Ilmu Budaya-UGM akan menggelar seminar ''Pendidikan Budi Pekerti bagi Generasi Muda Indonesia'' di Auditorium Poerbatjaraka-Fakultas Ilmu Budaya-UGM, tanggal 25 Oktober depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Koordinator FKPPY, Dr Gideon Hartono, seminar ini adalah langkah awal untuk mengusahakan kembali masuknya mata pelajaran budi pekerti dalam kurikulum di pendidikan dasar dan menengah. Seminar ini terbuka bagi 400 orang peserta, terutama untuk guru TK/SD/SMP/SMA/SMK, dosen dan mahasiswa, serta para pemerhati pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang panitia seminar mengatakan sertifikat hasil mengikuti seminar ini (ditandatangani oleh FIB-UGM) dapat dipakai sebagai bahan oleh para guru dalam usaha mereka untuk mendapat sertifikasi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gideon mengatakan bahwa seminar ini berangkat dari keperhatian sejumlah pemerhati mendidikan dengan semakin menurunnya kesadaran anak-anak muda terhadap budi pekerti, padahal budi pekerti adalah bagian dari budaya bangsa, dan juga menjadi kekayaan kearifan lokal, yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter bangsa ini.&lt;br /&gt;Katanya, melalui seminar ini diharapkan nantinya timbul kesadaran bersama pada komunitas pendidik untuk menggali lagi kearifan-kearifan lokal yang menonjolkan nilai-nilai budi pekerti, untuk selanjutnya bisa disusun sebagai acuan bersama dalam penyusunan kurikulum di sekolah dasar dan menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Indonesia sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai macam etnis sangat kaya dengan kearifan-kearifan lokal, yang seharusnya bisa digali untuk diteruskan kepada generasi penerus bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia percaya dengan memperkaya diri dengan kesadaran akan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam kearifan-kearifan lokal itu, nantinya anak-anak muda bangsa ini akan semakin mempunyai pegangan dalam memasuki dunia intelektual ilmu pengetahuan, dan pergaulan dunia. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;yoe/pur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4344650712486802173?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4344650712486802173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/forum-pemerhati-pendidikan-yogya-gelar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4344650712486802173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4344650712486802173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/forum-pemerhati-pendidikan-yogya-gelar.html' title='Forum Pemerhati Pendidikan Yogya Gelar Seminar Budi Pekerti'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-371071314151607619</id><published>2009-11-30T16:17:00.009+07:00</published><updated>2009-11-30T20:37:11.362+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Depag Selenggarakan Program Dual Mode System</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Kamis, 15 Oktober 2009 pukul 14:36:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Dalam rangka menuntaskan sertifikasi bagi para guru di lingkungan Departemen Agama, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyelenggarakan program dual mode system agar para guru memperoleh peningkatan kualifikasi sarjana strata satu (S1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan program darurat. Begitu sertifikasi tuntas, maka program langsung tutup," kata Dirjen Pendidikan Islam Prof Dr Mohammad Ali dalam siaran pers, saat meluncurkan program Dual Mode System untuk para guru di lingkungan Depag Jakarta, Kamis (15/10). Diharapkan, katanya, sertifikasi guru di Depag dapat dituntaskan pada tahun 2014.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dirjen Pendis, program ini untuk membantu guru-guru yang belum berkualifikasi S1, karena itu bukan sebagai program permanen. Pasalnya, program pendidikan tarbiyah sudah cukup, apalagi jumlah mahasiswa pendidikan agama Islam mencapai 350 ribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, dalam pelaksanaan program ini perguruan tinggi agama Islam negeri (PTAIN) yang ditetapkan sebagai penyelenggara tidak boleh secara langsung merekrut mahasiswa, namun melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui tangan- tangannya baik di Kanwil maupun Kandepag. Penetapan PTAIN sebagai pelaksana program bertujuan agar ada jaminan kualitas bahwa program ini terselenggara dengan baik dan tepat sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu mahasiswa peserta program menggunakan modul Belajar Jarak Jauh. "BBJ ini tidak sama dengan kelas jauh. Kalau kelasa jauh kuliah asal-asalan, bahkan tidak pernah kuliah, tiba-tiba ujian, ini pelacuran sama dengan sampah perguruan tinggi," urai Ali. Selain dengan modul, mahasiswa juga diharuskan kuliah tatap muka dengan dosennya di titik-titik yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ali, BBJ dibolehkan sesuai undang-undang, tetapi baru perguruan tinggi terbatas misalnya Universitas Terbuka. "Jadi kita harus urus izin, tapi pemerintah tidak sembarang urus ijin," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2009 ini, kuota peserta pada Direktorat Pendidikan Tinggi Islam seluruhnya berjumlah 10.000, terdiri dari 8.217 guru madrasah ibtidaiyah dan 1.783 guru pendidikan agama pada sekolah (PAIS) sekolah dasar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-371071314151607619?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/371071314151607619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/depag-selenggarakan-program-dual-mode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/371071314151607619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/371071314151607619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/depag-selenggarakan-program-dual-mode.html' title='Depag Selenggarakan Program Dual Mode System'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-1074215799799308183</id><published>2009-11-30T16:13:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:16:39.479+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Agama Islam'/><title type='text'>Penjaminan Mutu UIN Suka Yogyakarta Diakui Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 12 Oktober 2009 pukul 17:19:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YOGYAKARTA -- Penjaminan mutu yang telah dilaksanakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta telah diakui dunia. Hal ini ditandai dengan diserahkan sertifikat ISO 9001:2008 dari TUV Rhinland Jerman. Sertifikat diterima Rektor UIN Suka, Prof Dr HM Amin Abdullah dalam Rapat Senat Terbuka dalam rangka mensyukuri kelahiran UIN Suka ke 58 di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Sedang untuk menambah wawasan para dosen dan mahasiswa pascasarjana UIN, serta mempertahankan mutu dosen sesuai ISO, Senin (12/10), dilakukan Kuliah Umum yang diisi oleh Grand Mufti Suriah Syech Ahmad Badr al-Din Hassoun. Dalam kesempatan tersebut Hassoun membahas tentang pemahaman makna Islam yang rahmatan lil 'alamin. Islam bertuhan satu yakni Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan syari'at yang dibawa para Nabi dan Rosul berbeda-beda tergantung kebutuhan zaman di kehidupan Nabi atau Rosul pada waktu itu. Syari'at yang di bawa Nabi Adam, Ibrahim, Nuh, Isa, Musa, Muhammad dan sebagainya berlainan. Sampai sekarang penafsiran terhadap Alquran dan al-Hadist tetap berbeda-beda. Bahkan terkadang bertentangan dalam menafsirkan. Misal, Sunni dan Syiah saja sudah sangat berbeda dalam menafsirkan Alquran dan al-Hadist.&lt;br /&gt;Terkait dengan ISO, Amin Abdullah menjelaskan bahwa UIN Suka sudah melaksanakan penjaminan mutu selama tiga tahun. Hasil kerja keras ini telah berhasil mendapat pengakuan pihak eksternal.&lt;br /&gt;''Setelah melalui proses evaluasi yang panjang, perbaikan dan penyempurnaan, akhirnya tujuh fakultas: Adab, Dakwah, Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin, Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, serta Pusat Administrasi Universitas berhasil mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 dari Lembaga Internasional TUV Rheinland Jerman,'' kata Amin Adullah bangga.&lt;br /&gt;Namun Amin masih berharap agar dalam waktu singkat Program Pascasarjana, Unit Pelayanan Teknis (UPT), Perpustakaan, Labotorium Terpadu dan Pusat Bahasa, Budaya dan Agama memperoleh sertifikasi yang sama. ''Ini sebagai kado ulang tahun UIN ke 58,'' katanya.&lt;br /&gt;Penyerahan sertifikat, lanjut Amin, bukan puncak implementasi dari penjaminan mutu. Namun merupakan momentum awal dan penting untuk tetap committed kepada kualitas dalam memberikan layanan pendidikan. ''Kita harus semakin baik memberikan layanan kepada mahasiswa kita, mereka adalah main customer,'' tandasnya.&lt;br /&gt;Prestasi ini, kata Amin, diperoleh dengan kerja keras semua pihak dan biaya yang tidak sedikit. Serangkaian kegiatan yang menguras energi telah dilakukan sehingga diperoleh sertifikat ISO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diperolehnya sertifikat ISO ini, perbaikan penjaminan mutu UIN Suka tidak boleh berhenti. Namun harus terus dilakukan atau continuous improvment dengan menjalankan prosedur, plan, do, check and action (PDCA).&lt;br /&gt;Di bagian lain, Hassoun yang pernah mendapat Doktor Kehormatan dari UIN Suka ini menambahkan penafsiran syari'at yang berbeda-beda ini sampai menyebabkan pertentangan keras. Bahkan sampai terjadi pertumpahan darah membuat non Muslim menganggap Islam itu picik. Padahal yang picik adalah para penganutnya, bukan nilai-nilai Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;Karena itu, pemeluk Islam diharapkan, meskipun berbeda-beda dalam syari'at, hendaknya mempunyai pemaknaan yang sama tentang rahmatan lil 'alamin. Bahwa Islam itu membawa rahmat bagi seluruh alam yaitu alam manusia (dengan berbagai macam agama dan jalan hidupnya), alam malaikat, alam jin, alam binatang, alam tumbuh-tumbuhan dan keseluruhan ciptaan Illahi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hep/pur &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-1074215799799308183?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/1074215799799308183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/penjaminan-mutu-uin-suka-yogyakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1074215799799308183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/1074215799799308183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/penjaminan-mutu-uin-suka-yogyakarta.html' title='Penjaminan Mutu UIN Suka Yogyakarta Diakui Dunia'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-9206715509892828635</id><published>2009-11-30T16:10:00.004+07:00</published><updated>2009-11-30T16:13:30.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Lima Daerah di Jabar Masukkan Kurikulum Ekonomi Syariah di SMP - SMA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Kamis, 24 September 2009 pukul 12:52:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Di antara sejumlah daerah di Indonesia, Tasikmalaya menjadi salah satu daerah yang memasukkan ekonomi syariah sebagai mata pelajaran muatan lokal di tingkat SMP dan Madrasah Tsanawiyah sejak tiga tahun lalu. Langkah tersebut pun akan diikuti oleh daerah lainnya di Jawa Barat (Jabar).&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Agustianto, mengatakan lima wilayah yang memiliki wacana untuk menerapkan kurikulum ekonomi syariah di tingkat SMP dan SMA, yaitu kabupaten dan kota Cirebon, Kuningan, Indramayu, dan Majalengka. Hal tersebut terungkap saat terselenggara lokakarya kurikulum ekonomi syariah beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyusun kurikulum Ikatan Ahli Ekonomi Islam dan Masyarakat Ekonomi Syariah pun turut membantu. “Setelah lebaran ini akan ada workshop lagi dengan para praktisi pendidikan di sana, baik kepala sekolah maupun guru ekonomi. Serta diikuti juga oleh dinas pendidikan terkait,” kata Agustianto, Kamis (24/9).&lt;br /&gt;Agustianto menambahkan, para praktisi pendidikan di wilayah tersebut melihat sejumlah bank syariah juga banyak bermunculan membuka kantor cabang di daerah, karenanya sumber daya insani syariah berkualitas juga dibutuhkan di daerah-daerah. Salah satu cara adalah dengan menyediakan kurikulum ekonomi syariah di sekolah-sekolah sehingga pemahaman akan ekonomi syariah dapat ditanamkan sejak dini.&lt;br /&gt;Agustianto mengatakan selama ini penyiapan SDM syariah lebih banyak difokuskan di tingkat perguruan tinggi, padahal permintaan mengenai pendidikan di jenjang SMP dan SMA juga banyak. “IAEI akan mendekati Departemen Pendidikan Nasional supaya ekonomi syariah nantinya dapat dimasukkan dalam kurikulum pendidikan seluruh SMP dan SMA,” ujar Agustianto.&lt;br /&gt;Dalam kurikulum pendidikan ekonomi syariah tingkat SMP dan SMA, jelas Agustianto, hal-hal yang dibahas seperti keuangan makro dan mikro, konsumsi, akad, fatwa, dan sejarah seputar ekonomi syariah.&lt;br /&gt;Selain di SMP dan SMA, tambah Agustianto, daerah Cirebon juga tertarik mengembangkan ekonomi syariah ke SMK, terutama tentang perbankan syariah. Ia menambahkan, setidaknya ada tujuh bank syariah yang mempunyai kantor cabang di Cirebon, sehingga fokus akan ditujukan pada perbankan syariah.&lt;br /&gt;Sebelumnya Depdiknas telah menyetujui Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia untuk membuka program studi ekonomi Islam. Depdiknas pun memberi kepercayaan pada IAEI untuk memberikan rekomendasi bagi perguruan tinggi yang ingin membuka program studi ekonomi Islam. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;gie/eye&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-9206715509892828635?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/9206715509892828635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/lima-daerah-di-jabar-masukkan-kurikulum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/9206715509892828635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/9206715509892828635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/lima-daerah-di-jabar-masukkan-kurikulum.html' title='Lima Daerah di Jabar Masukkan Kurikulum Ekonomi Syariah di SMP - SMA'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-6935324843858185689</id><published>2009-11-30T16:04:00.005+07:00</published><updated>2009-11-30T20:41:29.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Profesi Guru , Terpanggil atau Terpaksa ?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rabu, 16 September 2009 pukul 15:19:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Pendidik atau pengajar atau guru merupakan subyek yang paling bertanggungjawab dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun sudah menjadi rahasia umum, kualitas guru di Indonesia hingga saat ini belum begitu merata.&lt;br /&gt;Pertanyaan pun lantas kerap digulirkan. Menjadi guru, apakah karena terpanggil atau terpaksa, apakah karena terpilih atau tak ada pilihan? Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu bisa dibaca dalam buku karya M Gorky Sembiring, 'Mengungkap Rahasia dan Tips Manjur: Menjadi Guru Sejati', terbitan Galangpress Yogyakarta 2009.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gorky yang juga Pembantu Rektor IV Universitas Terbuka (UT),  jika dibandingkan dengan keluarga dan masyarakat, guru merupakan sosok yang paling dipercaya siswa dalam konteks keilmuwan. Oleh karena itu, lanjut dia, seorang guru harus selalu mengembangkan ilmunya.&lt;br /&gt;''Sehingga guru perlu memiliki strategi-strategi jitu untuk menyiasati agar siswa senang dalam belajar dan tidak merasa tertekan,'' ujar Gorky dalam acara seminar dan bedah buku 'Menjadi Guru: Terpanggil atau Terpaksa, Terpilih atau Tak Ada Pilihan', akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;Jika guru berhasil menjadi penggerak suasana KBM, kata Gorky, siswa tidak akan muak dalam belajar. Pencapaian hasil belajar seperti kognitif, afektif, dan psikomotor pun akan lebih maksimal. ''Ini karena tak ada guru yang menginginkan KBM yang dikelolanya gagal tanpa hasil,'' jelasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;eye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-6935324843858185689?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/6935324843858185689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/profesi-guru-terpanggil-atau-terpaksa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6935324843858185689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/6935324843858185689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/profesi-guru-terpanggil-atau-terpaksa.html' title='Profesi Guru , Terpanggil atau Terpaksa ?'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-2916668276316503712</id><published>2009-11-30T16:00:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T16:03:52.796+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>2010, Tunjangan Profesi Guru PNS Dibayar Melalui Bupati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 31 Agustus 2009 pukul 19:19:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OGAN ILIR---Mulai tahun 2010 tunjangan profesi untuk guru pegawai negeri sipil (PNS) bagi yang sertifikasinya telah selesai periode tahun 2007 dan 2008,  tunjangan profesi akan digabungkan dengan gaji bulanan dan dibayarkan langsung melalui bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada dialog bersama para pemangku pendidikan di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, Senin (31/8/). ''Pak Bupati yang membayar. Jadi langsung di dalam gaji sudah termasuk tunjangan profesi,'' ujar Mendiknas dalam siaran persnya, Senin.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagi yang lulus sertifikatnya tahun 2009 masih dibayarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) langsung ke rekening. ''Hanya yang tahun terakhir saja dibayarkan oleh Depdiknas. Ketika diyakinkan betul bahwa gurunya dan namanya betul, bahwa dia sudah S1, sudah lulus sertifikasi, sudah tidak ada kesalahan lagi, maka kemudian dia menjadi permanen. Tunjangan permanen melekat pada gaji,'' jamin  Mendiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas menyampaikan, sertifikasi profesi hanya diperuntukkan bagi guru dan bukan ditujukan bagi kepala sekolah maupun pengawas sekolah. Namun demikian, kata Mendiknas, karena untuk menjadi kepala sekolah adalah harus seorang guru maka dia harus bersertifikat. "Sertifikasi itu adalah untuk guru bukan untuk kepala sekolah. Tidak ada sertifikasi kepala sekolah dan tidak ada sertifikasi pengawas. Yang ada sertifikasi guru,'' jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiknas menjelaskan, kepala sekolah wajib mengajar minimal enam jam jika ingin mendapatkan tunjangan profesi. Sementara bagi pengawas, kata Mendiknas, kalau dia seorang guru maka dia harus bersertifikat. "Kalau ada pengawas yang bukan guru maka tidak perlu ikut sertifikasi dan tidak perlu ikut menikmati tunjangan profesi," tegasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-2916668276316503712?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/2916668276316503712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/2010-tunjangan-profesi-guru-pns-dibayar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2916668276316503712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/2916668276316503712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/2010-tunjangan-profesi-guru-pns-dibayar.html' title='2010, Tunjangan Profesi Guru PNS Dibayar Melalui Bupati'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-4665009753599225210</id><published>2009-11-30T15:57:00.003+07:00</published><updated>2009-11-30T16:00:33.880+07:00</updated><title type='text'>Kecerdasan Akademik Bukan Jaminan Sukses</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Jumat, 21 Agustus 2009 pukul 17:23:00&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MALANG-–Kecerdasan secara akademik ternyata bukan satu-satunya alat meraih sukses. Bahkan itu  dianggap tidak menjamin akan bisa mengantarkan anak meraih hidup seperti yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian semacam itu diungkapkan seorang model dan motivator ternama dari Jakarta, Cicilia Nina Triana, di hadapan ratusan pelajar SMAN 3 Malang, Jumat (21/8). Menurut dia, untuk meraih sukses itu, "Tidak cukup hanya dengan pintar dan juara kelas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, bahwa yang tidak kalah pnting dalam meraih sukses di kehidupan nyata itu adalah channeling, networking, dan relationship yang kuat. Makanya, dia menyarankan agar selama masih di SMA mencari teman sebanyak-banyaknya dan membangun jaringan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga diungkapkan pengusaha properti asal Surabaya, Muhammad Ilyas. Putera pengusaha kenamaan di Surabaya, H Sukri, ini menjelaskan bahwa untuk meraih sukses harus dirintis sejak di bangku sekolah. Alasannya, sukses dalam bidang apa pun, termasuk usaha, tidak secara otomatis turun dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengutarakan, kendati dari keluarga pengusaha bukan jaminan bisa jadi pengusaha sukses. Untuk itu, paparnya, harus berjuang ektrakeras untuk mempersiapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog Alexander yang juga alumni SMAN 3 Malang memberikan pernyataan senada. Penulis buku  laris ini menegaskan, bahwa soft skill juga sangat menentukan. "tu harus dipersiapkan sejak di bangku sekolah," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dia mengimbau agar tidak ragu memilih cita-cita dan meraih mimpi. Sebab, menurut dia, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi justru kelabakan saat ditanya soal cita-citanya. "Makanya, tetapkan cita-cita itu sejak dini dan pupuk hingga meraihnya," tuturnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;aji/rif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-4665009753599225210?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/4665009753599225210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/kecerdasan-akademik-bukan-jaminan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4665009753599225210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/4665009753599225210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/kecerdasan-akademik-bukan-jaminan.html' title='Kecerdasan Akademik Bukan Jaminan Sukses'/><author><name>Abdul Aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09785876270429254417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ZLdH6aJGBOo/Sm6ruzPM7CI/AAAAAAAAAAM/Cq3eUZsHj3Y/S220/EDIT+iHSAN.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6127366269209786462.post-3267056467872192967</id><published>2009-11-30T15:52:00.002+07:00</published><updated>2009-11-30T15:55:58.565+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kemampuan Guru Mengadopsi Inovasi Masih Lemah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Jumat, 07 Agustus 2009 pukul 14:05:00 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--Upaya peningkatan kemampuan profesionalitas guru telah dilakukan melalui berbagai strategi meskipun hasilnya belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya kemampuan guru mengadopsi inovasi dan komitmen profesional guru.&lt;br /&gt;''Guru yang profesional berkewajiban untuk merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang bermutu, dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Hal ini menuntut guru untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,'' ujar Rektor Universitas Terbuka (UT) Tian Belawati dalam 'Temu Ilmiah Nasional Guru', di kampus UT, Jumat (7/8).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tian, selama ini guru kurang bisa melakukan inovasi karena biasanya setelah mengajar, sebagian guru masih harus menghidupi keluarganya dengan melakukan pekerjaan lain. Namun, lanjut dia, saat ini setelah pemerintah memberlakukan sertifikasi guru, kesejahteraan guru kian membaik. ''Sehingga diharapkan setelah pulang sekolah guru masih bisa melakukan inovasi di bidangnya sendiri,'' jelasnya.&lt;br /&gt;Selain persoalan kesejahteraan, kata Tian, dalam diri seorang guru harus ada kesadaran, ketertarikan, suka ujicoba, evaluasi, dan melakukan adopsi. ''Setelah mengalami perbaikan kesejahteraan, guru saat ini harus memfokuskan diri untuk melakukan pengembangan sesuai bidangnya,'' tegasnya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;eye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6127366269209786462-3267056467872192967?l=islamblogku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamblogku.blogspot.com/feeds/3267056467872192967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamblogku.blogspot.com/2009/11/kemampuan-guru-mengadopsi-inovasi-masih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3267056467872192967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6127366269209786462/posts/default/3267056467872192967'/><link rel='alternate' type='text/html' h
